Aruna baru saja akan merebahkan tubuhnya ketika dia mendengar langkah yang bertubi-tubi mendekat ke arah kamarnya. Diurungkannya niatnya untuk berbaring dan kembali duduk di tepi tempat tidurnya. “Apakah itu Calvin?” batin Aruna sambil kedua netranya terus melihat ke arah pintu kamarnya, menantikan seseorang membuka pintu yang ada di depannya. Aruna melihat gagang pintu kamarnya berputar. Tidak lama kemudian, seseorang masuk ke dalam ruangan itu. “Kamu belum tidur?” Suara khas bariton pria terdengar. Aruna menghelakan napas lega. Ketakutannya sirna sekejap. “Baru saja mau tidur,” jawab Aruna. “Bagaimana dengan mualnya?” tanya Calvin lagi. “Sudah lebih baik.” Calvin membuka dasi yang melingkar di lehernya dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu dengan cepat

