Curang

1649 Words
Chris akhirnya duduk bersama Rindu, ayahnya dan juga Derren yang kini menikmati secangkir kopi sambil berbicara santai. Kalau Irhen tahu bagaimana Chris tersenyum hari ini, temannya itu pasti sudah heboh sendirian. "Ahahaha ... apa pekerjaan putri saya sebagus itu?" Ayahnya Rindu senang ketika ia mendengar pujian tentang putrinya dari Chris dan Rindu juga agak heran mengenai hal itu, pada kenyataannya ia bekerja biasa saja selayaknya apa yang harus ia kerjakan. "Saya tidak menyangka seorang CEO sangat memperhatikan karyawan di bagian resepsionis, dan lagi Rindu baru bekerja beberapa bulan." Derren menatap Chris sambil menyeruput kopinya. Pria itu tampak tenang tapi bagi Rindu yang tahu bagaimana sifat asli Derren, ia bisa melihat hal yang berbeda. "Benar, saya juga tidak tahu kenapa melakukan hal itu." Jawaban Chris justru mengundang keheranan dari semua orang di sana termasuk Rindu. Ia tidak mengerti ke mana arah tujuan Chris berbicara. Namun ayahnya Rindu lantas tertawa, mencairkan suasana dan membuat mereka mengalihkan pembicaraan. Kehadiran Chris membuat Rindu merasa aman meski ada Derren di sana. Rasanya ia berada dalam pantauan padahal Chris tidak menjanjikan apa pun juga tidak mengerti situasi yang terjadi, Rindu tidak merasa cukup dekat untuk terbuka kepada pria itu. Tapi begini saja sudah luar biasa sekali baginya. Dan ketika mereka berpisah ada perasaan sedih yang aneh merayapi hati Rindu, mungkin juga karena ia tahu bahwa setelah ini dirinya dalam bahaya. Derren merangkul bahu gadis itu dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil menyusul ayahnya yang sudah berada di dalam sebab Rindu beberapa kali menoleh ke arah Chris seakan tengah meminta pertolongan dan Derren harus mewaspadainya, selama ini tidak ada yang bisa mengusik hubungan keduanya meski beberapa kali ada pria yang mendekati Rindu tapi mereka mundur dengan sendirinya ketika tahu bahwa Derren memiliki segalanya untuk dibanggakan juga karena Rindu menunjukkan bahwa ia menghargai hubungannya dengan Derren namun Chris adalah pengecualian sebab pria itu bahkan bukan saingan Derren. Meski ia tahu kalau Rindu bukanlah gadis yang mudah tergoda hanya karena kemapanan seorang pria tapi bisa jadi ada hal lain yang membuatnya berpaling. Derren tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tangan Derren mengepal ketika ia berpura-pura sopan berpamitan kepada Chris namun rahangnya yang mengeras dapat Chris lihat dengan jelas dan ia suka sekali mempermainkan Derren seperti ketika ia mengatakan banyak hal tentang Rindu. "Terima kasih sudah memperhatikan Rindu, tapi saya harap Anda tahu batas Anda di mana!" "Tentu saja." Chris tampak tidak terintimidasi sama sekali ia bahkan dengan santainya menatap Derren yang menatapnya dengan tajam. Tatapannya bergetar menahan emosi yang bisa saja meluap. Derren kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan hendak pergi dari sana tapi ayahnya Rindu membuka jendela lalu melambaikan tangan kepada Chris dengan senyumnya yang terasa begitu hangat, siapa sangka pria itu membalasnya dan tersenyum juga tanpa ragu. Setelah kepergian Rindu dan ayahnya, Chris menatap lengannya yang masih ia angkat ke atas dan sudut bibirnya yang merekah, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya bahkan jika ia tersenyum kepada orang lain sekalipun Chris tahu bahwa senyumnya tidak pernah selebar ini, kesadaran dengan cepat membuat Chris menurunkan tangannya ke bawah sebelum ada yang menyadari apa yang sedang ia lakukan. Petugas valley memberikan kunci mobil kepadanya ketika mobil Chris sudah siap, pria itu masuk dan meninggalkan restoran dengan cepat. Meski begitu sepanjang perjalanan Chris masih saja memikirkan apa yang sedang ia lakukan tadi dengan sadar