Hari-hari berganti hingga bulan baru yang dinanti sudah datang untuk dinikmati. Kalea dan keluarga telah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan. Peduli apa dengan ancaman Dirga, yang penting ia kan bahagia. Cukup instropeksi diri setelah menerima pelajaran hidup yang bisa dikatakan buat insan mati berdiri. "Ma, nanti acaranya dibikin gimana?" tanya Kalea sembari menata souvenir yang nantinya akan dibagikan ke para undangan. "Katanya, ijab qabul sama walimahan aja." jawab mama Farida. "Oh, ya udah." "Emang mau acara gimana lagi?" "Nggak ada, itu aja udah." "Dirga nggak diundang?" Kalea menggeleng sembari tangannya yang terus aktif bekerja. "Dia pernah ada dalam kehidupanmu, jangan lupa. Setidaknya itung-itung berbagi kebahagiaan." "Nggak, Ma." Kalea kekeuh menggeleng—men

