Didalam rumah yang sepi terdengar suara seretan roda koper begitu nyaring menuju lantai bawah. Mila yang masih tertidur lelap sampai mendengar karena suara seretan koper begitu keras.
Mila terhenyak dan langsung beranjak dari ranjangnya. Mila membuka pintu kamarnya. Mila melihat Nasya tengah berjalan seraya menarik koper hitam berukuran besar meniti tangga menuju lantai bawah.
Mila langsung menutup pintu kamar kembali dan masuk kedalam kamar mandi. Mila membasuh wajahnya dan menggosok gigi."Aku tidak boleh ketinggalan. Kak Nasya pasti mau pergi sama Ardi!"
Setelah selesai Mila langsung lari ke lantai bawah dan mendapati Nasya dan Ardi sedang berpamitan dengan Susanto.
"Kak, kakak mau kemana?"Tanya Mila dengan raut wajah datar.
"Kakak mau ke Bali Dek. Kakak mau liburan seminggu ke depan kamu jaga Ayah ya?"
"Aku ikut!"
"Dek Kakak cuma___"
"Pokoknya aku mau ikut!"
"Mila kamu jangan kaya anak kecil! Kakakmu itu mau pergi sama Ardi suaminya."Jelas Susanto.
"Kapan sih Ayah sama Kakak anggap aku dewasa!"
"Mila!"Bentak Nasya membuat Mila terdiam.
Mila terdiam dan melipat senyumnya. Nasya merasa bingung melihat sikap Mila kenapa Mila masih saja seperti anak kecil. Namun Nasya tidak tau sebenarnya semua itu hanyalah alasan Mila saja. Mila sengaja ingin mengganggu liburan mereka berdua.
"Dek kamu di rumah ya, sama Ayah. Nanti kalau Kakak sudah pulang kita liburan bareng sama Ayah juga, sekarang Kakak sama Kak Ardi liburan berdua dulu ya Dek?"
Nasya mencoba memberikan pengertian kepada Mila yang masih ngotot ingin ikut berlibur bersama dirinya.
"Sial! Kak Nasya malah menyuruhku di rumah sama Ayah. Dia malah mau enak-enakan sama Ardi!"Batinnya kesal.
"Iya deh. Tapi Kakak janji ya liburannya jangan lama-lama!"
"Iya Dek. Kakak janji."
Sebelum pergi, Ardi dan Nasya bersalaman dengan Susanto dan Mila. Setelah itu mereka berjalan pergi menarik kopernya menuju mobil yang sudah terparkir di luar rumah.
Mereka berjalan berdua bergandengan tangan. Wajah Nasya tak luput dari ciuman mesra Ardi, Ardi benar-benar sangat mencintai Nasya.
Ardi membukakan pintu dan dengan lembut mempersilahkan Nasya masuk kedalam mobil lalu menutupnya kembali. Ardi menyusul masuk dan melajukan mobilnya memecah jalanan kota.
"Mas aku bahagia banget. Semoga kebahagiaan kita tidak akan pernah hilang ataupun terbagi. Kau janji ya Mas, jangan pernah mengkhianati aku!"Ujar Nasya seraya menyenderkan kepalanya pada bahu Ardi
"Iya sayang, aku akan menjaga cinta ini untukmu selamanya."Ardi mencium lembut kening Nasya sambil membelai rambutnya.
******
Sesampainya di Bali mereka langsung istirahat karena sudah seharian menghabiskan waktu di perjalanan.
"Mas kamu capek kan? Sini Mas kakimu biar aku pijitin."Nasya memijat kaki Ardi yang tengah berbaring di atas ranjang. Malam ini Ardi memakai kimono tidurnya.
"Kau juga capek bukan? Setelah ini aku gantian pijitin kamu ya, tapi jangan pakai pakaian yang ribet!"Ardi tersenyum mesra melihat Nasya dengan lembut memijat kakinya.
"Kau ini Mas, masih kurang capek!"Nasya menepuk kaki Ardi seraya tertawa kecil.
******
Pagi hari di Bali.....
"Mas ke pantai yuk?"Ajak Nasya pada pagi hari setelah Ardi bangun tidur.
"Ke pantai? Kau mau ke pantai? Tumben banget, biasanya kamu tidak mau karena kau takut kulitmu menjadi hitam!"
"Gak apa-apa Mas. Kan sekarang aku sudah laku hehe..."
"Berarti sewaktu-waktu aku bisa menjual mu lagi dong?"
"Kau ini bicara apa!"
"Tadi kau yang bilang sendiri sudah laku."
"Maksudnya aku kan sudah punya suami Mas jadi tidak perduli lagi mau hitam ataupun ijo!"
"Nah gitu kan jelas. Ya udah yuk kita jalan."
"Kamu ini!"
"Jadi jalan gak?"
"Hm... ayo."
Ardi bergegas bangun dan berjalan bersamaan. Nasya merangkul manja Ardi dan mencium lengannya berkali-kali.
"Ciumnya jangan banyak-banyak ya. Malu banyak orang."Ujar Ardi.
"Gak apa-apa Mas mereka juga pasti tau kita pengantin baru."
"Mereka tau dari mana? Memangnya kau undang mereka untuk datang ke pernikahan kita?"
"Ya siapa tau mereka lihat di sosmed."
"Iya ya. Jangan-jangan mereka yang follow kita."
"Iya Mas kau benar mereka semua yang follow kita."
"Ternyata kita sama-sama bodoh ya."
"Iya Mas kita sama-sama bodoh, kita jodoh."
Seketika tawa Nasya dan Ardi pecah menggema di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Sesampainya di pantai Nasya terlihat sibuk menutupi lehernya dengan kedua tangannya. Apapun Nasya lakukan agar tubuhnya tertutupi dari panasnya terik sinar matahari.
Nasya sampai meneduh di bawah payung yang terdapat beberapa pengunjung yang sedang beristirahat. Pengunjung tersebut hanya heran melihat tingkah Nasya.
Ardi sampai malu dengan tingkah Nasya karena mereka seperti sedang menahan tawanya melihat kelakuan Nasya saat itu.
Ardi menghampiri dan langsung menarik Nasya untuk pergi dari sana."Kau ini sedang apa! Kau tidak lihat mereka menertawakanmu diam-diam."Ujar Ardi pelan.
"Maaf Mas, aku cuma___"
"Cuma ingin neduh biar kulit kamu gak item, iya kan!"
"Hehe iya Mas."
Ardi memijat pelipisnya.
"Nasya! Kau kan bisa perawatan tubuh setelah pulang dari sini."
"Iya Mas maafin aku ya? Aku cuma takut aja kalau kulitku item kamu jadi gak cinta lagi."
"Kau ini berpikiran apa! Aku sama sekali tidak perduli dengan warna kulitmu!"
"Ya udah iya Mas jangan di bahas lagi. Mas kita minum dulu yuk, cari minuman sambil neduh yang ada payungnya."
"Iya biar gak item!"
"Iya Mas hehe.."
Nasya tertawa dan merangkul kembali Ardi dan mengajaknya berjalan bersama.
Setelah membeli minuman Nasya bingung akan duduk dimana. Bukan karena tempat yang penuh, melainkan banyak wanita dengan baju terbuka di mana-mana.
"Kau lihat itu Mas, banyak cewek terbuka seperti itu! Kau tidak mau melihatnya kan Mas?"Ujar Nasya dengan tatapan judesnya.
"Tidak mungkin sayang. Cuma kamu wanita paling cantik di hatiku."
"Awas kamu Mas kalau sampai kamu bohong sama aku, kamu akan tanggung akibatnya!"
"Siap! Nyonya."
Nasya mengajak Ardi duduk di bibir pantai sambil merasakan hembusan angin sepoi-sepoi. Namun tak lama mereka duduk ada beberapa wanita yang datang dan duduk disampingnya. Mereka rata-rata hanya memakai pakaian seksi yang terbuka hampir semuanya.
Ardi sesekali melirik kearah mereka, mencuri-curi kesempatan ketika Nasya sedang sibuk memainkan ponselnya.
Batin Ardi bergejolak tidak mungkin laki-laki tidak melihat kesempatan yang ada di depan matanya."Seksi-seksi sekali mereka, apa lagi pakaian yang warna pink putih sekali kulitnya."
Nasya melihat jelas wajah Ardi melewati kamera ponselnya, Ardi terlihat sangat serius menikmati pemandangan indah turis-turis wanita tersebut dengan mata bulatnya.
Nasya menepuk pundak pundak Ardi dengan keras sampai Ardi merajuk."Mas enak ya!"Teriak Nasya seraya membulatkan kedua bola matanya lebar-lebar.
Ardi terhenyak setengah takut melihat wajah seram Nasya bak harimau yang hendak menerkam mangsanya.
"Kau ini ya Mas lihat yang warna-warni langsung deh matanya melotot! Mata dikondisikan Mas mata! Lihat yang bening aja langsung lupa sama istrinya!"Gerutu Nasya dengan lantang.
"Sayang aku ti___"
"Tidak usah cari alasan kamu Mas. Aku lihat sendiri kamu liatin mereka."
"Bukan begitu Sayang, aku hanya heran kenapa mereka tidak malu pakai pakaian seperti itu ditempat umum. Tuh lihat mereka rebahan seperti itu di atas pasir."Ujar Ardi lirih.
Bukannya membaik Nasya justru semakin kesal dengan Ardi yang seakan-akan mencuri kesempatan.
"Oh jadi gitu ya Mas, kamu curi-curi kesempatan buat bodohin aku! Aku juga bisa seperti mereka biar laki-laki disini pada liatin body aku yang tidak kalah dari mereka!"Nasya beranjak dari tempat dan berpura-pura akan melepas pakaian di pinggir pantai.
"Stop stop! Apa-apaan kamu! Lihat disini banyak orang ini tempat umum kau malah ingin membuka bajumu!"
Ardi menarik lengan Nasya dan mendudukkannya kembali.
"Kau ingin seperti mereka menjadi santapan mata lelaki yang melihatnya?"
"Makanya kalau punya mata dijaga jangan asal liat yang bening langsung di pelototin terus."Ujar Nasya.
"Mereka yang salah kenapa mereka pakai pakaian seperti itu, tidak mungkin laki-laki tidak memandangnya. Apalagi mulus seksi seperti itu."Ujar Ardi.
"Kau bilang apa? Mulus seksi!"Nasya mencubit lengan Ardi sangat keras dan kesakitan.
"Eh bukan Sayang, bukan seperti itu. Maksudnya bukan___"
"Bukan mulus seksi iya Mas!"
"Hm..kamu ini bawaannya emosi kuku sama aku. Sayang dari pada kita berantem mending kita kembali ke Hotel."Ardi spontan menggendong Nasya pergi dari pantai dan mengajaknya kembali ke Hotel.
********
Hotel...
Sambil mendudukkan Nasya ditepi ranjang Ardi memandang dengan tatapan mesranya. Ardi berusaha merayu Nasya agar tidak marah dan memeluknya dengan pelukan ternyaman seorang suami.
Nasya yang semula terdiam kini mulai membalas pelukan Ardi dengan pelukan eratnya. Nasya bersandar pada pundak Ardi seraya membisikan kata-kata untuknya.
"I love you Mas Ardi."
"I love you to Nasya."
Hari yang melelahkan seketika menjadi hari yang sangat penting, mengingat mereka berlibur untuk bulan madu.
"Kau tidak ingat dengan hari ini?"Ardi merapikan rambut Nasya yang beberapa helainya melintas pada wajah cantiknya.
"Ingat apa? Memangnya ada apa dengan hari ini Mas?"Ujar Nasya pelan namun tetap mesra.
"Tujuan kita untuk bulan madu bukan? Malam ini adalah tugas kita untuk lembur melaksanakan pekerjaan batin yang belum tersalurkan dari kemarin."
"Kau memang paling ingat Mas tentang hal seperti ini."
"Karena aku sangat, Mencintaimu Nasya."
Ardi menindih tubuh Nasya dan mencoba menggerayangi seluruh tubuhnMereka saling melepas rindu yang sudah tidak terbendung lagi yang sangat amat nikmat malam ini dan selesai dengan penuh kepuasan.