Tarian Perjamuan Walikota

1423 Words
­ Hari ini adalah hari ulang tahun kota Surabaya . Nanda sebagai pengusaha muda mendapat undangan kehormatan untuk duduk di kursi VIP. Namun, ada hal yang aneh dan berbeda. Dia bukan menggandeng Ayu sebagai partner, tapi Arlita yang terlihat sangat cantik dan memesona dengan gaun malam dan perhiasan yang mahal. Tentunya, semua itu disiapkan oleh Nanda, kekasihnya. “Nan, makasih ya! Kamu masih ajak aku ke perjamuan ini. Aku bahagia banget!” ucap Arlita sambil menyandarkan kelapanya di pundak Nanda. Nanda tersenyum menanggapi ucapan Arlita. Baginya, lebih bahagia membawa Arlita daripada harus pergi bersama istrinya. Sebab, rumah tangga mereka tidak pernah harmonis dan ia enggan berdebat dengan istrinya. Toh, Ayu juga tidak akan tahu kalau Nanda pergi ke perjamuan walikota bersama kekasihnya. Andai tahu, istrinya itu juga tidak akan berani berbuat apa-apa. “Baiklah ... saatnya kita memasuki acara ramah-tamah. Para undangan diperkenankan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Kami akan mempersembahkan sebuah tarian romantis yang sangat terkenal di negeri ini. Tarian Rama-Shinta yang akan dibawakan oleh saudara Enggar Prakasa Dierjaningrat dari keraton kesultanan Jogjakarta dan Raden Roro Ayu Rizky Prameswari dari keraton kesultanan Surakarta. Pasangan yang sangat serasi untuk menghibur semua masyarakat yang ada di sini. Selamat menikmati ...!” seru Master of Ceremony yang membawakan acara tersebut. Nanda langsung bangkit dari kursi begitu ia mendengar nama lengkap istrinya disebut oleh MC. Matanya langsung tertuju ke atas panggung. Dan benar saja, Roro Ayu muncul dari belakang panggung bersama seorang pria dengan pakaian dan riasan khas Rama-Shinta. “Nan, Ayu lagi hamil muda ‘kan? Dia masih nari-nari gitu? Bukannya kamu bilang, dia nggak pernah keluar rumah? Kenapa bisa ngisi acara di sini?” tanya Arlita yang ikut berdiri di samping Nanda. “Diam!” sahut Nanda sambil terus memperhatikan tubuh Ayu yang begitu molek menari di atas panggung bersama dengan seorang pria. Hatinya tiba-tiba memanas saat keduanya terlihat sangat mesra. Terlebih, pria duetnya itu bertelanjang d^da. Selain tampan dan memukau, pria itu juga keturunan bangsawan, sama seperti istrinya. “Pasangan dari keluarga bangsawan ini memang mengagumkan. Kalau mereka benar-benar menikah, akan menghasilkan bibit keturunan yang bagus,” celetuk seorang pria paruh baya yang duduk tak jauh dari Nanda. Nanda langsung menyeringai dan melangkah pergi dari tempat tersebut. Ia sangat kesal karena Ayu diam-diam masih melakukan tari-tarian tradisional di belakangnya dan keluar dari rumah tanpa izin darinya. “Nan, mau ke mana?” tanya Arlita. Ia langsung mengejar langkah Nanda. Nanda terus melangkahkan kakinya menuju ke backstage. “Maaf, Mas ...! Selain tim kami, tidak ada yang boleh masuk ke dalam backstage.” Seorang pria bertubuh tegap langsung menghadang langkah Nanda. “Aku mau ketemu istriku!” seru Nanda kesal. “Istri? Siapa?” tanya pria itu lagi. “Roro Ayu. Yang lagi nari di panggung itu,” jawab Nanda. “Mbak Roro sudah menikah?” tanya pria itu pada tim lainnya. Orang yang ditanya langsung menggelengkan kepala. “Ini ada orang yang ngaku-ngaku jadi suaminya,” tutur pria itu lagi. Seorang wanita langsung ikut menghampiri Nanda dan memperhatikan pria itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Setahu aku Mbak Roro belum menikah. Lagipula, tunangan dia ‘kan Dokter Sonny. Bukan orang ini.” Nanda gelagapan mendengar ucapan wanita itu. Pernikahan ia dan Roro Ayu memang dibuat tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga saja. Tidak banyak yang mengetahui tentang pernikahan mereka. Terlebih, teman-teman Roro Ayu yang tidak banyak ia kenal. Pria yang ada di hadapan Nanda langsung tersenyum sinis. “Ada aja orang ngaku-ngaku jadi suaminya. Ckckck. Silakan pergi dari sini, Mas!” “Heh, aku ini memang suaminya Ayu. Panggil dia ke sini kalau nggak percaya!” seru Nanda saat suara alunan musik di panggung sudah hilang dan tarian yang ditarikan istrinya itu sudah usai. “Nggak usah bikin kekacauan di sini! Kalau masih ngotot, kami akan laporkan Anda ke pihak keamanan!” ancam pria yang ada di hadapan Nanda. Nanda melebarkan kelopak matanya saat manik mata itu menangkap bayangan tubuh Ayu bersama Enggar yang baru saja turun dari panggung dan terlihat berbincang intim. “RORO AYU ...!” teriaknya. Ayu menoleh sejenak ke arah Nanda dan Arlita yang juga ada di belakang pria itu, kemudian mengalihkan pandangannya kembali dan berbincang dengan Enggar. “Mbak Roro, ada cowok di luar yang ngaku-ngaku sebagai suami Mbak Roro. Beneran suaminya?” tanya salah seorang wanita yang mengenakan baju khas tim panitia sambil menghampiri Ayu. Ayu menggeleng. “Aku nggak kenal. Mungkin cuma penggemar yang pura-pura.” “Baiklah. Biar saya urus!” Ayu mengangguk. “Makasih ...!” Ia langsung melangkah pergi ke meja rias. “Mbak, tarian selanjutnya Cendrawasih, ya?” tanya Ayu pada tim make-up dan wardrobe. “Iya, Mbak Roro. Masih bisa istirahat, kok. Masih diselingi dua tarian lagi.” “Oh. Oke.” Ayu langsung duduk di kursi yang kosong dan beristirahat di sana bersama Enggar. Di luar pintu, Nanda masih saja berusaha meminta panitia untuk mempertemukan ia dan istrinya. “Maaf, Mas ...! Kata Mbak Roro, dia tidak kenal dengan sampeyan? Silakan pergi dari sini!” tutur seorang tim panitia sambil menatap Nanda. “Nggak kenal?” Nanda melebarkan kelopak matanya. Amarah di d^danya semakin menjadi-jadi begitu mendengar kalau Roro tidak mengakui keberadaan dirinya. “Nan, sudahlah. Nggak perlu kayak gini! Dia juga sengaja nggak mau ngakuin kamu sebagai suaminya. Lebih baik, kita nikmati saja pesta ini,” pinta Arlita sambil merangkul lengan Nanda. Nanda langsung menepiskan tangan Arlita dan mendorong pria yang menghalanginya. Ia sangat kesal dengan sikap Ayu yang berusaha memancing amarahnya. “Mas, jangan masuk ...!” teriak pria itu dan semua orang langsung tertuju pada Nanda yang sedang berjalan cepat menghampiri Ayu. “Ayu ...!” Nanda langsung menarik pergelangan tangan Ayu dan menyeret wanita itu keluar dari sana. Ayu melebarkan kelopak matanya. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Nanda. “Kamu siapa?” “Kamu nggak mau ngakui aku sebagai suamimu, hah!?” seru Nanda sambil menatap wajah Ayu. “Memangnya kamu mau mengakui aku sebagai istrimu?” sahut Ayu tak mau kalah. Nanda menyeringai kesal dan kembali menyeret tangan Ayu dengan kasar. “Mas, jangan memperlakukan wanita dengan kasar seperti ini!” Enggar langsung menghadang tubuh Nanda. “Kamu siapa? Ini urusan rumah tangga kami! Orang luar nggak usah ikut campur!” seru Nanda kesal. “Yang kami tahu, Roro Ayu belum menikah,” tutur Enggar santai sambil menatap Nanda. Nanda langsung menatap wajah Ayu. “Bilang jujur ke mereka! Aku siapa kamu!?” sentaknya. Ayu menarik napas perlahan sambil memejamkan mata melihat sikap Nanda yang selalu saja berapi-api dalam menghadapi sesuatu. Ia benar-benar tidak menyangka jika akan mendapatkans seorang suami yang kasar seperti ini. “Kami semua tahu siapa tunangannya Ayu. Ayu nggak mungkin punya suami yang bad attitude kayak gini!” ucap Enggar sambil menatap Nanda. “Dia memang suamiku, Mas!” ucap Ayu lirih. Enggar menaikkan kedua alisnya. “Beneran suamimu?” Ayu mengangguk kecil sambil menggigit bibir bawahnya. “Kapan kamu nikah, Yu?” tanya Enggar lagi. “Nggak penting kapan kami nikah! Karena aku suaminya, aku berhak bawa istriku pulang!” sahut Nanda sambil menarik lengan Ayu dan membawanya keluar dari backstage tersebut. Semua mata langsung tertuju pada Nanda yang mengenakan setelan jas rapi berwarna biru metalic dan Roro Ayu yang terlihat kontras dengan pakaian tradisional ala tokoh Shinta dalam pewayangan Ramayana. Nanda langsung meminta Ayu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Arlita begitu saja. “Nan, aku masih ada satu tarian lagi. Kamu mau bawa aku pergi dari sini?” tanya Ayu. Nanda menghela napas sambil menyalakan mesin mobilnya. “Kamu pergi nari nggak izin sama suami? Nggak menghargai keberadaanku, Ay?” “Aku sudah bilang. Kamu yang gak pernah menghiraukan ucapanku karena sibuk sama selingkuhan kamu terus,” sahut Ayu dingin. “Arlita itu bukan selingkuhan!” sahut Nanda. “Apa namanya kalau bukan selingkuhan? Kamu sudah beristri dan pacaran sama dia juga?” “Kamu juga pacaran sama Sonny. Why?” sahut Nanda. “Aku sudah putus sama Sonny sejak aku nikah sama kamu. Tapi kamu ...? Setiap hari, kamu masih aja jalan Arlita. Makan malam, clubing, sarapan bareng dia, makan siang bareng dia. Bahkan kamu bawa dia ke setiap acara perjamuan? Yang istrimu itu aku atau dia?” Sahut Ayu kesal. Nanda menarik napas dalam-dalam sambil menahan emosinya. “Kamu tahu, aku nggak pernah cinta sama kamu dan nggak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi!” “Sama. Aku juga! Aku nggak pernah menginginkan pernikahan ini. Punya suami br3ngsek kayak kamu, malapetaka buat aku!” seru Ayu sambil berusaha membuka pintu mobil dan keluar dari sana. “Berani keluar?” seru Nanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD