Ikan Piranha Mungil

1156 Words
    Kalau yang dibilang orang, pelukan adalah obat mujarab bagi wanita. Mungkin itu ada benarnya, barangkali. Adjie masih diam sembari tubuhnya setengah terlempar-lempar akibat pukulan Alma yang sekarang penuh energi karena saking kesal dan emosinya.   “Kau jahat sekali! Keterlaluan!” jerit Alma masih saja bertenaga memukuli d**a Adjie.   Adjie masih bungkam, tak bisa dibilang bahwa dirinya menerima begitu saja namun dia merasa tak paham apa sih yang dipusingkan oleh Alma?   Grep!   Dia mencekal kedua pergelangan tangan Alma dengan satu tangannya. Lantas segera mendekap tubuh Alma dan membawanya ke dalam pelukannya.   “Lepas!” Alma masih saja memberontak.   Dia benar-benar marah sejadi-jadinya, dipermalukan oleh pria rendahan seperti Adjie ini. Napasnya memburu dan terdengar kencang.   “Maafkan aku, jika kamu merasa tertekan karenanya. Aku juga tak mau berada di sini dan kebingungan, kumohon kamu mau bersabar sampai aku bisa kembali ke duniaku,” bisik Adjie penuh dengan rasa sesalnya.   “Setidaknya kau bisa untuk membela istrimu yang pengkor ini bukan?!” desis Alma yang akhirnya tak lagi memberontak. Dadanya penuh sesak seiring dengan tangan Adjie yang mengusap-usap punggungnya, berusaha untuk meredam amarah wanita itu.   “Maaf.”   Satu kata yang mampu melesak masuk ke relung hatinya sampai rasa kesalnya reda sendiri.   “Aku tidak akan mempermalukanmu lagi, aku berjanji.” Kembali Adjie menambahkan kata-kata menenagkan untuk istrinya, Alma.   Alma diam, setidaknya Adjie berusaha untuk mengerti. Dia menghembuskan napasnya panjang dan perlahan, semakin meredam kesalnya sampai hilang seluruhnya.   “Lepaskan aku, kita harus bertemu Ayahku,” ketus Alma menutupi ekspresi wajahnya sendiri dengan wajah ketusnya.   “Ini ruangannya bukan?” Adjie meneliti sekelilingnya.   “Ya, aku baru sadar, hari ini Ayah bertemu dengan para pemegang saham. Ayo,” ajak Alma segera bergegas keluar dari ruangan direktur.   Menurut Adjie, raja di sini terlalu hebat. Bagaimana tidak, yang ditempati Indro bukan hanya satu ruangan saja, melainkan beberapa ruangan!   “Ini, kadang-kadang Ayah akan berada di sini saat menerima tamu,” tutur Alma.   Tangan cantik nan terawat milik wanita itu pun terangkat, membuka pintu yang sebelumnya dia mengetuk terlebih dahulu.   Tok … tok … tok!   “Ayah,” sapanya sambil melongokkan kepalanya.   Indro tersenyum senang mendapati kehadiran putrinya. Dia segera mengakhiri pertemuannya itu dengan tamunya.   “Sepertinya kita memang harus menyudahinya ya? Pengantin baru ini sudah datang,” celetuk kolega Indro.   Indro tersenyum bangga, “iya, terima kasih. Maaf ya jadi berhenti. Saya tidak bisa menolak jika putri kesayangan saya sudah datang ke perusahaan.”   Lagaknya terlihat bak mencintai Alma. Alma hanya memutar bola matanya saja, jengah. Bisa-bisanya Ayahnya memperlakukannya seperti anak lima tahun.   Alma pun menyeret Adjie masuk. Ketika berpapasan dengan tamu Ayahnya, dia tersenyum dan sedikit mengangguk untuk menunjukkan tata krama yang dimilikinya.   “Halo Om, apa kabar?” tanyanya berbasa-basi.   “Ah, baik, baik. Wah pengantin baru bahagia sekali ya?”   “Iya nih, permisi ya Om.”   Alma sedikit menimpali ucapan entah siapa namanya. Banyak kolega-kolega bisnis yang lumayan jarang dia lihat.   Indro tersenyum senang melihat kehadiran Adjie dan Alma. Namun, kembali dia melihat tingkah Adjie yang absurd. Pria itu memandangi sekelilingnya dan tiba-tiba berbalik, menuju akuarium besar yang menjadi hiasan di ruangan ini.   Matanya memandangi ikan mas koki yang berperut buncit, terkesan mengandung namun tak pernah melahirkan itu. Wajahnya semringah dan memandang takjub pada akuarium besar itu.   Tangannya terbentang, mencoba mengukur panjang akuarium itu. Lantas dia segera menempelkan wajahnya agar bisa melihat lebih dekat lagi pada ikan-ikan yang panik karena mendapati pemandangan monster di dinding kolam. Semua segera berbelok mendadak, menjauhi wajah Adjie yang menempel.   “Wah, Alma! Lihat? Keren sekali! Kamu benar!” seru Adjie.   Alma bingung dan Indro lebih bingung. Bukankah Agam memang penjual ikan? Kenapa terkaget-kaget begitu?   Adjie masih saja berusaha untuk menarik perhatian ikan mas yang terus menjauh ketika telunjuknya mengikuti sang ikan.   Setelahnya, dia kembali menegakkan tubuhnya, dia berkata pada Indro, “Bapak betulan punya kolam beracun ya?!” tanyanya girang. Matanya memandangi semburan-semburan udara yang dihasilkan dari selang di dalam kolam. Pikirnya itu adalah racun yang disebar dari sana.   Sontak membuat Indro tercengang mendengarnya.   “WAh, Pak! Penuh sekali kolamnya dengan pirana juga.”   Lagi-lagi Indro dibuat mengernyit hebat oleh sang menantu.   Alma ingin sekali menyemburkan tawanya, dia baru ingat bahwa dirinya berkata begitu pada Adjie hanya untuk membuat Adjie takut. Tak menyangka Adjie kembali berkelakuan konyol lagi.   “Apa Bapak sengaja melihara ikan ini? Pasti untuk melindungi dari musuh kan? Kata Alm--hmp … hmp--”   Alma segera menginjak kaki Adjie, berharap Adjie menyadarinya.   Alma segera membekap mulut Adjie sebelum pria itu berbicara semakin melantur. Adjie sendiri terkejut dan merasa nyeri di ujung kakinya. Heels yang dipakai Alma benar-benar tajam, dia berharap kalau kakinya tak akan bengkak. Harapannya sih begitu, hanya saja dia ingin menangis juga merasakan kakinya nyut-nyutan.   Alma melotot tajam, seketika Adjie bungkam, tak lagi memberontak.   ‘Aku salah apa lagi sih, Tuhan.” Adjie membatin.   Tanpa sadar bahwa kelakuan sepasang pengantin baru itu justru menjadi tontonan menghibur bagi Dennis, Kakak Alma.   “Hahaha! Bisa-bisanya kamu jadi SSTI (suami-suami takut istri), sih?” Tawa Dennis pecah sampai terbahak-bahak, dia memegangi perutnya.   Bukan apa-apa. Dia tak berniat menguping, hanya saja masuk ke ruangan Ayahnya dia jarang mengetuk pintu dan selonong boy seperti biasanya.   Dennis tentu saja memperhatikan cara mereka berinteraksi, dia ternganga dibuatnya. Benar-benar suami adiknya itu amazing dan suprising! Alaminya tak dibuat-buat, pemirsa!   Alma semakin melotot tajam, tak habis pikir kakaknya akan berkomentar juga. “Kakak belum pernah merasakan sandal ku melayang ya?!” desis Alma mengancam.     Dia segera melepas bekapannya di mulut Adjie.   Dennis dia, dia tahu kalau adiknya itu terlalu galak sampai-sampai sulit didekati.   “Adjie, apakah kamu tak mau bercerai darinya? Lihat saja, kau baru saja menjadi suaminya sudah babak belur begitu. Mau saja kau menikahi nenek lampir ini,” kelakar Dennis.   Adjie masih diam, merasakan kakinya berdenyut nyeri saja membuatnya urung untuk berbicara. Salah kata bisa jadi bukan kakinya saja yang diinjak.   “Gam, kau tahu tidak cerita si piranha itu?” Dennis malah memancing rasa keingintahuan adik iparnya itu.   “Wah, ada?”   “Ada! Jadi kenapa kami pelihara ikan piranha itu karena … kau coba lihat perutnya!”   Adjie melakukan perintah sang kakak ipar. Dia mengamatinya.   “Kau tahu apa yang ada di dalam perutnya?”   Adjie sontak menggeleng.   “Itu adalah … cacing-cacing hidup yang sengaja kami berikan. Agar nanti … saat kami butuh pertolongan, mereka akan menggigit dan mengeluarkan cacing-cacing itu ke dalam tubuh yang digigitnya!”   Adjie merinding seketika, mempercayai cerita Dennis.   “Kamu jangan percaya pria gendeng itu! Dia hanya bercanda,” sela Alma mencoba menenangkan wajah Adjie yang pias.   “Bagaimana … kamu tidak akan menaruh ikannya padaku kan?”   “Kau gila! Mana ada ikan itu akan menggigitmu sih?!”   “Tapi Dennis bilang begitu.”   “Jangan percaya dia, kau ini!”   “Alma, bagaimana nanti kalau tiba-tiba cacing itu keluar dari ….”   Diam-diam Dennis merekam perdebatan adiknya dan juga adik iparnya. Dia mengirimkannya pada Maretam, kawannya. Dan menulis satu pesan.    ‘Lihat! Adik iparku ini memang ada yang salah dengan sarafnya. Dia benar-benar autis!’  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD