Setelah aku selesai mandi, kami segera berangkat menggunakan kereta kuda. Walau ini dunia sihir, namun sepertinya lebih maju dari bayanganku. Rumah dengan atap seng, lalu kereta kuda ini, sudah menggunakan ban dari besi dan karet, dilengkapi per seperti truk. Walau sisi kiri dan kanannya hutan lebat, tapi jalanan di sini sudah dikeraskan menggunakan beton semen.
"Sering ada monster yang menyerang pemukiman?" aku bertanya agar tidak bosan karena paman Robert mengendarai dan aku duduk di bagian belakang.
"Biasanya tidak ada, tapi beberapa hari yang lalu kami kehilangan ternak lalu hari berikutnya ada yang memergoki serigala yang mencurinya. Kami takutnya jika para serigala itu sampai menyerang warga lagi," Robert.
"Memangnya tidak bisa kalian usir sendiri? kan hanya serigala,"
"Mau dilawan pun tidak mungkin sanggup, mereka bukan serigala biasa tapi monster tingkat atas,"
"Ehh jadi bukan serigala biasa?" hmm betul juga sih, gurita saja bisa sebesar itu.
"Tentu bukan, ras werewolf, mereka yang dari dulu menjaga hutan ini. Jadi saya mohon jangan sampai membunuh mereka." Dia melihatku sambil tangannya memohon.
"Jadi? Aku harus ngapain?"
"Saya mohon, mereka sudah menjauhkan kami dari para monster, selama ada mereka kami tidak diserang monster lain." Robert melihat ke arahku lagi dengan tatapan memelas.
"Sulit juga, apa kerajaan tidak ada pasukan pembasmi monster atau para petualang seperti itu?"
"Ada, namun mereka bertindak setelah ada laporan,"
"Hmm, aku tidak janji untuk tidak membunuh mereka, tergantung situasi yang akan kita hadapi nanti." Aku menyandarkan kepala di bagian depan karena bingung harus bagaimana.
"Baiklah,"
"Aku tinggal tidur dulu paman, bangunkan kalau hampir sampai." Aku merasa bosan di perjalanan, karena jalannya sudah mulus dan juga cukup nyaman untuk tiduran. Katanya tidak sampai satu jam sudah hampir sampai.
"Wooh luas sekali ladang kedelainya,"
Terlihat dari atas bukit, desa Pontang dengan luas yang melebihi desa nelayan. Desa itu dikelilingi oleh lahan pertanian kedelai sebagai komoditas utama.
"Dulunya desa ini sangat miskin, pajak yang diberikan kerajaan sangat tinggi, banyak yang kelaparan, anak anak banyak yang diculik untuk dijadikan budak. Namun sekitar 35 tahun lalu Raja digulingkan dan wilayah kerajaan ini menjadi bagian dari negara Danirmala," Robert menceritakan sejarah desanya.
"Oh, jadi saat ini sudah diambil alih kerajaan lain?" Aku pindah duduk di samping pak Robert, kusir yang lagi mengendarai kuda.
"Iya, namun kerajaan Lamris tidak dibubarkan, hanya saja di bawah kepemimpinan negara Danirmala. Awalnya pajak dihilangkan, perbudakan dilarang dan dibuatkan pula jalan yang menghubungkan antar desa, lalu kami diajarkan cara bertanam dan beternak,"
"Ehh,
jadi tidak dipungut pajak lagi?" Aku kaget, bagaimana jalannya negara tanpa itu.
"Pada saat itu tidak, namun pajak sekarang lebih tinggi dari saat itu. Tapi karena kondisi kami yang lebih maju, jadi tidak begitu masalah,"
"Luar biasa sekali, siapa pemimpin negara Danirmala?"
"Pada saat itu ada 4 sosok yang dipuja sebagai dewi, beliau Ratu dari masing-masing ras Elf, Druid, Peri dan yang satu lagi rumornya dari ras manusia yang abadi,"
"Abadi? Jadi sudah hidup sangat lama?"
"Saya kurang tahu untuk itu, sedikit sekali informasi tentang beliau, tidak pernah ada yang tahu nama dan wajah beliau semua,"
"Jadi mereka hanya mitos?"
"Bukan, beliau semua benar-benar ada. Beliau muncul hanya disaat saat penting saja dan itu memakai jubah dan topeng." Sambil memperagakan topeng.
"Ohh mereka adalah 4 sosok suci yang dipuja?"
"Sekarang menjadi 6, kabarnya keturunan vampir murni dan naga legendaris,"
"Ehh bagaimana bisa naga?"
"Menurut rumor yang beredar, sebenarnya ada Raja negeri ini namun sama sekali tidak ada yang mengetahui kebenarannya,"
"Lalu apa hubungannya dengan naga?"
"Apabila Naga menjalin kontrak, maka akan berevolusi menyerupai manusia dan bukan orang sembarangan yang bisa melakukannya,"
"Sebentar dulu, kalau setelah dia memimpin, negara ini menjadi lebih maju dengan teknologi yang bisa dibilang modern untuk dunia ini, berarti bisa jadi dia reinkarnator sepertiku," ucapku dalam hati.
"Ohh atas dasar itu bisa di ambil kesimpulan ada Raja di balik layar?"
"Iya seperti itu,"
"Tapi kan bisa jadi para Ratu terdahulu yang melakukan kontrak,"
"Ehh benar juga." Paman Robert melihat ke arahku dan terlihat bingung.
...
"Selamat datang di desa Pontang, mari istirahat dulu di rumah saya." Saat kami sampai, ternyata sudah ada yang menyambut kami.
"Terima kasih banyak,"
Rumah di desa ini tidak berbeda dari desa nelayan, suasana di tengah hutan saja yang menjadi perbedaannya.
"Ini istriku Dita, kau harus merasakan masakannya." Paman Robert memperkenalkan istrinya yang terlihat lebih muda darinya.
"Tuan muda ini yang jadi pahlawan di desa nelayan?" Wanita tadi mendekatiku.
"Iya, aku pun awalnya tidak percaya bahwa dia semuda ini,"
"Bakat yang luar biasa,"
"Saya tidak sehebat itu kok,"
"Kalau begitu mari tuan, sudah saya siapkan hidangan." Mereka menyuruhku untuk segera masuk ke rumah. Setelah masuk ke ruang makan, aku lihat makanan yang sangat tidak asing bagiku.
"Ehhh tempe dan tahu?"
"Iya olahan dari kedelai yang cara pengolahannya diajarkan oleh para Elf yang diutus langsung Ratu Danirmala, bahkan beliau langganan dari desa ini." Dita sambil menyajikan hidangannya.
"Mmm tempe goreng, ahh pas banget ada sambal cabai." Aku lihat ternyata ada juga sambal cabai tersaji di depanku.
"Oh, jadi anda tau cara makannya ya? Warga kami awalnya tidak tahan pedas, namun sekarang kurang lengkap kalau tidak pedas," Robert
"Lebih nikmat memang kalau ada sambal, apalagi kalau dibuat tempe mendoan,"
"Mendoan? Apa itu?" mereka terlihat bingung.
"Gorengan tempe seperti ini, namun dengan irisan lebih tipis dan digoreng tidak terlalu lama jadi tekstur masih lunak,"
"Baiklah akan saya akan mencobanya, silahkan disantap terlebih dahulu." Dita pergi menuju dapur.
Tidak lama kemudian Dita membawa mendoan yang aku bilang tadi.
"Apakah seperti ini?" Sambil menunjukkan hasil gorengannya dan segera aku ambil.
"Mmmm benar sensasi setengah matang ini." Aku mencobanya.
____