[Yang mulia, ada laporan dari kepala desa Pontang bahwa tuan Al sudah berada disana,] seorang cewek dengan pakaian ketat serba hitam dan topeng. Dia adalah pemimpin pasukan ASU di bawah kendali Violet. Dia melapor menggunakan telepati dari hutan desa Pontang.
[Terus saja awasi!] Violet
[Baik Yang Mulia,]
..
[Erin, tuan Al sudah di posisi, kerahkan anak buahmu!] Violet berada di atas pohon yang sangat besar dan tinggi, terlihat hamparan hutan dan lautan yang luas.
[Wokey,] Erin
..
Hutan serigala yang berada di atas pegunungan Goromo. Di bawah pepohonan pinus yang besar-besar ada lapangan luas, di samping itu terlihat ada pemukiman yang mirip perumahan.
"Segawon!" Erin berada di depan pasukan serigala.
"Siap Yang Mulia." Serigala yang paling besar berubah menjadi wujud manusia dan berlutut di depan Erin.
"Lakukan sesuai perintahku, awas kalau tidak dapat!" Erin
"Siap yang mulia,"
"Maaf menyela Yang Mulia, izinkan saya memimpin pasukan ini." Berbeda dari Segawon yang memiliki wujud manusia seutuhnya, dia ini masih memiliki ekor dan telinga serigala.
"Alpha, lalu siapa yang mengawasi pasukanmu? Sudah ada tugasnya masing-masing, Selen saja tetap mau mengawasi dari jauh sebagai pemimpin ASU," Erin memarahinya.
"Baik, maafkan hamba Yang Mulia," Alpha terlihat lesu tapi tetap mematuhi perintah Erin.
"Woy demon labil, bagaimana denganmu?" Erin berteriak ke arah pria yang matanya hitam.
"Tenang saja yang mulia, tugas ini mudah bagi saya." Demon yang bermata hitam dengan garis merah menyilang di matanya. Berbeda dari para serigala yang berlutut, demon ini hanya menundukkan kepalanya dengan tangan berada di dadanya.
"Awas kalau membuat masalah lagi, nanti aku yang kena getahnya. Kalau Al sampai tau, kau pasti akan kena ganjarannya!" Erin lalu menjentikkan jarinya dan membuat gravitasi di sekitar demon itu menjadi sangat berat. Demon tadi tidak kuat menahan gravitasi dan jadi merangkak.
"Baik Yang Mulia, tidak akan saya lakukan kesalahan yang ke-dua kalinya," jawabnya dengan santai.
"Kedua!? Sudah 2 kali kau membuat kesalahan!" Erin mendekatinya sambil mengeluarkan kuku jarinya dan meletakan di dagu demon itu. Demon itu terpaksa mendongak ke arah Erin yang sedang menatapnya dengan mata merah menyala.
"Baik, saya mengerti," jawab demon itu masih dengan santai.
Erin melepaskan sihirnya lalu menjentikkan jari lagi, lingkaran sihir sangat besar mengitari mereka semua.
Casssh cassh cringg
Ternyata sihir teleport berskala area yang digunakannya. Semua orang kecuali Erin dan Alpha sudah dipindahkan menuju hutan desa Pontang.
____
Setelah makan, kami beristirahat sejenak sampai menjelang sore.
"Karena para serigala itu menyerang saat malam hari, untuk saat ini apakah tuan mau saya ajak untuk berkeliling desa?" ajak Robert.
"Tentu saja!" aku iyain saja daripada diam saja di sini, aku merasa canggung kalau berdiam diri tapi tidak di rumah sendiri. Robert mengajakku berkeliling desanya dan menjelaskan bagian desa. Setelah itu, kami menuju pertenakan yang diberi jarak puluhan meter dari desa. Kandang ternak dijadikan satu membentuk bangunan yang panjang.
"Lumayan luas juga ternyata, jadi ternak apa yang kalian punya?"
"Kami memelihara sapi, kambing dan kerbau, mereka sarankan itu karena banyaknya ladang rumput di sekitar sini. Ampas hasil pembuatan tahu juga digunakan sebagai pakan," Robert
Tidak ada bedanya ternak di sini sama dunia asalku. Di samping kandang ada padang rumput yang cukup luas, tepat di pinggir hutan yang lebat.
"Bagus sekali diberi jarak dari pemukiman untuk mencegah gangguan. Ehh tunggu sebentar, bahkan feses pun dimanfaatkan untuk gas rumah tangga?" Aku lihat di belakang kandang ada septic tank dan di atasnya ada bambu untuk menyalurkan gasnya.
"Gas? Itu pasokan sihir untuk menyalakan lampu dan kompor," jawabnya.
"Kok sihir?"
"Iya hasil penguraian dari feses berubah menjadi sihir, begitu pula dengan fosil hewan atau monster yang sudah terurai oleh tanah,"
Lah, jadi kalau di dunia ini fosil tidak berubah jadi minyak bumi namun berubah menjadi sihir.
Tiba-tiba aku merasakan aura sihir yang cukup besar dari arah hutan. Setelah aku lihat, ternyata ada sekelompok serigala yang sedang berbaris di pinggir hutan. Aku gunakan pendeteksi untuk mengetahui berapa jumlah serigala itu, aku dikagetkan oleh energi aneh di atasnya yang berkumpul menuju suatu tempat. Saat aku lihat arah energi itu, ternyata ada yang mengendalikan serigala.
"Ehh hantu tengkorak?" ada tengkorak yang berdiri sambil memegang tongkat, matanya menyala dan menyadari bahwa aku mengintainya.
"Ada apa tuan?" tanya Robert kaget.
"Itu, para serigala ternyata dikendalikan oleh tengkorak." Aku menujuk ke arah hutan.
"Tengkorak? Maksud anda undead?"
"Ohh, jadi ada makhluk seperti itu juga?"
"Kalau sampai bisa mengendalikan kawanan werewolf berarti itu undead tingkat atas,"
"Baiklah aku akan mendekat ke sana, paman Robert di sini saja," lebih baik aku datangi saja daripada mereka datang kemari dan membahayakan warga di sini.
"Berhati-hatilah, saya akan segera beritahu warga untuk membantu." Paman Robert berlari menuju desanya.
Saat teleport di dekat kawanan werewolf itu, aku langsung diserang. Gerakan mereka sangat cepat, aku hanya bisa menghindar menggunakan teleport dan penghalang.
Slash s***h s***h
Serangan dari para serigala silir berganti ke arahku. Untung saja sudah berlatih dengan paman Bob, reflekku sekarang jadi jauh lebih baik.
"Aku di sini mau membantu kalian!" teriakku, nsmun mereka tetap saja menyerangku, untung saja serangan mereka masih bisa aku hindari.
"Auuuuuuuuu," terdengar suara lolongan yang sangat keras, para serigala itu mundur dan muncullah satu serigala yang sangat besar.
Suuuuuut Cetas
Serangan serigala itu sangat cepat mengenai penghalang di depanku, betapa kagetnya aku tiba-tiba saja dia menyerang.
"Woy aku tidak mau menyerang kalian!"
"Lah iya mereka kan monster kenapa aku ajak bicara?" batinku.
Mereka kembali menyerang secara serentak dan lebih cepat. Dengan kecepatan itu, kalau aku tidak memiliki teleport, pasti aku sudah dicabik-cabik nya.
"Sial! Harus aku hilangkan efek kendali sama pemimpinnya itu duluan. Tapi akan sulit kalau menyerang tengkorak itu sebelum mereka lepas. Haduh, mana aku harus menyelesaikan tanpa membunuh para serigala," gerutuku.
Energi sihir yang ada di atas mereka aku serang menggunakan pemotong dimensi, namun tidak berefek sama sekali. Aku teringat dengan sihir penghalangku, lalu aku coba buat penghalang yang mengitari semua kawanan serigala. Padahal niatku hanya mengurung para kawanan serigala, namun ternyata malah membatalkan sihir pengendalinya.
"Tuan Al?"