Kini Emira sudah duduk di kursi meja makan, bersama Rasya dan kedua orang tua Rasya. Mereka menikmati sarapannya, kecuali Emira. Yang masih merasa canggung dengan papa Rasya.Emira menyuap dan mengunyah pelan sekali makanannya. Papa Rasya menanyakan kabar papa Emira, dan Emira jawab kalau papanya sudah sadar. Dan belum ada kabar lagi sampai saat ini.
Sarapan telah selesai. Emira membantu mama Rasya untuk membereskan piring dan gelas yang kotor bekas sarapan.
"Emira yang cuci ma piringnya."
"Eeh.. Emira. Jangan.. nanti biar mama aja. Kamu duduk aja. Kaki mu kan masih sakit. Jangan kelamaan berdiri."
"Kaki aku udah baikan, ma. Aku udah bisa jalan sendiri kok."
"Udah biar nanti mama aja yang nyuci."
"Nggak apa-apa", Emira sudah menuang sabun ke dalam mangkuk spons nya lalu mulai menggosok gelas di tempat pencucian piring.
"Ya sudah, kalau kakinya capek, stop ya, Em."
"Iya, ma."
Mama Emira lengser dari dapur menuju ruang depan.
Setelah sarapan Rasya merebahkan tubuhnya di sofa ruang TV. Menyalakan TV dan mencari channel yang menyiarkan film kartun. Sang papa sudah berada di teras, duduk santai di kursi teras sambil memandangi istrinya yang sedang menyiram tanaman di halaman.
Setelah Emira membereskan cucian piringnya, Emira berjalan menuju ruang TV, yang sudah terdapat Rasya di sana.
Melihat Rasya rebahan memenuhi sofa panjang, Emira hanya memandanginya saja. Rasya pun merasa heran, "Kenapa, Ra? Bengong." Tidak peka. Rasya tidak peka, Emira ingin ikut duduk di sofa itu, tidak mungkin Emira duduk lesehan di karpet bulu. Sakit kan lututnya.
"Nggak apa-apa. Mau ikut duduk di situ." Emira menunjuk sofa dengan dagunya.
Rasya pun bangun dari rebahannya. "Sini" menepuk-nepuk sofa di sisinya persis.
Yang kemudian Emira daratkan bokonnya di ujung sofa, jauh dari lokasi yang Rasya tepuk-tepuk tadi.
Rasya rebahkan lagi tubuhnya di atas sofa itu. Tapi Rasya putar posisi, kepalanya Rasya daratkan di paha Emira. Emira pun menolak, medorong kepala Rasya untuk menjauh dari pangkuannya. "Rasya, kamu ini lama-lama nggak jelas."
"Ya elah, Ra. Pelit banget. Numpang buat bantal masa gak boleh."
"Nggak boleh!" Ketus Emira.
Akhirnya Rasya kembali duduk. Kembali fokus menonton TV. Sedang Emira fokus dengan HP nya.
Setelah beberapa saat dalam keseriusan masing-masing, Rasyapun akhirnya bicara.
"Ra, ntar malem jalan yuk." berhubung nanti malam adalah malam minggu. Malam di mana muda-mudi menghabiskannya dengan berduaan. Makan, nonton bioskop, atau sekedar jalan-jalan ditaman.
"Nggak mau, nanti kaki aku sakit lagi."
"Ck, naik motor Ra. Muter-muter aja. Nyari angin sambil cuci mata. Ya? mau ya?."
"Boleh juga sih, tapi mau kemana? Uang aja aku gak punya sama sekali. Tinggal 20 ribu doang sisa uang jajan kemarin."
"Ya ilah, emang kalau jalan kudu pake uang?. Ya nggak usah jajan lah, Ra. Apa ntar kalau kamu ada yang pengen di beli biar aku beliin."
"Ngga usah, ya udah ntar muter-muter naik motor aja. Nyari udara segar."
"Oke" Rasya setuju.
**
Saat ini sudah jam 10 pagi. Tapi belum ada kabar apapun dari sang mama yang tengah berada di Surabaya.
Emira menghela nafas. "Mama lagi apa sih? Pesan aku nggak dibales sama sekali." Ucapnya lirih.
Tak sabar menunggu balasan dari sang mama, Emira pun menelponnya. Tapi, HP mama Emira sedang tidak aktif rupanya. Huh, Emira kesal. Memandangi layar HP nya.
Rasya yang sedari tadi memperhatikan Emira pun menanyakan kenapa.
"Kenapa, Ra?."
Emira melirik tajam pada Rasya. Kesal rasanya. Rasya jadi korban kekesalan.
"Ck, aku cuma nanya, Ra. Jangan kayak gitu liat akunya. Aku takut jadinya nanti."
Baru akan menyahuti ucapan Rasya, HP Emira berbunyi. Terlihat ada panggilan dengan kontak bertuliskan "Kak Lyra". Kakak dari Emira yang sudah berkeluarga dan saat ini tinggal di Bandung. Pernikahan mereka dahulu tidak di restui, sebab waktu dilamar Lyra baru lulus SMA. Merekapun tetap nekat untuk menikah. Sampai saat ini hubungan keluarga jadi tidak harmonis. Lyra masih merasa bahwa kedua orang tuanya masih belum menerima pernikahan mereka.
"Halo, Assalamu'alaikum" Emira mengangkat telfonnya. Merasa heran, tumben Kak Lyra menghubunginya.
"Wa'alaikumsalam, kamu kemana, Ra?"
"Ada, kenapa kak?"
"Kok gembokan gerbangnya?."
Hah?!. Emira menegakkan duduknya. Terkejut dengan ucapan kakaknya barusan. Eh Kak Lyra pulang kah?
