Mama

1342 Words
Aku membereskan buku-buku yang akan dibawa ke sekolah. Kali ini pr sudah aku selesaikan dengan baik. Tidak ada yang disisakan, soalnya ini pr bahasa Inggris pelajaran favoritku. Terkadang Wendy malah menyontekku untuk pelajaran yang satu ini. "Sayang ... ayo makan dulu, mama bawa sate nih." Panggilan makan dari mama yang baru saja pulang kerja. Paling tidak ada yang memanggilku 'sayang', walau bukan pacar. Mamaku orangtua tunggal setelah lebih dua tahun yang lalu papa meninggal karena serangan jantung. Ketika itu aku sedang persiapan ujian kelulusan dari SMP. Aku mempunyai kakak laki-laki namanya Dimas. Dia sekarang kuliah di Malang dan sudah mau selesai. Umurku beda empat tahun dengan bang Dimas. Mamaku bekerja di perusahaan ekspor Impor yang cukup besar sebagai manajer keuangan. Posisi yang bagus dan membuat kehidupan kami cukup lumayan walau tanpa support papa lagi . Walaupun begitu, kehidupan kami cukup sederhana karena kata mama harus berhemat dan menabung untuk kuliahku nanti hingga selesai. Mama ingin aku menjadi dokter sebenarnya, tapi setelah kami berdiskusi lagi tahun lalu, sepertinya aku kurang berminat untuk profesi itu. Aku lebih suka seperti bidang komunikasi atau hubungan internasional, dan mama menyerahkan seluruh keputusan kepadaku asalkan maksimal dan menjadi yang terbaik. "Sate Barokah jalan Radio ya ma?" tanyaku ketika melihat sate yang coklat tua dan mengkilat karena minyak ayam hasil pembakaran dan sangat menggoda selera itu. "Iya, tadi mama ada urusan ke Notaris di Jalan radio, mama tadi sudah makan di sana sama teman kantor, ini mama bungkusin buat kamu aja dek." "Makasih ma." "Bagaimana sekolah dek? Nggak ada masalah kan?" "Aman ma, besok ada tes minat bakat aja buat menentukan jurusan kuliah." "Nggak berasa ya anak mama udah mau kuliah. Mudah-mudahan dapet yang terbaik ya," harap mamaku. "Aamiin ... aku sih maunya di Jakarta aja atau di Bandung paling jauh. Tapi kalo sampe ke Jawa Tengah atau Jawa Timur aku nggak mau. Nanti mama sendirian, karena kalau jauh aku pasti jarang pulang. Kalo Bandung kan masih deket." "Jangan dipikirin, kamu bebas mau kuliah di mana saja, InsyaAllah abang selesai kuliahnya akhir tahun ini, jadi dia bisa pulang dan menemani mama. Toh nanti S2 mama berharap kamu bisa diluar negeri, malah itu nanti lebih jauh lagi. Kamu tuh harus memikirkan masa depan kamu harus lebih baik dari mama." "Mama nggak berminat menikah lagi? Biar ada temennya." "Nggak." "Kenapa?" "Ya nggak kepengen aja." "Kalo ada yang naksir mama gimana?" Mama tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Emang kamu mau punya papa tiri?" "Ya kenapa nggak kalo dia baik dan bisa nemenin mama sampai tua nanti, lihat deh sekarang abang jauh, nanti kalo kerja juga belum tentu di Jakarta. Aku nanti nggak tau akan kuliah di mana, bisa disini bisa juga di lain kota. Seharusnya Mama punya teman berbagi. Aku rasa papa juga ikhlas ma." Mama menghela nafas. "Mama sekarang fokus sama abang dan kamu aja dek. Mama hanya meneruskan kehidupan dengan mengantarkan kalian sampe jadi orang sukses dalam karir dan mendapatkan jodoh yang baik, mama kan masih ada kesibukan dan nggak akan melamun karena kesepian. Jodoh buat kamu aja deh, mama udah sama papa berjodohnya." "Iisshh, jodohku masih jauuuh ma ... lulus sma aja belum," bantahku. "Jodoh, rezeki, maut itu kita nggak pernah tahu jauh dekatnya, kita hanya perlu bersiap menerima kedatangannya, ya mama juga nggak berharap kamu ketemu jodoh sekarang lah, cepet tua mama nanti hehe ... kalo kamu udah umur 23 trus sudah lulus S 1, boleh lah mama berharap." "Semoga sesuai harapan mama," ucapku pelan sambil mencicil melahap setiap tusuk sate. "Aamiin, tapi apa sekarang kamu nggak punya temen deket?" "Ada ... Wendy, Nandi juga lumayan deket." aku menjawab sambil nyengir. "Bukan itu maksud mama, biasanya kan sma itu lagi masa tebar pesona dan menerima pesona.. ya buat lucu-lucuan gitu deh." "Nggak ada, aku sih ada suka sama satu orang tapi dia udah punya pacar. Dan sepertinya dia juga nggak suka sama aku. Aku juga sukanya diem-diem aja ma." "Oowh secret admire ceritanya? Hm ... seru banget itu dek, nggak apa-apa jadi penggemar rahasia kan deg-degan gimanaa gitu lihat dia. Tapi mungkin bisa sambil