Aruna berdandan di depan cermin. Semakin hari wajahnya terlihat semakin pucat. Tekanan bertubi-tubi membuat Aruna merasa semakin sering pusing. Nyeri di perutnya pun mulai kembali datang. Semalam mual itu juga terus menerornya. “Keenan benar, penyakit itu akan menguasai tubuhku dengan lebih cepat,” gumam Aruna sambil memoleskan blush on berwarna pink di pipinya agar menyamarkan wajahnya yang pucat. Aruna mengkoreksi penampilannya sekali lagi di depan cermin. Namun tiba-tiba nyeri perutnya kembali datang. Aruna meringkuk di tepi meja riasnya. Aruna meringis sambil terus memegangi perutnya. Keringat dingin mulai mengembun di sekitar wajah dan lehernya. Aruna berusaha untuk tenang dan mengendalikan rasa sakitnya. Beberapa kali Aruna menarik napas dan mengeluarkannya sambil gemetar. Suara

