“Bu saya—“ “Masih pusing?” Puspa tertegun. Sembari berjalan mengekori langkah Anita menuju lounge di pinggir pantai, kepala Puspa sibuk merangkai penjelasan walau entah sebenarnya itu perlu atau tidak karena sepertinya Anita sudah tahu banyak. Atau mungkin bahkan semuanya. “Saya tanya kenapa kamu masih pusing nggak? Masih mual nggak?” Anita bertanya lagi karena Puspa masih gagu, bingung harus bersikap bagaimana untuk meningkahi sikap kelewat santai Anita seolah beberapa menit lalu tidak terjadi apa-apa. Puspa menelan ludah serat. “Sudah enggak, Bu,” jawabnya pelan. Kalau boleh jujur, Puspa malu sekali berada di hadapan Anita saat ini. Sebab Anita telah melihat sisi diri Puspa yang tidak ingin ia tunjukkan ke siapapun, tidak ada siapapun yang boleh melihatnya. Yaitu saat harga diri

