Di bandara Minang Kabau, paman dan sepupu Alvin sudah menunggu untuk menjemput. Kemudian mereka bersama-sama menuju Bukittinggi, ke kediaman orang tua Meidina. Halaman rumah yang luas milik orang tua Meidina itu kini sudah dipenuhi beberapa kendaraan. Napas Meidina tercekat detik itu juga, saat melihat sebuah bendera kuning bertengger di pagar rumah, ketika mobil milik mamak Alvin melintasi pagar rumahnya. Sejak turun dari mobil, Alvin memeluk tubuh Meidina yang terasa ringan di tangannya. Meidina tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri, rasanya seperti terbawa angin, hingga berdiri pun Meidina rasanya tak sanggup. Alvin membantu Meidina menapaki tangga kayu menuju ke dalam rumah. Di tengah-tengah ruangan, beberapa orang yang Meidina kenal adalah sepupu abak-nya sedang mengaji di samping t

