44

1161 Words

Masa remaja Biya... Kara dan Kenan masih berduka, kepergian Ben yang tiba - tiba begitu mengguncang semua keluarga. Biya tidak ikut berkumpul, gadis dengan jeans robek dan kemeja kebesaran itu hanya duduk di ujung kasur menghadap keluar jendela. Langit mendung, seperti akan hujan. Pintu berderit, menandakan ada seseorang yang masuk. Biya tidak bergerak, masih nyaman melamun. Biya tersadar saat pandangannya berubah menjadi sosok yang selama ini mengganggunya. "Minum dulu Bi.." Rafa memberikan gelas berisi air di tangannya pada Biya. Biya beranjak dari duduknya lalu perlahan memeluk Rafa, mengabaikan gelas itu. Rafa tentu saja kaget, Biya itu paling anti kontak fisik. Bersentuhan tangan saja risih. Dengan ragu dan takut Rafa membalas pelukan Biya yang kini terisak di dadanya. Demi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD