Namun teriakan Karina sia-sia. Tidak ada suara Charles sang suami, tapi Karina masih dapat mendengar suara derap langkah kaki di balik pintu tersebut.
‘Sebenarnya Charles bawa gua kemana sih! Kenapa gua jadi takut yah.’ Dalam hatinya terus bermonolog.
“Hei! Siapapun yang di depan, tolong buka pintunya! Saya terjebak di dalam! Tolong!! Tolong!!” Teriak Karina sembari memukul pintu itu berulang kali.
10 menit berusaha, akhirnya Karina menyerah. Ia duduk di sisi ranjang yang baru disadarinya kalau tas yang semalam di bawanya berisi ponsel dan dompetnya pun tidak ada di kamar ini.
Karina masih belum menyadari bahaya yang mengancamnya kini karena mulai hari ini dirinya akan menjadi tawanan Brahm Damian.
Bahu Karina terjengkit ketika mendengar suara derik kunci pintu. Seseorang sudah membuka pintu dari depan. Dengan cepat Karina berdiri dan melangkah menghadap ke arah pintu tersebut bersiap-siap untuk memuntahkan kekesalannya pada Charles.
“Charles, Kamu kok kunciin ak..”
Ucapan Karina tercekat ditenggorokan dengan mata membola ketika pria dihadapannya bukanlah pria yang diharapkannya
Seorang pria dengan postur yang tinggi, tegap, rambut rapi dan memakai kacamata. Rahangnya begitu tegas dengan untaian jambang rapi di pelipisnya. Kalau boleh diibaratkan wajah pria ini mirip seperti akto Captain America, Chris Evan. Pria itu melangkah masuk sambil mengantongi kunci ke dalam sakunya.
“Loe!”
Karina kenal dengan wajah pria dihadapannya ini. Pria angkuh yang menabraknya di lorong kantor dulu tanpa mengucapkan minta maaf walaupun sudah ditegurnya. Pria arogan yang sudah berani melecehkannya dua kali bahkan mengganggu dalam mimpi-mimpinya.
“Masih mengenalku?” Tanya Brahm dengan nada datar.
“Kenapa Loe bisa di sini? Siapa Loe? Dimana Suami gua?”
Brahm menatap Karina dengan seringai yang sama saat menabraknya dulu, melangkah mendekati Karina. Membuat Karina melangkah mundur setiap kali Brahm maju selangkah. Sampai posisinya terjepit, Karina mengulurkan tangannya.
“Stop! Jangan mendekat!”
“Kenapa? Semalam kita jauh lebih dekat dari ini, lupa?” Ledeknya masih dengan seringai yang sama.
“Mak-maksud Loe apa?”
Karina tersandar lemas, mencoba mengingkari pikirannya sendiri. Kilasan keadaannya ketika terbangun membuatnya sangat mengerti apa yang sudah terjadi pada dirinya dan perbuatan apa yang mungkin dilakukan dengan kondisi polos seperti tadi.
“Minggir, Loe! Gua mau keluar. Di mana tas gua?” Seru Karina berusaha dengan kedua tangannya melepaskan diri dari Brahm yang sedang menguncinya.
Sebuah ketukan pintu terdengar. “Masuk!” Perintah Brahm masih mengunci posisi Karina, kemudian salah satu penjaga masuk membawa tas Karina, penjaga lainnya membawa nampan berisi sarapan lengkap.
Brahm menjauhkan diri dari Karina, menerima tas dari anak buahnya dan melempar asal tas Karina ke ranjang.
“Itu tas mu, dan makan sarapannya. Aku yakin kamu ingin menghubungi seseorang.”
Karina yang sudah tersulut rasa panik, menyadari kini dirinya sedang disekap oleh pria ini.
“Ngak! Gua mau keluar dari sini!”
“Kamu tidak akan keluar dari sini, mulai sekarang kamu hanya boleh keluar dari kamar ini dengan persetujuanku!”
“Ini penyekapan namanya, loe melanggar hukum! Keluarin gua dari sini! Atau, atau gua akan lapor ke polisi!”
Ancaman Karina membuat Brahm tertawa meledek. “Kamu pikir kamu punya kesempatan untuk keluar dari ruangan ini? Cih, sungguh naïf pikiranmu. Jangan pikir orang-orang akan percaya dengan laporan bahwa aku menculik istriku sendiri. Bahkan sejak awalpun kamu tidak pernah bisa melaporkan perbuatanku sama kamu, apalagi sekarang kamu itu istri aku. Jangan bersikap konyol, Sayang.”
“Istri! Gua bukan istri Loe! Gua ini sudah nikah!” Umpat Karina seraya menjaga jarak aman dari Brahm.
Brahm semakin tertawa dan mendecih. “Bahkan berceraipun kamu tidak tahu bukan? Menurutmu memang siapa yang membuat kamu tidak sadarkan diri dan membawa tubuh kamu yang indah ini ke dalam rumahku?”
Karina menggelenggkan kepalanya dengan mata membola. “Tidak mungkin! Charles tidak akan mungkin berbuat seperti itu sama gua! Dia cinta sama gua. Loe yang berengsek, Loe bajjingan!”
Merasa geram dengan ucapan Karina, menyulut amarah Brahm, ia mendekat dan mendorong tubuh Karina ke dinding dengan sekali sentakan mengunci kembali tubuh Karina.
“Jangan pernah memuja laki-laki pengecut itu! Dia hanya memanfaatkan kamu untuk kepentingannya sendiri. Apa tugas suami yang mencintai istrinya termasuk menyodorkan mu kepadaku. Apa itu yang namanya melindungi! Sadar kamu!”
Amarah Brahm membuat nyali Karina menciut seketika.
“Ta, tapi ngak mungkin. Charles ngak mungkin tega berbuat jahat sama gua. Loe.. Loe bohong kan.”
“Kalau memang dia seperti malaikat suci seperti yang kamu bela. Apa pernah si berengsek itu meminta kamu untuk menemaniku tidur sebelumnya?”
Ucapan Brahm menghenyakkan pikiran Karina pada memorinya saat itu tentang permintaan konyol Charles beberapa saat lalu.
Dengan mata berkaca-kaca, Karina memberanikan diri menatap nyalang mata hazel milik Brahm.
“Jadi benar kata Charles, kalau dia sudah berhutang sama seorang mafia, sampai-sampai memohon sama gua untuk mau tidur sama Loe. Ternyata di dunia ini seorang bajinggan seperti Loe itu nyata. Berengsekk, Loe!!”
Perasaan Karina saat ini tidak karuan, begitu banyak pertanyaan melayang di dalam pikirannya. Apa maksud semua ini? Mengapa Charles tega dengannya? Bagaimana bisa semua ini terjadi pada dirinya?
“Gua ngak percaya sama semua ucapan loe itu.”
Mendengus tawa, Brahm melepaskan cengkraman tangannya dari bahu Karina, melangkah ke sebuah meja dan mengambil sesuatu di sana. Lalu memberikan sebuah dokumen dihadapan Karina, sebuah surat perjanjian pernikahan antara dirinya dan Karina yang ditandatangani oleh mereka bertiga.
"Dokumen itu menjelaskan kalau kamu adalah istri sahku sekarang suka ataupun tidak, mulai hari ini kamu harus belajar menerimaku sebagai suami kamu. Tanda tangan mantan suami kamu tercantum di surat itu menyetujui pernikahan kita dan bercerai darimu di waktu yang sama."
Mata Karina membelalak seakan tidak percaya ketika membaca dokumen yang diberikan Brahm. Berulang kali membaca lagi surat tersebut karena hatinya masih menyangkali semua kenyataan ini.
"Bagaimana bisa, sedangkan gua sendiri tidak tahu kapan nikah sama loe! Kapan juga gua tanda tangan dokumen ini, dan Charles…" Protesnya mengambang masih berusaha menyangkali isi dokumen ini, namun melihat tanda tangan Charles, hatinya terasa tertusuk-tusuk. Sebuah kilasan kejadian saat dirinya mabuk memperjelas sebuah ingatan Karina.
"Bahkan kamu berceraipun juga tidak tahu kan." Ejek Brahm sambil berdecih meledek.
“Loe bohong kan! Apa niat loe, apa rencana loe! Keluain gua sekarang!”
Karina berlari menuju pintu, menekan pegangan pintu seraya mendorongnya. Namun sia-sia karena pintu itu terkunci rapat. Karina terus berusaha menggedor pintu tersebut mengharapkan sebuah keajaiban.
“Buka pintunya! Buka! Tolong! Tolong!”
“Teriak sepuas kamu, tidak akan ada yang mendengarnya. Ruangan ini kedap suara. Kalaupun kamu berhasil keluar, sudah ada 2 penjaga di depan pintu yang sigap menangkap kamu kalau tidak mau kepala mereka jadi jaminannya.”
Bulu roma Karina bergidik ngeri membayangkan posisi dirinya bak dalam sinetron drama yang sering ditontonnya. “Siapa sebenarnya loe ini! Loe pasti penjahat sindikat penjualan wanita, iyah kan! Loe mau jual gua kan!”
“Bukan aku yang menjual kamu, tapi mantan suami kamu yang pengecut itu!” p***s Brahm dengan tatapan dinginnya membalikkan segala tuduhan Karina.
“Loe bercanda kan. Tolong keluarkan gua dari sini, gua mohon. Gua perlu bertemu dengan Charles. Dia harus menjelaskan semuanya.“
“Jangan keras kepala kamu! Jangan lagi mencoba menghubungi laki-laki pengecut itu!”
Dengan cepat Karina menyambar tasnya, mengambil dan mengaktifkan ponsel miliknya berharap pria dihadapannya ini tidak kembali merebut ponsel di tangannya.
Dengan cepat Karina menekan nama seseorang dan menekan tombol panggilan, namun tidak aktif.
Brahm kembali berdecih meledek. “Masih saja kamu berharap sama bajjingan itu.”
Kesal karena Charles tidak mengangkat panggilannya ditambah ledekan Brahm membuat Karina melangkahkan kakinya dengan amarah mendekati Brahm seraya mengangkat tangannya bersiap unutk menampar pria menyebalkan dihadapannya, namun gerakan Karina mudah terbaca oleh Brahm, dengan cepat Brahm menghentikan dan memegang lengan Karina dengan tatapan menusuknya. Karina masih berusaha memberontak walaupun tubuhnya bergetar melawan rasa takut yang menderanya.
“Lepas! Gua mau menghubungi polis!”
“Silahkan, Nona. Dan kamu akan ditertawakan karena kamu bahkan tidak tahu saat ini ada di mana dan dengan siapa.” Ucap Brahm tersenyum sini sembari duduk bersandar pada sofa sambil menyilangkan kakinya masih dengan tatapan dingin sekaligus meledek seakan mengatakan pada wanita dihadapannya bahwa usahnya itu hanya membuatnya semakin kecewa.
Frustasi dengan keadaannya, akhirnya Karina menahan luapan emosinya kepada Brahm. “Lepasin gua. Tolong.. Gua ngak akan mengatakan apapun yang sudah terjadi di tempat ini, tapi tolong lepasin gua dari sini.” Kali ini Karina sudah tidak menunjukkan sikap bermusuhan dengan Brahm karena ia tahu akan sia-sia dan menghabiskan tenaganya. Sedangkan Brahm menunjukkan seringai kemenangannya karena telah menaklukkan Karina.
"Kamu sedang memohon?"
Karina menundukkan wajahnya menyembunyikan rasa malu serta menutupi kehormatannya yang sedang dipermainkan oleh Brahm.
"Iyah, tolong lepasin gua dari sini. Gua mau pulang."
Brahm mendekati Karina, menaikkan dagunya dengan tangan. "Kamu pikir dengan memohon akan menyelesaikan masalah? Kalau memohon semua masalah selesai, maka orang jahat di dunia ini akan bertambah banyak. Jangan naif kamu!"
Brahm menepis halus dagu wanita dihadapannya karena kesal dengan penolakan Karina, namun hatinya seperti teriris melihat Karina memohon dan merendahkan harga dirinya hanya demi bertemu dengan laki-laki egois yang sudah menjual istrinya sendiri.
Brahm berjalan menjauh dari Karina untuk menenangkan emosinya sendiri. Biasanya seorang Brahm akan bersikap tenang walaupun isi kepalanya penuh dengan amarah, namun tidak ketika berhadapan dengan Karina. Rasanya antara emosi dan hasrat hanya berbeda tipis jika berada dekat dengan wanita cantik ini.