Suasana mencekam kembali dirasakan setiap orang yang berada di dalam ruang tamu kediaman Bradley. Meira tidak habis pikir bagaimana sang papa bisa-bisanya ingkar janji dan berbohong kepadanya saat di ruang kerja. Bukankah sangat keterlaluan dan munafik, memberikan restunya pada Meira saat mereka bicara berdua dan sekarang malah bersikap antipati pada Jordan. Dalam batin Meira, direstui atau tidak oleh Bradley, ia akan tetap menikah dengan Jordan. Sudah cukup waktu berharga terbuang demi ambisi seorang Bradley.. “Papa apa-apaan sih!” Kembali Meira mengucapkan rasa tidak senangnya. Ayah dan anak itu saling menatap tajam, kemudian Bradley mengalihkan tatapannya pada Jordan. “Papa baru akan memberi restu kalau laki-laki itu yang bicara langsung dan memohon sama Papa. Bukan melalui kamu! Yang

