"Yang mulia Ratu!" Tiba-tiba saja muncul seorang pria dengan pakaian rapi seperti bangsawan Eropa. Seluruh mata pria itu hitam, dengan 2 garis merah menyilang yang bercabang pada setiap ujungnya. Karena tidak menyadari kehadiran pria itu, sang Naga bayang langsung saja melancarkan serangannya ke arah pria itu.
Bruussshh
Angin berhembus sangat kencang karena tendangan sang naga berhasil ditangkis oleh pria itu.
"Siapa kau!? Kenapa bisa masuk kemari!?" Mereka semua terkejut dan segera berdiri sambil mengeluarkan auranya yang sangat besar kecuali Erin sang Ratu Vampir.
"Tenang saja, dia roh panggilan milik Al," ucap sang Ratu Vampir dengan santai dan masih duduk di singgasana. Sang Naga bayang dan para ratu kembali duduk di singgasananya, sedangkan demon itu kembali menundukkan kepalanya.
"Kenapa kami tidak tau sama sekali!? Kamu juga sudah tau kenapa tidak memberitahu kami!?" Nia sang Ratu Peri terlihat marah kepada Erin.
"Bisa masuk kemari tanpa diketahui, berarti memang benar, tapi kenapa bisa menahan serangan Violet!?" Noe sang Ratu Elf melihat ke arah Erin dengan bingung.
"Roh yang berevolusi jadi ras demon? Bukankah seharusnya jadi undead ya?" Noa sang Ratu Es melihat ke arah demon itu sambil memegang dagunya sendiri.
"Memangnya Al mau yang biasa-biasa saja?" Erin.
"Tuan Al telah dibangkitkan kembali!" tanpa basa-basi, demon itu membuat mereka semua terdiam.
"Di mana tuan sekarang!?" Violet sang Naga bayang dengan auranya yang paling besar tiba-tiba saja sudah berada di depan demon itu lagi sambil menarik kerah bajunya.
"Mohon maaf, saya belum mengetahui lokasi Tuan Al," Demon itu masih menundukkan kepala.
"Noe, bagaimana keputusanmu?" Violet melepaskan genggamannya dan melihat ke arah Ratu Elf.
"Sudah jelas! Kerahkan pasukan ASU untuk mencarinya!" Noe segera berdiri lalu menghilang.
____
Kerajaan Buto
Kota raksasa di tengah hutan lebat dan ada bangunan seperti candi besar di tengah-tengahnya.
Wuuuussssh Brukkk
Ada raksasa yang terjun tepat di depan bangunan candi itu. Debu bertebaran, namun anehnya lantai batu yang jadi tempat mendaratnya itu tidak hancur, bahkan tidak retak sedikitpun. Raksasa tadi segera berlari menuju pintu masuk candi, namun pintu masuknya jauh lebih kecil dari badan raksasa itu.
Crrrrtas
Listrik mengalir di tubuh raksasa itu dan langsung berubah menjadi seukuran manusia. Walau di bagian luar terlihat seperti bebatuan candi biasa, namun bagian dalamnya sangat megah.
"Yang mulia Cakil gawat!" Raksasa tadi dengan panik mendekati sang Raja raksasa yang sedang bersantai di singgasana. Raja raksasa memangku kedua Ratunya di singgasana yang tinggi dan besar itu. Tidak hanya para Ratu, namun Rajanya sendiri memakai banyak perhiasan emas.
"Hohoho jangan panik, kalem kalem, jadi ada apa?" Cakil sang Raja Raksasa sambil menenangkan anak buahnya.
"Hamba dapat kabar kalau Raja kegelapan telah bangkit!" Raksasa itu berlutut, melapor kepada Rajanya dengan nafas masih tersengkal-sengkal.
"Haaaa? Aduh aduh bagaimana ini?" Sang Raja berdiri dan mondar-mandir kebingungan.
"Izinkan saya menarik mundur pasukan yang berada di benua Cora,"
"Ya iya mundur saja, nyawa itu mahal harganya. Jangan sampai mati konyol seperti Victor, si vampir bodoh itu hahaha." Raja Raksasa kembali duduk di singgasananya.
"Baik Yang Mulia, saya permisi." Raksasa itu berdiri dan langsung berlari pergi.
____
Gereja suci kota Cahaya
Kota yang indah dengan bangunan Eropa abad pertengahan. Tepat di tengah kota, ada gereja besar yang digunakan sebagai gereja pusat para penganut Dewi Cahaya. Di dalam gereja yang sangat besar itu, berdirilah sang Pendeta cahaya yang bernama Hiu Hiulus. Sang Pendeta memakai jubah putih panjang dengan songkok yang tinggi di kepalanya.
"Tuan!" Seorang laki-laki berjubah serba hitam bahkan tidak terlihat mukanya berlutut di depan Pendeta cahaya.
"Saya mendengar kabar, bahwa Raja kegelapan telah bangkit kembali," ujar pria tersebut.
"Jauhi benua Cora! Fokus saja penaklukkan benua Danirmala," Hiu Hiulus terlihat santai namun tegas.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Pria itu menghilang begitu saja. Setelah bawahannya pergi, Hiu Hiulus langsung lemas lalu duduk.
"Gawat, kenapa iblis itu muncul kembali?"
____
Setelah matahari terbenam, karena masih penasaran dengan sihir, aku melanjutkan latihanku. Untung saja cahaya bulan saat ini sedang bersinar terang.
"Baiklah, aku akan lanjut latihan." Aku berjalan keluar rumah.
"Masih belum menyerah?" Lia mengikutiku.
"Mana mungkin aku menyerah semudah itu,"
"Baiklah, kalau begitu semangat! Aku mau mandi dulu." Lia kembali masuk ke rumah sambil tersenyum ke arahku.
"Terima kasih," jawabku dengan muka memerah karena senyumannya.
"Aduh senyumannya manis sekali, disemangati cewek secantik dia membuat semangatku langsung meluap-luap." batinku bahagia.
....
"Kenapa hanya sihir penafsir saja yang bisa aku gunakan? Ahhhhh membingungkan, apa mungkin mataku ini istimewa?"
"Penglihatan jarak jauh!" Sambil melototkan mataku.
"Wihh berhasil," penglihatan milikku jadi membesar, bahkan semut di tanah sampai terlihat dengan jelas. Setelah itu, aku coba memandangi lautan untuk memastikan seberapa jauh jangkauannya.
"Lebih jauh, lebih jauh, ehh kok awan? Oh iya bumi kan bulat berarti harus dari tempat yang tinggi, andai saja bisa teleport ke atas bukit itu." Saat memandangi atas bukit dan mengimajinasikan diriku berada di sana, tiba-tiba saja aku berpindah di atas bukit itu.
"Seriusan berhasil!? Mantap jiwaa!" Aku memandangi desa nelayan yang berada di bawah bukit lalu memandangi lautan yang luas. Tiba-tiba muncul lagi ide bagus di kepalaku, aku segera melihat ke arah rumah Lia.
"Mata tembus pandang! Penglihatan jarak jauh!"
"Muehehe mari kita lihat Lia sedang apa?" Dengan gabungan dua penglihatan itu, aku bisa melihat dengan jelas Lia yang sedang mandi, bahkan terlihat seperti sedang berada di dalam kamar mandi itu bersama Lia.
"Woohhh, tubuhnya walau masih dalam masa berkembang namun sangat proporsional, kulitnya yang coklat bersih, pinggang ramping, dadanya yang sedang namun bulat dan putingnya berwarna merah muda indah sekali." Aku terpana melihat dia, jelas sekali bahkan saat pertama kali melihatnya, aku sudah jatuh cinta kepada Lia.
"Sudah sudah! Apa yang aku pikirkan!?" Sambil menampar pipiku sendiri, lalu saat aku melihat ke arah lautan, ada gurita besar yang menyerang sebuah kapal.
"Hahh, kenapa gurita sebesar itu!? apa harus aku tolong nelayan itu? Tapi bagaimana? Ahh masa bodoh lah!" Dengan nekat aku berteleport menuju kapal itu.
"Siapa kau? Kenapa tiba-tiba ada di sini?" Para awak kapal itu kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka.
"Awas menyingkir dari sana!" seorang pria dengan pawakan tinggi besar penuh otot berteriak kepadaku. Ternyata monster gurita itu melancarkan serangan ke arahku, aku panik dengan reflek membuat posisi tangan menangkis.
Cetass duas duas
Serangannya tidak mengenaiku, ternyata terbentuk penghalang besar menahan serangan tadi. Tidak berlama-lama, aku segera mencoba teleportasi untuk kapal beserta nelayan itu ke pantai, tak kusangka ternyata berhasil.
"Apa yang terjadi!?" Mereka semua terkejut menyadari sudah berada di garis pantai.
"Maaf, aku pindahkan ke pantai,"
"Bagaimana bisa!?"
"Dengan sihir," aku bingung mau bagaimana menjelaskan kepadanya.
"Terima kasih banyak karena menyelamatkan nyawa kami." Pria besar tadi mendekatiku.
"Tidak apa-apa, aku hanya kebetulan lihat kalian diserang saja,"
"Saya Bob!" Sambil mengulurkan tangannya dan kami bersalaman.
"Saya Al."
"Kau seorang petualang kah?" tanyanya.
"Bukan,"
"Ohh, penyihir yang dikirim kerajaan?"
"Bukan juga,"
"Pokoknya sekarang ikutlah ke rumahku, akan aku masakkan hasil tangkapan kali ini." Sembari menarik tanganku.
"Woy kalian urus kapal! Lalu bawa saja ikannya ke rumahku," paman Bob berteriak kepada anak buahnya.
Apa sudah menjadi tradisi di sini ya, ada orang asing diajak ke rumah.
....
"Apa apaan monster tadi itu?" tanyaku di perjalanan.
"Monster gurita, tidak kami sangka dia berada di sini," ucapnya santai.
"Jadi biasanya tidak ada?"
"Perairan kami selalu aman, bagaimana nasib nelayan di sini apabila monster itu berdiam di sana?"
Saat aku sadari, ternyata kami mengarah ke rumah Lia.
"Ehh anda ayahnya Lia?"
"Ehhh sudah kenal dengan anakku?" Kami berdua sama-sama kaget dan saling pandang beberapa saat.
"Hahaha bisa kebetulan sekali ya," lanjutnya.
Apa yang akan dia lakukan kalau tahu sebelum menyelamatkan dia, aku mengintip anaknya yang sedang mandi. Ya, pertukaran yang impas bagiku, melihat tubuh indah Lia dengan nyawa ayahnya.
"Ayah kenapa di sini? Kenapa bisa bersama Al!?" Lia berada di depan rumah segera mendekati kami, mungkin saja mencariku karena aku tidak ada.
"Banyak yang terjadi, mari masuk dulu!" Paman Bob menarik kami berdua untuk masuk ke dalam rumah.
...