Bruuussshh byuurr
Tiang itu jatuh sampai mengenai air laut, ombak besar terbuat karena hentakannya.
"Kenapa kita di sini?"
"Kita selamat?" Jean, anak buahnya dan beberapa bagian kapalnya berhasil aku pindahkan menuju daratan.
"Woyy! Apa yang kau lakukan!? Gurita tadi sudah terkena seranganku!" Jean berteriak kepadaku yang masih di atas mercusuar.
"Tidak kah kau lihat kondisi kapalmu? Kalau aku diamkan, semua kru kapal termasuk dirimu hanya akan menjadi santapannya!" aku sedikit kesal, bukannya berterima kasih malah menyalahkanku.
"Bersyukurlah Jean karena masih selamat," Bob
"Asssh sial! Jadi bagaimana rencana kalian selanjutnya?" Jean
"Menyerangnya dari atas air sangatlah berbahaya." Paman Bob kemudian turun dari mercusuar.
"Aku punya ide, aku akan pindahkan gurita itu menuju ke daratan, kalian kumpulkan panah besar serangannya tadi dapat melukai .."
"Lahh, kok anak panah yang mengenai gurita tadi tersisa pangkal yang terikat oleh tali saja. Anak panah yang terbuat dari besi tebal seukuran tombak kenapa bisa patah?" batinku, saat aku lihat lagi, ternyata terpotong dengan sempurna. Tidak hanya itu, namun beberapa bagian kapal juga terpotong sempurna.
"Apa karena teleportasi? ohh jadi terpotong karena pergeseran dimensi, bakal jadi sihir serangan yang bagus nih,"
"Al ada apa?" Paman Bob yang sudah berada di bawah jadi bertanya karena aku tidak melanjutkan ucapanku.
"Oh tidak apa-apa paman, saya lanjutkan lagi, jadi kalian menunggunya di daratan. Saat gurita itu aku bawa kemari dan dengan aba-aba dariku, kalian serang secara bersamaan,"
"Ide yang bagus, besok pagi kita lakukan bersama," paman Bob
"Oh iya ada tambahan, aku pinjam kapal buat memancingnya keluar, tenang saja setelah monster itu dikalahkan akan aku ambil kembali kapalnya,"
"Gunakan saja kapalku." Paman Bob menunjuk ke arah kapalnya yang bersandar di pelabuhan.
"Baiklah, akan aku ikuti rencana kalian, aku bantu untuk mengalahkannya karena telah merusakkan kapalku." Jean segera pergi meninggalkan kami.
"Terima kasih Jean,"
....
Esok paginya seperti yang direncanakan, para nelayan itu berkumpul membawa panah besar bahkan golok dan kampak. Aku bariskan mereka pada satu sisi agar tidak salah sasaran.
"Baiklah tunggu di sini, jangan langsung menyerangnya! Tunggu dulu aba-aba dariku." Aku teleportkan kapal tanpa awak tepat di atas gurita itu. Hampir lima menit dia tidak bergerak, lalu aku lempar tong ke laut dan tak lama kemudian dia menampakkan dirinya. Saat muncul di permukaan, segera aku teleport di atas gurita itu dan aku pindahkan dia ke daratan.
"Serang kepalanya!" Sambil berteleport ke belakang penyerang.
Suuut suut dushh dushh suut dush
Anak panah dari para warga bertubi-tubi mengenai kepala gurita itu. Walau telah diserang kepalanya, monster itu masih saja memiliki kekuatan untuk menyerang. Dia lebarkan tentakelnya dan berputar seperti mainan gangsing. Para nelayan yang memegang panah ikut terlempar saat gurita itu memutar badannya. Aku sadar ini kesalahanku, coba saja aku kaitkan ujung tali pada tiang atau benda yang lebih kuat pasti tidak ada warga yang terluka.
Cring cring cring
Tidak aku sangka, paman Bob menggunakan pedang dan dengan cepat dia bisa memotong beberapa tentakel gurita itu.
"Wohh hebat! Muehehe, saatnya mencoba serangan dimensiku, semoga saja berhasil."
Cusss Kraakk ...
Gurita tadi beserta panah besi terpotong secara lurus, namun serangan itu tidak bisa langsung membunuh monster itu. Tentakelnya masih bisa bergerak seperti ekor cicak yang terlepas.
"Woy serangg!" Teriak Jean
Jean dan anak buahnya menggunakan kampak besar untuk memotong tentakel yang bergerak ke arah para warga. Tidak ingin kalah, paman Bob juga menggunakan pedangnya ikut memotong. Saat tentakelnya berhenti bergerak, mereka semua bersorak gembira.
"Beri sorak untuk pahlawan kita Al!" Paman Bob sambil mengangkatku.
"Nanti malam mari membuat pesta kemenangan ini," Jean.
"Kita hidangkan monster ini," Bob
....
Malamnya, digelar pesta untuk memasak monster gurita itu.
"Orang mesum ini ternyata menjadi pahlawan kami." Lia mendatangiku lalu merangkulku.
"Apa apaan ihh, jangan berlebihan! Karena kerjasama mereka semua lah yang mengalahkan monster itu,"
"Tidak usah merendah, jadi ingin hadiah apa malam ini?"
"Masakanmu yang enak." Sambil aku turunkan tangannya yang merangkulku.
"Masakanku apa diriku?"
"Mulai lagi ini anak,"
"Hahaha lagian aneh sekali lho, sudah ditawarin malah menolak, bahkan ayahku juga mengizinkannya bukan?"
"Bagaimana bisa tahu?" ucapku kaget sambil memandang wajahnya.
"Tadi bercerita denganku, jadi bagaimana? Masih mau menolak?" Dia merangkulku lagi.
"Aku, tolak!" Aku lepaskan lagi rangkulannya.
"Kenapa?" Mendekatkan wajahnya kepadaku.
"Kenapa kau tanya? Lalu apa alasanmu mau melakukan itu denganku?"
"Sebagai rasa berterima kasih," ujarnya dengan muka polos.
"Jadi seperti itu kah cara berterima kasih dari kerajaan ini? Kalau aku, tidak akan melakukannya tanpa adanya cinta!" jawaku kesal.
"Aku juga tidak mau melakukannya begitu saja, alasan yang sama sepertimu." Sambil pergi menuju kerumunan warga yang sedang membakar dan memasak monster gurita.
.....
Saat kembali, Lia membawa 2 tusuk dari potongan gurita yang telah dibakar.
"Apa maksudmu tadi?"
"Tidak apa-apa, mau makan?" Menyodorkan salah satu tusukan daging gurita kepadaku.
"Kau yakin memakan itu?"
"Kenapa memangnya?" Lia memakan sate gurita itu sambil melihat ke arahku.
"Beberapa hari yang lalu ada nelayan yang dimakan monster itu kan? Dan sekarang kalian memakan monster itu?"
"Iya kah? Tidak masalah." Lia gigit lagi potongan guritanya.
"The real puncak rantai makanan,"
"Enak lho,"
____