"Kakak pulang?." Emira menanyakan.
"Iya, kamu dimana sih? Situasi lagi kayak gini sempet-sempetnya ngayap!" Ketus Lyra.
Emira kicep, kakaknya memang seperti itu. Omongannya suka asal bunyi.
"Aku lagi di rumah temen, di seberang lapangan rumahnya."
Pandangan Lyra ke arah rumah yang Emira sebut barusan.
"Buruan pulang, aku mau masuk ini!." Masih dengan nada sewotnya.
"Kuncinya dibawa mama, aku juga nggak bisa masuk dari kemarin. Kakak ke sini aja dulu."
Tanpa menjawab Lyra tutup sambungan telponnya. Emira menatap layar HP nya kesal. "Hsssh.. dateng-dateng ngomel-ngomel!" Emira menggerutu.
Yang sejak tadi tidak lepas dari perhatian Rasya. " Siapa sih, Ra? Kayaknya kesel amat muka."
"Kakak aku..."
"Assalamu'alaikum...". Lyra mengetok pagar rumah Rasya. Yang kebetulan mama Rasya sedang berada di teras.
"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" Mama Emira mendekati gerbang kemudian membukanya. Mama Emira melihat dua orang yang baru pertama kali dilihatnya.
Lyra merasa heran, kenapa penghuninya berbeda dengan yang dulu sebelum ia pindah?
"Eh, saya kakaknya Emira tante. Dan ini suami saya," menunjuk sang suami dengan ibu jarinya khas orang jawa. "Maaf, Katanya Emira ada di sini ya tante?." Ucap Lyra sopan.
"Ooh, kakaknya Emira.. Mari masuk dulu. Tante panggilkan Emiranya sebentar."
Belum sempat dipanggil, Emira sudah keluar menuju teras dengan dituntun oleh Rasya..
"Emira, ini kakaknya datang." Ucap mama Rasya.
Lyra menautkan alisnya geram melihat adiknya jalan bergandengan dengan pria, di rumah oranng pula.
"Kak," Emira menyalami dan memcium tangan Lyra. Begitu juga pada kakak iparnya. Rasya juga melakukan hal yang sama.
"Mari masuk dulu, Em, kakaknya ajak masuk dulu." Mama Rasya mempersilahkan Lyra dan suami untuk masuk.
Emira mengajak Lyra masuk, Rasya masih diposisi membantu Emira berjalan.
Lyra yang mengekori dari belakang terlihat geram dengan adiknya. Apa-apaan adiknya ini. Nempel sama cowok dirumah orang pula.
Merekapun duduk di sofa ruang tamu. Rasya lengser ke ruang tengah meninggalkan Emira dan kakaknya.
Mama Rasya juga sedang membuatkan minum untuk tamunya.
"Ra!" Lyra menegur Emira dengan suara pelan tapi ketus. "Kamu, apa-apaan sih? Di rumah orang kelakuanmu dah kayak laki bini?" Lyra terlihat kesal pada adiknya.
Sang kakak ipar hanya diam menyimak.
Emira tidak menjawab ocehan Lyra. Emira hanya menunjukkan Lututnya yang masih terlihat lebam.
Lyra melongo melihatnya. "Udah gede masih pecicilan aja sih kamu, nyusahin orang aja."
Emira melengos, malas berdebat, walaupun kesal dengan ucapan kakaknya.
"Ngomong-ngomong ada apa kakak tiba-tiba pulang? Udah setahun lebih kakak nggak mau pulang."
"Memangnya mama nggak cerita sama kamu?".
"Cerita apa? Dari subuh aku kirim chat, nelpon mama tapi ngga ada respon sama sekali. Malah tadi HPnya nggak aktif."
"Masih di pesawat berarti tadi."
Eh, Emira terkejut lagi.
"Mama udah balik ke sini?"
Emira bertanya antusias pada Lyra. Bertepatan dengan mama Rasya yang datang membawa 3 gelas minuman dan 2 buah toples berisi camilan.
"Duh, tante nggak perlu repot-repot gini tante." Ucap Lyra sopan.
"Nggak repot kok, silahkan di minum. Oiya rumahnya dimana kakaknya Emira?."
Mama Rasya duduk di dekat Emira.
"Sampe lupa ma, kenalin ini ma.. kakak Emira namanya Kak Lyra. Terus ini suaminya namanya Kak Dema."
"Kami dari Bandung, tante"
"Ooo.. habis perjalanan jauh dong ini?"
"Iya tante."
"Ya sudah, dilanjut ngobrolnya. Tante ada perlu sebentar. Tante masuk dulu ya.." Ucap mama Rasya pada Lyra.
"Iya tante, trimakasih tante."
"Sama-sama, jangan sungkan ya...."
Lyra mengangguk sopan.
"Em, mama kebelakang dulu. kalau perlu apa-apa, Rasya ada di ruang tengah."
"Iya ma."
Kembali Lyra begitu heran. Sedekat itu Emira dengan keluarga ini. Manggil tante dengan sebutan mama pula.
"Ra, kenapa kamu manggil mama ke tante itu?" Ucap Lyra pelan tapi mengintimidasi.
"Mama yang mau, tadinya aku manggil tante. Tapi kata mama suruh panggil mama aja. Aku mau dijadiin anaknya kayaknya."
Lyra melirik tidak suka. "Nggak lucu!".
" Beneran mama pulang hari ini, kak?
"Iya, terbang subuh tadi kata mama."
"Emang papa udah sembuh? Kok udah di tinggal aja? Apa karena aku kekunci gak bisa masuk rumah?".
"Nanti aja ceritanya kalau udah di rumah. Nggak enak kalau cerita di sini."
_________________________________________
bersambung...