di doain ... siapa tau nanti jadi jodoh kamu." Mama malah kelihatan excited banget. "Aamiin... ," sahutku cepat. "Ganteng nggak orangnya Dek?" Mama mulai kepo. "Kalo nggak ganteng mah nggak usah ngefans ma, apalagi diem-diem gitu, rugi amat." "Wah pinter banget kamu nyari cowok dek ... sama kayak mama sukanya yang ganteng kayak Papa." "Anak siapa dulu doong ha..ha." "Mana lihat fotonya" pinta Mama. Aku memperlihatkan foto-foto Owie yang aku candid dari samping dan belakang waktu di kelas. "Namanya siapa dek?" "Owie Narendra ma." "Orang mana tuh, Jawa apa Sunda?" "Aku nggak tahu ma, nggak pernah nanya ... lagian nggak berani juga. Dia pendiam gitu, ngomong aja seperlunya." "Hmm walau nggak keliatan dari depan, tapi keliatan ganteng banget ya dek. Tinggi besar kayak papa juga ya, sama-sama putih lagi. Kamu nggak nyari yang emang mirip papa kan dek?" "Iya sih sekilas mirip papa, tapi beda kok ma ... cuma pembawaannya mirip, tenang gitu orangnya. Bikin penasaran." "Mama dulu suka sama papa kan karena pendiam, kalem dan nyenengin gitu. kalo berdua sama mama, papa tuh jadi orang yang beda, suka cerita, suka ngobrol sementara sama temen-temennya dia jadi cowok pendiam kayak introvert gitu. Sayangnya jodoh kami hanya dua puluh tahun ya. Semoga papa nungguin mama di Surga." Tiba-tiba aku merasa sedih mendengar ucapan mama. "Kita doain papa ya ma ... semoga nanti suatu hari kita semua akan ketemu lagi." "Iya dek... nanti kalo sudah waktunya mama pergi, mama mau disatukan makamnya sama papa ya, biar melengkapi sehidup semati." "Mama jangan ngomong gitu dong, aku jadi sedih nih." Aku menghindari pembicaraan yang bikin aku sedih seperti ini. "O ya ma, bulan depan aku mewakili kelas untuk nyanyi diacara angkatan, di villa temen di Puncak, trus kamis besok aku mulai latihan sama pemain gitarnya," "Pemain gitarnya panggil orang luar atau teman sekolah juga dek?" tanya mama. "Temen sekelasku juga sih ma, hmm ... cowok yang aku suka ini," ucapku malu-malu. "Oalaahh ... cowok idaman yang mendampingi, duh sweet banget sih dek. berbunga-bunga doong?" tanya mama sambil terkekeh. "Ya ampun ma, udah hampir tiga tahun aku suka sama dia baru ini ada kesempatan bisa kegiatan bareng, ya senenglah walau hitungan bulan kami juga sudah akan perpisahan." "Ya nggak apa-apa lah asal kamu jangan patah hati aja dek ... kan dia udah punya pacar, buat senang-senang ajalah bisa sama-sama dia walau di detik-detik akhir kelulusan." "Iya ma, Wendy juga bilang begitu, aku tahu diri juga kok ... dia kan pacar orang, mana pacarnya cantik lagi dan terkenal di sekolahku." "Eh anak mama juga cantik lho ... nggak dandan aja cantik begini, apalagi kalo sudah tahu dandan, nggak ngedip kali tuh cowok." "Emak memang selalu belain anaknya yaa.... hidup mama!" Aku mengepalkan tangan dan mengangkat keatas. Mama tertawa. "Ya iyalah, siapa lagi yang ngebelain anak kalo nggak mamanya tapi bukan berarti mama nyuruh ngerebut pacar orang ya dek .. jodoh indah pada waktunya." "Iya .. Iya .. aku juga nggak berniat ngerebut pacar orang kok." "Nah yang penting kamu nggak berniat dek, ya udah, senang-senang aja kalo gitu." "Pastilah aku bawa senang ajaa, O iya ma, karena aku mulai latihannya Kamis besok, rencananya pulang sekolah aku langsung ke rumah Owie dan mungkin sampe sore. Nanti pulangnya aku naik ojol aja." "Iya boleh, tapi kabarin mama ya, mama suka lupa juga soalnya. Kamu mau nyanyi apa?" "Belum pilih lagu sih .. nanti kamis baru di diskusikan." "Nanti mau pake kostum seperti apa? Mama beliin." "Nggak usah beli baru ma, pake yang ada aja." "Nggak apa-apa mama beliin yang baru biar penampilan kamu jadi sempurna. Suara udah keren banget.. masa pake baju biasa-biasa aja." "Terserah mama aja deh." "Nanti seminggu sebelum acara kita belanja, semoga nanti sukses acaranya. Ya udah ... abis makan rapih kan mejanya ya, mama mau mandi dulu trus istirahat. Capek banget hari ini." "Mama mau aku pijit nggak?" "Nggak usah sayang, mama udah ngantuk banget." "Ok ma, selamat tidur." Aaah senangnya mengingat aku akan selalu bersama Owie untuk beberapa saat. Semoga saja kebersamaan nanti bisa jadi kenang-kenangan untukku dimasa yang akan datang. Setidaknya masa sma ku sempat bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD