"Tuan Al?" Serigala paling besar itu berubah menjadi wujud manusia lalu berlutut di hadapanku diikuti serigala lainnya.
"Bagaimana kamu tahu namaku?"
"Oh maaf, saya hanya mendengar rumor tentang anda,"
Wah Segawon, sesat ini yang ngasih nama.
"Kau pemimpin mereka? Siapa namamu?" Padahal aku sudah tahu, tapi untuk basa-basi saja. Karena penampilan dia berbeda sendiri, yang lainnya setengah badan bagian bawahnya masih berwujud serigala sedangkan dia seperti manusia seutuhnya.
"Iya tuan, nama saya Segawon. Maafkan kami karena telah menyerang manusia, kami dikendalikan oleh lich (undead penyihir),"
"Aku sudah tau itu, tenang saja, aku tidak akan menyalahkan kalian. Untuk saat ini tenanglah dan tetap di dalam penghalangku, aku akan segera membereskannya." Aku lihat kembali menuju arah undead tadi.
"Baik tuan hati-hatilah,"
Lokasi undead itu tidak berubah, jadi aku tinggal teleport saja ke sana.
Bruuuuushshshs
Saat aku teleport ke sana, asap hijau mengarah kepadaku. Ternyata itu sihir yang langsung dilancarkannya, untung saja penghalangku mampu menghalaunya. Tanpa sungkan aku serang dia namun dihindarinya dengan mudah. Sulit sekali menggunakan serangan dimensi pada lawan yang bergerak.
"Wow mirip hantu beneran, tidak napak di tanah,"
Dia menyerangku sambil terus bergerak, aku hanya bisa bertahan sambil menyerang walau tidak pernah mengenainya. Aku hentikan pergerakannya dengan membuat penghalang di depannya, saat dia menabrak penghalang yang aku buat, langsung aku serang hingga membuatnya terbelah. Aku serang terus-terusan hingga seperti tulang cincang.
"Mampus!" ucapku sedikit kesal. Karena itu bukan makhluk hidup, jadi aku tenang saja saat menyerangnya. Walau sudah terbelah menjadi kecil-kecil, namun potongan tulang itu kembali menyatu.
"Sudah aku duga, hadeh merepotkan." Saat aku ingin menyerangnya lagi, tiba-tiba saja keluar asap hitam di dekatnya. Muncul laki-laki dengan penampilan keren seperti bangsawan Eropa, dengan mata hitam penuh dan ada garis-garis menyilang berwarna merah dari ujung ke ujung. Aura yang dikeluarkan sangat mengerikan, dia hancurkan undead tadi hanya dengan mengibaskan tangannya. Aku sudah bersiap-siap untuk kabur tapi tiba-tiba dia berbicara kepadaku.
"Maafkan anak buah saya yang bertingkah kurang ajar." Sambil berlutut di depanku.
Hah? Kenapa dia minta maaf?
"Kau siapa?" Saat aku lihat status miliknya, energi sihirnya tidak mampu dihitung. Tidak tercantum apapun dari statusnya, hanya ras demon saja yang tercantum.
"Sebaiknya tuan menuju kota sihir Mala. Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Demon itu berbicara dengan cepat dan langsung menghilang begitu saja. Padahal aku belum sempat bertanya lagi kepadanya. Aku masih keringat dingin karena aura yang dipancarkannya. Setelah sedikit tenang, aku segera kembali ke kawanan serigala yang aku kurung tadi. Ternyata mereka sudah dikerumuni oleh warga desa dan terlihat para warga itu marah. Ada yang membawa golok, kampak, bahkan cangkul.
"Bunuh saja!" "Bakar!"
"Woy Robert, apa yang kau lakukan!? Buruan panggil anak muda tadi untuk membunuh para monster ini!" teriak para warga.
"Apa yang terjadi?" Aku mendatangi paman Robert.
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan amarah warga, untung saja ada penghalang ini yang melindungi mereka," Robert.
"Lah, katanya jangan sampai membunuh mereka, kenapa kalian sendiri yang ingin membunuhnya?" tanyaku bingung.
"Maaf, itu permintaan pribadi dari saya." Robert menundukkan kepalanya.
"Hei tuan muda! Kenapa kau tidak membunuh para monster itu?" Salah satu warga yang membawa golok mendatangiku.
"Maaf, kami semua hanya dikendalikan, kami tidak bermaksud melukai manusia," ucap Segawon dari dalam penghalang.
"Maaf bapak-bapak, kepala desa kalian memintaku untuk tidak membunuhnya. Lagi pula, mereka semua dikendalikan oleh Undead, jadi mereka juga termasuk korban." Aku mencoba menenangkan para warga yang marah.
"Buat apa mempercayai perkataan monster itu!? mereka hanya membual agar tidak dibunuh!" seorang warga berteriak kepadaku.
"Aku sendiri yang melihat itu semua dan sudah aku bunuh juga undead itu! Jadi, perkataan mereka itu bukan kebohongan!" Aku naikkan nada bicaraku karena mereka terlihat ngotot.
"Sudah saya bilang untuk tenang kan, apabila para serigala tidak menghuni hutan ini, mungkin akan banyak monster yang akan menyerang desa kita," Robert berbicara dengan tenang.
"Pasti kepala desa dan anak itu bekerjasama dengan monster untuk mengambil keuntungan dari desa kita." Ada profokator yang menunjuk ke arah kami.
"Para serigala berubah lah!" Aku kesal sekali dengan mereka, segera aku pindahkan para warga yang marah tadi di dalam penghalang. Para warga panik mencari jalan untuk melarikan diri. Sesuai perintahku, para serigala yang tadinya masih berwujud manusia, kembali berubah ke wujud serigala.
"Kalau mau membunuh para werewolf itu silahkan saja!" ucapku kesal.
"Tolong selamatkan kami!" Mereka berteriak panik dan berusaha kabur namun terhalang penghalang yang aku buat.
"Diam! Kalian semua berisik! Kalau aku ingin merampas harta kalian, kenapa pula aku harus susah-susah melakukan ini semua? Lihatlah para werewolf itu, bahkan tidak ada yang ingin menyerang kalian," teriakku ke arah mereka.
"Maafkan kami karena telah menyerang desa kalian, kalau diizinkan kami ingin ganti rugi dengan cara membantu kalian, dengan kekuatan kami pasti kalian sangat terbantu," Segawon.
"Baiklah baiklah, kami maafkan,"
"Tolong jangan makan kami,"
Aku lepaskan penghalang di antara mereka dan Robert langsung mendekati Segawon.
"Kembalilah ke wujud manusia!" Aku perintahkan mereka berubah karena saat didekati Robert, mereka semua masih saja dalam bentuk serigala.
"Perkenalkan, saya Robert kepala desa ini. Tepat sekali, kami memasuki musim panen jadi mohon bantuannya." Mengulurkan tangannya.
"Saya Segawon pemimpin kawanan werewolf, tentu saja akan kami bantu sekuatnya." Mereka berdua bersalaman.
"Terima kasih tuan Al atas bantuannya, untuk kesalahpahaman para warga biar saya saja yang mengurusnya,"Robert
"Baiklah, bukankah lebih baik kalian hidup berdampingan,"
"Terima kasih atas idenya, akan saya usahakan agar para warga percaya terhadap mereka." Segera Robert menjelaskan kepada para warga, kami semua kembali ke desa.
....