Tangan Rindu memukul betisnya yang pegal seraya meletakkan pantatnya di atas kursi di depan loker miliknya, ritmenya tidak berubah meski pikiran Rindu tidak berfokus pada tangannya. Entah kenapa ia masih memikirkan apa yang Indah katakan, kata-kata itu terus mengusiknya. "Pernah atau tidak bukan acuan, kan?" Rindu hanya mengeluarkan satu kalimat dan Indah tidak menjawabnya lagi tadi, gadis itu seperti mengajaknya berdebat namun ia akhirnya mundur ketika Irhen selesai urusannya dengan Pak Bowo dan memotong pembicaraan keduanya. Senyum yang Indah tunjukan kembali polos dan wajar sebab bagi Rindu yang ia tampilkan tadi masih tidak wajar. "Pulang sekarang, Ndu?" tanya Irhen yang menyusul Rindu. Sekarang fokusnya kembali, tangannya lebih intens memijat betisnya yang kaku. Irhen mendesah sera

