Lava Api Neraka

1322 Words
“Silakan, pesanan Anda. Langsung keluar dari oven,” ucap Jeslyn sembari meletakkan piring dessert cokelat molten lava yang masih mengepul di hadapan Leonel, lengkap dengan secangkir americano yang aromanya tajam. “Wah, owner-nya langsung yang menyuguhkan,” komentar Leonel dengan senyum tipis di bibirnya, sambil menegakkan duduknya. “Tentu saja. Aku adalah owner yang sangat ramah,” balas Jeslyn, senyum merekah tapi tatapan tetap menusuk. “Ditambah tamu hari ini yang pertama datang adalah kakak iparku sendiri. Sudah seharusnya aku melayani dengan spesial.” Leonel mengangkat alis, bibirnya tersungging. “Agh… kamu mendadak manis. Padahal tadi seperti singa betina minta kawin.” Jeslyn langsung mencibir, menarik nafas dalam-dalam seperti sedang menghitung mundur dari sepuluh agar tidak melemparkan loyang ke kepala pria di depannya. “Kalau bukan karena kamu kakaknya Jefran, udah kubakar nih kemeja putih kamu,” desisnya sambil berkacak pinggang. Leonel tertawa pelan, menikmati sekali reaksinya. Jeslyn melirik ke arah dapur, lalu berbisik tajam. “Aku tidak mau para karyawanku curiga dan menggosipkan kita berdua. Mereka tahu, aku ini tunangannya Jefran.” Suasana seketika mengeras, seperti ada awan badai yang menggantung di antara mereka. Jeslyn hendak berbalik, tapi tangan Leonel tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. “L-Leonel?!” serunya nyaris tercekat, suara tertahan karena panik. “Duduklah,” ucap Leonel tenang. “Temani aku makan. Aku tidak suka makan sendiri.” Jeslyn menatap pria itu, matanya membulat. “Maaf, tapi aku sibuk. Dan lagi, kamu datang sendiri ke sini, jadi makan sendirian saja.” “Keramahanmu hanya berlaku dalam dua menit, ya?” balas Leonel sambil menggigit sudut senyum. “Keramahan cuma berlaku buat pelanggan normal. Kamu? Kamu kayak glitch di sistem kepribadianku,” ketus Jeslyn, menarik tangannya dan melangkah cepat ke arah dapur. Tapi detak jantungnya belum juga tenang. Leonel menatap punggung Jeslyn yang menjauh sambil tersenyum simpul. “Sungguh singa betina yang menggemaskan,” gumam Leonel tersenyum simpul. Pria itu mulai meneguk pelan americanonya dan rasanya benar-benar luar biasa enak, apalagi aromanya yang khas. Leonel baru pertama kali mencoba kopi yang membuatnya terasa lebih segar. Dari balik pintu dapur, Livia mengintip, berbisik penuh antusias pada Nico. “Kak, Kak! Mereka tadi ngobrolnya pakai kode keras banget. Kayak di sinetron jam sembilan.” Nico mengangkat alis. “Kayak… gimana tuh?” Livia meniru nada Jeslyn dengan dramatis, “Aku tunangannya Jefran!” lalu menirukan suara Leonel, “Aku gak suka makan sendiri~” dengan gaya sinetron lama. Nico menepuk jidat. “Lagi-lagi… kamu kebanyakan nonton drama!” “Kak, aku tuh serius! Itu cowok pasti punya masa lalu dengan Kak Jeslyn. Dan kayaknya... pedes!” “Kayak lava cake-nya?” “Lebih kayak hidupku, Kak. Terlalu pedas untuk dijalani,” kekeh Livia. “Hah? Kok pedes?” tanya Nico kebingungan dan Livia hanya menjawab dengan mengedikkan kedua bahunya. Jeslyn berdiri di balik konter, kedua tangannya bersilang di d**a. Tatapannya tajam mengamati Leonel yang tenang menyendok lavanya. Uap panas mengepul dari tengah dessert, cokelat kental mengalir lembut seperti lava dari gunung berapi. Tapi bukan itu yang membuatnya cemas—melainkan fakta bahwa Leonel masih terlihat sangat biasa saja. “Tunggu, kok dia biasa aja. Apa gak terasa pedas?” batin Jeslyn memperhatikan ekspresi Leonel yang mencoba lavanya. “Apa mungkin dia kebal dengan pedas? Padahal aku masukan bubuk chili yang banyak ke adonannya.” Padahal, Jeslyn tadi sengaja menaburkan dua sendok teh bubuk cabai rawit ke dalam adonan lava cake-nya. Dua. Sendok. Teh. Itu seharusnya cukup untuk membuat siapapun terbatuk, menangis, atau setidaknya membara dari dalam. “Tunggu… kok dia biasa aja?” batin Jeslyn, matanya menyipit curiga. Leonel mengangkat suapan pertamanya ke mulut, lalu perlahan mengunyah. Tatapannya tetap tenang, bahkan nyaris menikmati. Bibirnya tidak mengerucut, tidak berkedut, tidak berkeringat, tidak ada reaksi normal seperti manusia pada umumnya saat terserang pedas tingkat dewa. "Apa dia… robot?" gumam Jeslyn lirih. “Hmm,” Leonel bersenandung kecil sambil mengangguk. “Menarik. Ada sensasi spicy-nya, ya. Eksperimen baru?” Jeslyn terbelalak. Apa?! Dia malah suka?! “Eh… iya,” jawabnya cepat, hampir refleks. “Itu… varian baru. Dessert lava api neraka.” Leonel menyeringai. “Nama yang bagus. Cocok untuk wanita sepertimu.” “Wanita sepertiku?” Jeslyn mengangkat satu alisnya. “Yang suka menyiksa orang lain tanpa ampun,” jawab Leonel tenang. Jeslyn hampir melempar sendok ke wajah pria itu kalau saja tidak ada pelanggan yang baru masuk dan membunyikan lonceng pintu café. Dari arah dapur, Livia menyembul lagi sambil membawa nampan berisi latte art. Tapi dia tidak melewatkan percakapan tadi. “Dessert lava api neraka? Kak Jeslyn makin niat membuat pria itu sengsara,” bisik Livia dengan mata berbinar kagum. “Awas kena karma, tuh,” sahut Nico, walau senyum geli tak bisa disembunyikannya. Jeslyn menghela napas panjang, lalu berjalan menghampiri meja Leonel dengan senyum dipaksakan. “Kamu datang jauh-jauh ke café ini hanya untuk… menyiksa lidahmu?” tanyanya datar. Leonel menyentuh gelas americano-nya, menyeruput perlahan. “Aku datang ke sini untuk satu alasan.” Jeslyn menyilangkan tangan. “Dan itu adalah…?” Leonel mendongak, menatap Jeslyn dalam-dalam. Tatapannya seperti pisau yang perlahan menembus pertahanan gadis itu. “Untuk melihatmu.” Jeslyn terdiam. Nafasnya tertahan. “Berhenti berkata omong kosong.” Dia berbalik dan mulai melangkah menjauh, tapi suara Leonel kembali menghentikannya. “Omong kosong?” ucap pria itu tenang. “Padahal aku mengatakan hal yang jujur.” Langkah Jeslyn terhenti. Cafe yang semula terasa hangat dan riuh, kini terasa dingin. Sunyi. Hening. Seolah semua suara meredam hanya demi memberi ruang pada pertanyaan itu. Jeslyn menolehkan kepalanya ke arah Leonel. “Kalau begitu, sekarang sudah selesai melihatku?” tanya Jeslyn. Leonel melihat jam tangan di pergelangan tangannya. “Ya, kurasa begitu. Karena aku harus segera ke kantor. Ini hari pertama aku bekerja dan menduduki posisi Direktur utama,” jawab Leonel. Jeslyn menatap Leonel dengan alis terangkat. “Direktur utama? Sejak kapan?” Leonel berdiri, merapikan jasnya dengan elegan. “Sejak Dewan Pemilik memutuskan bahwa direktur lama perlu diganti… dengan seseorang yang lebih berapi-api.” “Berapi-api karena makan lava cake?” sindir Jeslyn dengan senyum sinis. Leonel terkekeh pelan. “Itu bonusnya.” “Padahal kantor dan tempat ini sangat berlawanan. Kamu begitu banyak waktu luang untuk mampir,” sindir Jeslyn. “Ya, seperti yang aku katakan tadi. Aku butuh melihat wanitaku terlebih dulu,” ucap Leonel sedikit berbisik saat melewati tubuh Jeslyn yang merinding seketika. Leonel berlalu pergi dari sana tanpa kata lagi, meninggalkan Jeslyn yang masih mematung di tempatnya. “Dia benar-benar pria gila!” batin Jeslyn hanya bisa menghela napasnya di sana. *** Leonel turun dari mobil hitam yang membawanya dari café tadi pagi. Udara pagi di depan gedung pusat perusahaan Clovis Group terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Begitu langkah kakinya menyentuh marmer halaman lobi, tatapannya langsung tertumbuk pada sosok Jefran yang berdiri tegak, mengenakan jas biru tua dan dasi abu-abu. Di sisi Jefran, berdiri seorang pria paruh baya dengan sorot mata yang tajam dan penuh wibawa, dan itu adalah Ayah mereka. Di belakangnya, berbaris para karyawan dan beberapa di antaranya adalah manajer senior dan asisten pribadi direksi yang semua tampak berbaris rapi menyambut kedatangan Leonel. “Direktur Leonel sudah datang,” bisik salah satu staf wanita yang berdiri di dekat pintu, matanya berbinar kagum melihat pria itu melangkah mendekat. Leonel menarik napas dalam-dalam sebelum tersenyum tipis dan menghampiri mereka. Langkahnya tenang, dan hanya menunjukkan ekspresi dingin. “Maaf… aku terlambat,” ucapnya sambil menyentuh sedikit ujung jasnya sebagai bentuk sopan santun. Matanya menatap ayah dan Jefran bergantian. “Aku... cukup gugup datang di hari pertama.” dustanya. Ayahnya mengangkat alis, ekspresi wajahnya tetap hangat. “Leonel yang Ayah kenal tak pernah gugup,” komentarnya singkat. Jefran menyilangkan tangan di depan d**a, matanya menyipit menilai. “Gugup? itu adalah pernyataan terkonyol yang pernah kudengar.” Leonel hanya tersenyum samar, “ya, anggap saja begitu,” jawabnya penuh teka teki membuat Jefran memutar bola matanya. Lalu, Leonel mengangguk kecil pada semua orang, dan berjalan bersama Ayah dan Jefran menuju lift eksekutif dengan langkah tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD