Suara derit dari kursi kayu yang bergesekan dengan lantai marmer karena di dorong ke belakang membuat Chris menatap pelakunya dengan heran. Tapi harusnya Rindu lebih bingung daripada Chris sendiri. "Anda kira bisa mempermainkan saya?" tanya Rindu marah, suaranya penuh penekanan dengan alisnya yang terangkat naik. Tangan Rindu mengepal pada kertas yang kini berada dalam genggamannya hingga lembaran itu menjadi kusut. "Apa ini seperti lelucon buat kamu?" tanya Chris balik. Pria itu mengambil posisi tegak dengan kedua jemari tangannya yang saling bertaut di atas meja. "Kau kira aku cukup gila untuk menawarkan sebuah pernikahan sementara itu hanya main-main saja?" "Untuk apa? dan ... dan kenapa?" Rindu menggerakkan kedua tangannya mempertanyakan kebingungan dalam isi kepalanya. Logikanya ti