dan gilanya lagi seolah bukan dirinya. Rumahnya yang megah menyambut Chris, satu persatu kakinya turun dari pijakan pada mobil mewahnya dan ia memberikan kunci kepada pelayan di depan kemudian masuk ke dalam. Tangannya menarik dasi yang masih terpasang dengan rapi kemudian membuatnya longgar, ia juga melepas jas yang ia kenakan dan memberikannya kepada pelayan lainnya yang mengekor juga di belakang. Chris menghentikan langkah kakinya, ia menatap ke arah anak tangga yang membawa dirinya ke lantai dua, tangan Chris bertolak di pinggang kemudian dengan kasar ia membuang napasnya. Pelayan yang tepat berada di belakang dirinya merasa sedikit heran tapi ia tidak mungkin bertanya sampai akhirnya Chris naik ke atas dan kembali bersikap seperti semula. Rindu sampai di kamar kosnya, ayahnya masuk lebih dulu sedang Derren menahannya di luar sebentar untuk berbicara berdua saja. Ketegangan kembali terjadi diantara keduanya, atau hanya Rindu saja yang merasakannya sebab Derren sepertinya tidak. Ketakutan Rindu juga kembali muncul meski tidak terlalu besar. "Kamu kenal cowok tadi?" Derren menahan Rindu dalam jangkauannya, gadis itu bersandar di dinding sedang tangan Derren ia rentangkan untuk menghalangi Rindu. "Dia bos aku." Rindu tidak pernah bercerita mengenai Chris kepada Derren, karena itu juga menurutnya bukan hal yang penting dan lagi Rindu tidak sedekat sekarang dengan bosnya itu. "Bos? Hah!! Untuk apa seorang bos sedekat itu dengan karyawannya?" Derren tampak emosional dengan napasnya yang memburu, ia memang tidak suka sesuatu yang menjadi miliknya diusik. "Derren, aku capek. Please!" Rindu memohon agar pria itu tidak mengusiknya, hari ini saja, saat ayahnya ada di sini. "Ada ayah juga di sini." Derren mungkin masih bisa berdebat dengan Rindu karena alasan yang pertama, tapi alasan yang kedua, ia tidak bisa membantah. Ia melepaskan tangannya dari dinding kemudian memasukkannya ke dalam saku. Memberi isyarat kepada Rindu dengan menggerakkan kepalanya agar gadis itu bisa masuk. Namun Derren sepertinya belum selesai, ia berubah pikiran dan menarik lengan Rindu, mencengkeramnya lebih kuat karena tahu Rindu tidak mungkin berteriak. "Jangan buat ayah kamu khawatir, kamu tahu aku, kan?" bisik Derren di telinga Rindu hingga gadis itu bisa merasakan napas pria itu yang menerpa daun telinganya. Rindu buru-buru mengangguk, ia menggigit tepian bibirnya dengan keras dan mengeratkan kepalan tangannya, Rindu tidak bisa menahan diri untuk tidak takut kepada pria itu padahal Derren suka sekali dengan ekspresi wajah Rindu yang takluk padanya. Satu kecupan mendarat di pelipis Rindu dengan senyum di bibir Derren. "Anak pintar." Rindu buru-buru masuk ke dalam kamar dan berjalan cepat menuju kamar mandi sampai ayahnya menatap Rindu dengan kebingungan. "Rindu menahan diri sejak tadi, jadi dia pasti sudah tidak kuat lagi." Derren terkekeh sambil menggeleng, ia beralasan kepada ayahnya Rindu ketika pria itu tampak khawatir menatap ke arah di mana putrinya menghilang. "Anak itu, dasar!" Ayahnya berdecak bersama Derren yang kemudian pamit untuk pulang, ia berjanji untuk datang lagi besok dan mengantar ayahnya Rindu ke stasiun. Sedang Rindu berdiam diri di dalam kamar mandi sambil menyalakan kran air dengan deras, ia tidak mau ayahnya mendengar bagaimana ia di dalam sana sedang kacau, tangannya juga tidak berhenti mencuci pelipis yang dicium oleh Derren tadi berulang kali seolah itu adalah perlakuan yang menjijikkan. Malam harinya terasa kosong meski ayahnya tidur di samping Rindu, ia terus memikirkan bagaimana caranya lepas dari Derren tapi ayahnya tetap aman, segala pemikiran mulai berkembang di kepalanya namun tidak ada yang menemui jalan terang, seolah segalanya tidak akan berhasil meski Rindu mencobanya. Buntu. Bahkan hal tergila yang bisa ia pikirkan juga tidak membuatnya merasa bahwa itu adalah pilihan yang tepat. Rindu mungkin harus berdamai dengan takdirnya, mati perlahan di tangan pria itu. Tepuk tangan meriah terdengar dari kerumunan orang di sebuah lapangan golf pribadi, lampu menyala terang dari setiap sisi lapangan dan membuat penglihatan di sana terlihat jelas termasuk bagaimana dua orang pria berlumuran darah di paksa berdiri, satu memegang stik golf dan satunya lagi dipaksa membuka mulutnya sebagai lubang untuk memasukkan bola. "Pukul yang benar!" perintah seorang pria yang berdiri tidak jauh dari keduanya, tangannya juga memegang stik golf yang sama dengan bagian ujungnya yang berlumur darah segar. Kengerian itu melibatkan nyawa, tangis ketakutan bahkan pecah dari mulut kedua pria yang jadi sasaran kemarahan pria tersebut bahkan permintaan maaf dan sujud yang mereka lakukan tidak memiliki efek apa-apa. "Aku tidak datang ke sini untuk mendengarkan kamu memohon," tolak pria itu dengan santainya. "Kau bahkan memaksaku bermain golf padahal aku masih memakai pakaian seperti ini?" Pria itu memegang tepian jas yang ia pakai untuk menunjukannya kepada pria tersebut. "Tuan Chris, Tuan, saya mengaku bersalah ... saya mohon kali ini ampuni saya." Pria itu meletakkan stik golfnya dan mencoba memohon kembali kepada Chris. "Kau tidak memohonkan ampun untuk pria itu juga?" Chris menatap pria yang masih setia membuka mulutnya meski darah mengucur dari pelipis dan kepalanya. Pria yang berlutut di depan Chris itu langsung menoleh pada temannya yang tampak sama menyedihkannya. "Iya, iya, ampuni kami, Tuan." "Kau ingin diampuni setelah membocorkan rahasia perusahaan?" sinis Chris. "Kau harusnya tahu ada risiko yang harus kau bayar dari tindakanmu ini!" "Ampuni kami, Tuan. Ampuni kamiiiiiii ...." Tangisan pria itu tidak berhenti bahkan meski suaranya hampir habis sekali pun hal itu lebih baik daripada harus mati di tangan bosnya ini. Sedang pria yang satunya hanya bisa diam menunggu nasibnya, ia kehilangan satu giginya karena benda bulat itu dipukul dan tepat sasaran hingga tepuk tangan riuh mewarnai kesakitannya. "Apa kesalahanmu sampai harus ku ampuni?" Pria itu mengakui kesalahannya meski itu artinya ia sedang mengakui dosanya padahal Chris tidak peduli apakah ia mengaku atau tidak karena ia lebih tahu kebenarannya. Chris geram ketika ia mendengar bahwa salah satu data perusahaan telah dicuri, isinya menyangkut proyek yang tengah mereka jalani lengkap dengan data perusahaan beberapa tahun belakangan. Chris memang belum sampai mengalami kerugian namun hal itu karena keduanya dicegah oleh orang kepercayaan Chris ketika hendak menyerahkan semua datanya pada perusahaan pesaing bukan karena kesadaran keduanya. "Kau ingin diampuni?" Mendengar kata pengampunan, pria itu langsung berhenti menangis dan menganggukkan kepalanya dengan pasti. Ia akan menuruti apa pun mau Chris asal dirinya bisa selamat. Chris berbalik dan mengabaikan keduanya, ia bahkan menghentakkan kakinya ketika pria itu memegang kaki Chris dengan erat dan memintanya untuk tidak pergi. "Katakan selamat tinggal!" Chris menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana. Pria itu membuka pakaiannya begitu saja, di sembarang tempat, ada noda darah pada kemeja putihnya dan membuat Chris merasa jijik, ia mencuci wajahnya di wastafel ketika tahu noda darah yang sama muncul di sana. Chris tidak suka bermain kekerasan apalagi kepada wanita namun kecurangan adalah pengecualian, lagipula mereka tahu risiko yang harus ditanggung ketika tergoda dengan iming-iming uang yang jumlahnya tidak sedikit itu. "Tuan, apa kita lenyapkan mereka sekarang?" "Kau, carikan manager keuangan yang baru."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD