Bab 4 - First time. First pain. I wanna die.

1715 Words
Tiga hari setelah pertemuan itu, keduanya bertemu kembali. Dalam ruangan itu, telah hadir seorang pria perlente yang ternyata merupakan pengacara. Pria berkebangsaan asing itu memiliki muka yang dingin dan tanpa ekspresi. Matanya yang berwarna coklat tua menyorot tajam, dan bibirnya berwarna merah. Rosy sama sekali tidak pernah bertemu dengan pria pengacara itu sebelumnya di pengadilan. Seberapa banyak tim pengacara yang dimiliki oleh Damian Bale? Tampaknya pria asing itu tidak memahami bahasa karena sepanjang memberikan penjelasan, ia mempergunakan bahasa Inggris dengan logat Italia yang terdengar kental. "Dengan begini, kalian berdua telah menjadi pasangan suami-isteri. Jika ada hal-hal yang masih belum jelas, silahkan Anda berdua menghubungi saya kembali." Selesai memberikan penjelasan dan proses penandatangan dokumen dilakukan, pengacara Damian Bale membereskan berkas yang ada di atas meja. Pandangannya terarah pada pasangan pengantin baru di depannya, dan tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya. Ia hanya menatap mereka melalui mata coklatnya dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Masih tanpa ekspresi, pengacara itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada atasan yang berekspresi sama. Kali ini, dia benar-benar mempergunakan bahasa Italia ketika berbicara. "Tuan Bale, apakah ada yang masih Anda butuhkan dari saya?" Damian menatap isteri barunya dan seulas senyum mengerikan terbentuk di bibirnya. Raut dinginnya kembali terlihat saat berpaling dan menjawab pertanyaan bawahannya, dengan menggunakan bahasa yang sama. "Tidak. Apakah Paul sudah mempersiapkan semuanya?" Sang pengacara menganggukkan kepalanya sekali dengan kaku. "Paul sudah menyiapkan kamar pengantin di hotel B. Anda berdua tinggal datang kesana dan menikmati malam pengantin." Informasi itu diucapkan dengan monoton dan tanpa perasaan. Seolah-olah mereka sedang membahas suatu perjanjian bisnis dan bukan pernikahan antar dua orang manusia. "Privacy dan keamanannya?" "Tuan tidak perlu khawatir. Paul sudah memastikan bahwa tidak akan ada yang tahu kalau Anda berdua menginap disana. Dan telah ada beberapa orang yang berjaga di sekitar lokasi tanpa ketara. Mereka akan menginformasikan bila memang ada yang mencurigakan." "Bagus." Kedua pria itu bercakap-cakap sebentar dengan bahasa yang tidak dimengerti Rosy. Beberapa kali terlihat ekspresi mereka berdua yang tampak aneh, seperti sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Wanita itu menelan ludahnya. Ia tidak salah mengambil keputusan, kan? Setelah puas bertukar informasi, Damian langsung menarik tangan Rosy yang masih terduduk. Tubuh perempuan itu oleng dan menabrak tubuh keras suaminya. Tanpa kelembutan, pria itu mendorongnya kembali untuk menegakkan tubuhnya. Suara beratnya terdengar serak saat berbicara pada bawahannya. "Beritahu Paul untuk siap di parkiran." Pasangan baru itu dan sang pengacara akhirnya keluar ruangan, serta berjalan menuju ke arah yang berlawanan. Pasangan pengantin itu pun bergegas menuju lift dan langsung keluar di pelataran parkir. Mereka saat ini berada di gedung perkantoran yang baru jadi. Gedung itu tidak besar, tapi cukup megah dan terlihat mahal. Tangan suami barunya mencengkeram dengan erat pergelangan Rosy, seperti memastikan kalau wanita itu tidak akan bisa kabur dari genggamannya. Sambil berjalan menuju sebuah sedan mewah yang sudah menunggu, pria itu menoleh pada isterinya. "Kau tidak membawa mobil, kan?" Tanpa memandang suaminya, wanita itu menggeleng. "Saya tidak membawanya. Sesuai instruksi Anda." "Bagus." Sampai di depan mobil, Damian membuka pintu penumpang dan mendorong pengantinnya untuk masuk ke dalam dengan cukup kasar. Ia kemudian duduk di samping wanita itu. Pria itu menolehkan kepalanya ke belakang, seperti mengamati sesuatu. Kepalanya berpaling lagi pada orang yang ada di depan dan mengucapkan intruksi dengan bahasa Inggris. "Paul, kita langsung ke hotel B." Pria yang dipanggil Paul mengangguk dan menatap atasannya dari spion. Sama seperti Damian, mukanya datar dan hanya menatap sekilas wanta yang telah menjadi isteri bosnya. "Baik Tuan." Perjalanan singkat itu terasa amat panjang bagi Rosy. Hati dan benaknya serasa diaduk-aduk, dan sama sekali belum mampu mencerna yang sedang terjadi. Ia tidak mampu berfikir, dan hanya melakukan sesuai yang diinstruksikan padanya. Kedua matanya kosong menatap pemandangan di luar jendela. Sampai di tujuan, pria yang telah menjadi suaminya kembali menarik tangannya dengan cara yang kasar. Rosy yakin, pergelangan tangannya akan membiru keesokan harinya. Damian tampak tergesa-gesa mengarahkan mereka ke kamar yang telah dipesannya. Dan setelah berhasil membuka pintunya, pria itu menghempaskan Rosy ke tempat tidur besar yang telah dihias sedemikian rupa untuk menyambut pengantin baru. Sama sekali tidak memberikan kesempatan pada pengantinnya untuk menikmati status barunya. Deru nafas pria itu terdengar pendek-pendek dan suaranya lebih berat dibanding biasanya. Mukanya sedikit memerah. "Berlutut." Mendengar perintah itu, Rosy menutup rapat kedua matanya yang basah. Ia sangat tahu apa yang akan terjadi. Menelan ludahnya kasar, ia menumpukan kedua lututnya di lantai karpet. Dalam hati, merutuki nasibnya yang harus mendapatkan suami seperti orang di depannya ini. Terdengar suara resliting dan ikat pinggang yang dibuka, membuat tubuh wanita itu bergetar. Tidak lama, ia merasakan kepalanya ditengadahkan. Rambutnya sedikit ditarik. Otomatis tangannya mencari pegangan pada paha pria di depannya, yang terasa keras di telapakannya. "Buka mulutmu." Gemetar, wanita itu membuka mulutnya dan ia langsung dibungkam kembali dengan sebuah benda berukuran cukup besar yang sekarang memenuhi mulutnya. "Egh..." Rosy menutup erat matanya dan dapat merasakan air matanya mulai mengalir di pipinya. Nafasnya terasa sesak karena ukuran benda itu, dan perilaku pria di atasnya yang sama sekali tidak lembut pada isterinya. Hatinya berontak. Harga dirinya terinjak. Ia merasa ingin m*ti. Entah berapa lama siksaan itu terjadi, sampai akhirnya Damian menggeram berat dan Rosy merasakan semburan cairan hangat di dalam mulutnya. Ia merasakan dorongan ingin muntah ketika cairan itu perlahan menuruni tenggorakannya. Dan semakin mencengkeram kedua paha pria itu yang terasa berkontraksi di genggamannya. "Telan... Telan..." Tangan pria itu masih mencengkeram rambutnya dan memaksanya untuk menelan cairan yang disemburkannya, sampai tetes terakhir. Setelah puas, Damian menghempaskan kepala isterinya dan menatapnya buas. Tubuh pria itu tampak gemetar. Senjatanya masih berdiri dengan sempurna, untuk wanita di depannya. Lelaki itu meraih lengan Rosy dan mengarahkannya kasar ke tempat tidur. Damian membuka bajunya tergesa. Melihat isterinya masih terdiam dan menutup mata, lelaki itu memberi instruksi dengan suaranya yang berat dan serak. "Buka bajumu. Kita masuk ronde kedua, love." Gemetar, Rosy membuka baju dan membuang pandangan ke samping. Ia pun berbaring, dan memejamkan matanya saat menyadari suaminya mulai mendekatinya. Tubuh pria itu terasa sangat panas ketika menyentuhnya. Kedua matanya terpejam erat selama suaminya menikmati tubuhnya dengan rakus. Ia sama sekali tidak mau melihat tampang pria di atasnya dan kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Rosy menjerit saat rasa nyeri menjalar dari bagian bawah tubuhnya. Orang ini telah mengambil mahkotanya dengan kasar. Rosy merasakan keinginan untuk m*ti yang kuat. Ia telah disiksa lahir-batin oleh pria bernama Damian Bale. Sepanjang sore pria itu mengg*gahinya dan pertama kalinya Rosy merasakan berhubungan, ia mengalaminya dengan cara yang sangat tidak menyenangkan. Saat akhirnya siksaan itu berhenti, barulah ia membuka matanya. Tubuhnya remuk dan sakit. Tapi hatinya jauh lebih sakit, membuat air matanya turun mengalir deras di pipinya. Apa dosa yang telah dilakukannya, sampai harus berada dalam situasi mengerikan seperti ini? Rosy menoleh dan melihat orang itu telah tertidur tenang di sampingnya. Posisinya tengkurap dan terlihat bahunya yang telanjang dari bawah selimut. Rautnya tampak puas dan ada sedikit senyuman di bibirnya yang tipis. Bagaimana dia dapat tersenyum di atas penderitaan orang lain? Memandang langit-langit di atasnya, Rosy teringat kata-kata kedua wanita di toilet dulu. Mungkin memang benar, pria ini adalah orang yang sangat jahat dan ia adalah wanita tidak beruntung yang harus menjadi isterinya. Air matanya mengalir kembali di pipinya. Dengan tertatih-tatih, Rosy bangkit dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Sesampainya di sana, ia menatap bayangannya di cermin. Sosok di depannya tidak dikenalinya lagi. Wajahnya pucat dan pandangannya kosong. Seluruh tubuhnya penuh bercak merah yang mulai membiru. Terlihat bekas cengkeraman dan c*uman hampir di seluruh area d*da, perut dan juga p*hanya. Kedua pergelangannya pun memar. Pemandangan ini membuatnya mual dan tanpa bisa ditahan, ia pun akhirnya memuntahkan sisa sarapannya tadi pagi ke dalam kloset. Beberapa saat, Rosy hanya bisa menelungkupkan kepalanya di sana sampai rasa mualnya mereda. Merangkak karena tidak kuat bangun, ia menyalakan keran shower dan menyetel suhunya panas. Ia meringkuk di lantai dan membiarkan siraman kuat membasuh seluruh tubuhnya. Ia hanya ingin membersihkan tubuhnya dari bekas-bekas sentuhan pria yang menjamahnya. Ia sangat tahu dan sadar, kalau kejadian sore ini hanyalah permulaan dari siksaan pria itu. Rosy semakin menggulung tubuhnya seperti bola. Betapa ia ingin m*ti. Ia hanya ingin m*ti dan akan m*ti, jika tidak mengingat nasib adiknya yang sangat bergantung padanya. Kedua tangan mungilnya mengepal erat di d*danya yang sesak. Ia menangis pilu. Keempat dinding kamar mandi menjadi saksi bisu, ketika seorang wanita yang baru menjadi pengantin seharusnya berbahagia di hari pernikahannya. Tapi, yang sedang meringkuk di lantai kamar mandi hanya bisa merasakan, bahwa hari ini adalah hari kem*tiannya. Ia hanya bisa menangis, dan menangisi nasibnya yang tidak beruntung. Hampir dua jam kemudian saat sedang merenung, ia mendapatkan telepon dari Mia yang menanyakan mengenai sisa stock di Cafe. Selang beberapa menit, Rosy menjelaskan detail mengenai yang harus dilakukan. Ia juga mendengarkan laporan update terbaru sebelum kemudian mengakhiri panggilannya. Ia lalu menelepon rumah sakit dan lega saat mengetahui kondisi adiknya telah stabil. Rein juga mendapatkan perawatan yang terbaik berdasarkan instruksi dari pemilik penjara A. Matanya memejam ketika menyadari betapa uang dan kekuasaan, dapat membuat seseorang dengan bebas melakukan apapun yang disukainya. Setelah mematikan ponselnya, ia menatap kosong gedung-gedung pencakar langit dari jendela besar di depannya. Benak Rosy yang sedang kalut, membuatnya mulai berfikir untuk menerjunkan diri ke bawah. Tangannya yang memegang ponsel gemetar. Mereka sekarang sedang berada di lantai 20. Mungkin saja dia tidak langsung m*ti tapi kalau beruntung, tentu nyawanya akan langsung melayang saat tubuhnya menghantam keras lantai beton di bawahnya. Dengan cara yang instan, ia dapat terbebas dari neraka ini. Akal sehat mulai meninggalkan benaknya, yang saat ini penuh dengan amarah dan juga malu. Ia telah menjadi wanita m*rahan, yang rela menukar tubuhnya demi masa depan adiknya. Meski melakukannya dengan sadar, tapi terpaan siksaan tadi siang membuat pikirannya perlahan menggelap dan tertelan dengan rasa putus asa. Ia tidak akan sanggup menjalani kehidupan bersama pria yang hanya menganggapnya sebagai boneka s*ks. Yang kapan pun bisa membuangnya ke jalanan saat sudah merasa bosan. Persis seperti isi perjanjian yang baru ditandatanganinya tadi pagi. Kontrak tanpa batas waktu yang jelas, dan dia pun tidak bisa lepas kecuali pria itu yang melepaskannya. Mungkin ia memang harus m*ti. Mungkin dengan m*ti, baru ia bebas dari segalanya. Menelan ludahnya, perlahan ia melangkahkan kaki mendekati jendela besar di depannya. Salah satu tangannya terangkat dengan gemetar untuk meraih gagang jendela dan berhenti mendadak, ketika terdengar suara berat di belakangnya. "Apa yang kau lakukan?" Tubuh Rosy membeku di tempatnya dan pikirannya sangat kalut, juga marah. Apa yang kulakukan? Aku mau m*ti, br*ngsek!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD