"Al sudah memilihku, baik tubuh maupun hatiku, aku persembahkan hanya untuk Al!"
"Jadi kamu sudah melakukannya dengan Al!? Ah sudahlah, setelah ini juga akan menjadi milik tuan Kras,"
Pintu kamar terbuka dengan kencang dan menimbulkan suara yang sangat keras.
"Kenapa kalian ribut sekali? Upacara pernikahannya sebentar lagi!" Kras masuk lalu mendekati Lia.
"Maaf tuan Kras, kami sedang membujuk Lia." Paman Bob menundukkan kepala di depan Kras.
"Ooo cantik sekali!" Kras mendekatkan tangannya menuju dagu Lia.
"Cuihh!" Lia meludahi Kras yang mendekatinya.
"Tidak tahu diri, beraninya meludahi tuan Kras!" Pengawalnya Kras kaget dan langsung marah kepada Lia.
"Sudah biarkan saja, nanti dia pasti akan luluh padaku." Kras mengelap ludah Lia dengan saputangannya.
"Baik tuan,"
"Bawa neneknya!" perintah Kras ke anak buahnya, mereka langsung membawa nenek Lona dengan paksa.
"Bajingan! Sialan kau! Lepaskan aku!" Lia meronta-ronta.
"Tenanglah manis, nenekmu tidak akan aku apa-apakan selagi kau mau menurut." Kras memegang dagu Lia.
"Sampai nanti manis." Kras lalu pergi meninggalkan Lia dan Bob.
"Ayah!! Kenapa kau biarkan mereka membawa nenek?"
"Aku tidak akan kuat melawan mereka sendirian,"
"Mantan prajurit katanya? Ahhhhhh sialan!"
"Lia siapa yang mengajari kata-kata kasar itu!?" bentak paman Bob.
Lia tidak menjawabnya.
"Apa kau mau? Karena keegoisanmu membuat ayah dan nenekmu terbunuh!?"
"Maka dari itu kita harus melawan!" Lia dengan tatapan tegas melihat ke ayahnya.
"Apa salahnya dengan tuan Kras? Lihatlah dia bangsawan tersohor, kaya raya, dan sangat kuat, jadi bisa melindungimu dengan baik,"
Lia makin kesal dan tidak menjawab apapun lagi.
____
Kamar Kras
Kras sudah mempersiapkan diri, sekarang ia sedang menikmati minum teh sambil memandangi luar jendela kamarnya yang berada di lantai 2.
"Tuan, bagaimana kalau para Ratu Danirmala mengetahui ini, apa tidak akan menjadi masalah?" pengawal Kras yang sedang membawakan teko teh terlihat menghawatirkan hal ini.
"Tenang saja, para Ratu itu semakin lama semakin melemah. Aku sudah mendapatkan kekuatan dari sang Suci, jadi bagiku para Ratu itu bukanlah apa-apa," ucap Kras dengan percaya diri.
"Tapi tuan, beliau ber 6 apa tuan sanggup?"
"Kau meremehkan tuanmu!?" bentaknya.
"Maafkan saya tuan." Pengawal itu menundukkan kepalanya.
"Memang tubuh mereka dilindungi penghalang yang cukup kuat, tapi aku pernah mengukur kekuatan penghalang itu,"
"Jadi tuan pernah bertarung dengan Ratu?"
"Ya seperti itulah,"
____
Dimulainya prosesi pernikahan.
Lia berpura-pura menuruti karena diancam dengan menggunakan neneknya yang disandera sambil diacungi belati. Posisi neneknya berada di pojok ruangan paling belakang, jadi yang dapat melihatnya hanya yang berada di atas panggung.
"Pahamkan!? Kalau kau berbuat yang tidak semestinya, nenekmu akan mati!" Kras berbisik ke arah Lia.
"Bajingan pengecut!" Lia kesal sekali, rasanya ingin memukul wajah Kras, namun bisa jadi neneknya langsung ditusuk. Prosesi pernikahan pun dimulai, saat akan memakaikan cincin pada Lia, tiba-tiba muncullah ke 6 Ratu Danirmala.
"Yang mulia!" Semua orang terkejut dan segera menundukkan kepalanya.
"Ada apa gerangan sampai para Ratu sekalian turun dari tahtanya?" Kras berjalan santai di depan para Ratu.
"Kras, tidak sopan sekali dirimu mengadakan pesta semeriah ini tanpa mengundang kami!" Noe memandangi seluruh ruangan.
"Oh maafkan saya Ratu Elf, pengantin saya sedikit pemalu, jadi saya takut mengundang Ratu sekalian." Kras menunjuk ke arah Lia.
"Ohh cantik juga, siapa namamu?" Erin mendekati Lia
"Lia yang mulia," jawab Lia sambil menundukkan kepala.
"Hahaha Lia, kenapa kau mau sama dia?" Erin memegangi dagu Lia dan membuat Lia melihat ke arahnya.
"Ratu Vampir? Tubuh yang berbeda saat terakhir kita bertemu?" ucap Kras, Erin langsung melepaskan Lia dan berbalik melihat ke arah Kras.
"TOLONG SAYA YANG MULIA, SAYA...Mmmmm," Lia segera dibungkam oleh pengawal Kras.
"Maaf atas ketidaksopanan calon istri saya." Kras menunduk lalu berjalan ke arah Lia.
"Lepaskan! Biar kami dengar apa yang ingin dia bicarakan!" Noe.
"Maaf Yang Mulia," ucap para pengawal itu dan segera mereka melepaskan Lia.
"Tolong Yang Mulia, saya dipaksa menikah dengannya, nenek saya disandera." Lia menjelaskan sambil mendekat ke arah Noe dan meraih tangannya.
"Seperti itukah caramu meminta kepada Ratu?" Noe.
"Maaf Yang mulia, tolong saya." Lia menangis lemas.
"Akan saya lakukan apapun selain berhubungan dengan laki-laki yang tidak saya cintai!" Ucap Lia tegas walau air matanya mengalir.
"Cerdik juga kalimatmu!" Noe.
"Terima kasih atas sanjungannya," Lia.
"Hah!?" Noe kesal.
"Kras, apa benar apa yang dia katakan?" Erin mendekati Kras sambil mengeluarkan kuku tajamnya.
"Tidak yang mulia, keluarga merekalah yang meminta untuk dinikahkan denganku," Kras
"Bohong Yang mulia!" Lia menoleh ke arah Kras.
"Kami tidak bertanya denganmu!" bentak Noe.
"Maaf Yang Mulia,"
Erin lalu mendekati Lia sambil mengarahkan kuku tajamnya di leher Lia.
"Yang Mulia bisa mengambil nyawa saya, tapi tolong selamatkan nenek dan ayah saya," ucap Lia dengan yakin.
Cress... Darah melumuri jari-jemari Erin dan sampai mengalir di dada Lia. Erin menjilat luka bekas cakaran itu dan langsung membuatnya sembuh kembali.
"Sepertinya benar yang dia katakan dan juga apa maksudmu mengaku sebagai bangsawan!?" Noe.
"Ahh apa boleh buat, memang aku melakukan semua itu! Kalian mau apa!?" Kras menantang mereka.
"Sudah berani kau berbuat seenaknya di wilayah kami!" Erin berdiri lalu melihat ke arah Kras dengan tatapan mata yang merah menyala.
"Bunuh tua bangka itu!" Kras memerintahkan anak buahnya.
"NENEK!!" Lia.
Darah berceceran di mana-mana, kepala menggelinding terlepas dari tubuhnya. Para tamu berteriak histeris menyaksikan eksekusi langsung itu.