Riyana duduk dihadapan Dokter, ada juga Reyhan yang berada disebelahnya. Riyana tersenyum saat tangan sang Kakak memeluk bahunya, membuat gadis itu segera menyandarkan kepalanya pada bahu Reyhan.
"Kenapa adik Lo, Rey?" Tanya Dokter Randi, teman lama Reyhan yang sekarang sukses menjadi seorang Dokter.
Reyhan menepuk-nepuk bahu Riyana, sehingga membuat gadis itu reflek menjauhkan kepalanya dari bahu Reyhan. "Apa?" Tanya Riyana.
"Bilang sama Dokternya, kamu kenapa? Pusing, mual, atau gimana?" Sahut Reyhan.
Alih-alih menjawab, Riyana malah menarik tangan Reyhan untuk digenggam lalu kembali bersender pada bahu laki-laki itu. "Ish, Kakak dong yang jawab." Ujar Riyana.
Reyhan mengernyit bingung. "Loh, kamu yang sakit ngapain tanya ke Kakak?"
"Kak Rey..." Riyana menggoyangkan tangan Reyhan, mata gadis itu terlihat mulai berkaca-kaca.
Reyhan menghela nafas panjang, mengusap rambut Riyana sejenak kemudian berujar kepada Dokter Randi. "Baru 6 bulan gue ngga kesini, Lo udah lupa sama adik gue?"
Dokter Randi terkekeh pelan. "Jadi demam ekstrim lagi?"
"Iya. Badannya panas banget, tadi dia bilang pusing terus ngerasa mual." Jelas Reyhan, Dokter Randi pun mengangguk dan mengajak Riyana untuk segera berbaring di Brankar, sedangkan Reyhan akan menunggu dimeja Dokter saja.
Sembari menunggu Riyana diperiksa, Reyhan mengeluar ponselnya. Berniat untuk menelfon Riyan agar segera pulang, karna hanya lelaki itu yang bisa mengurus Riyana sakit, Reyhan terlalu bodoh untuk berhadapan dengan orang sakit.
"Hallo? Kenapa, kak?"
Reyhan menarik nafasnya. "Riyana sakit, pulang sekarang."
"Aku udah dirumah, kak. Di Kampus lagi ada rapat dosen, jadi mahasiswa-nya pulang lebih awal. Kakak dimana?"
"Kakak lagi ajak Riyana ke Dokter. Kamu mau buatin Riyana bubur atau Kakak beli aja?" Reyhan bertanya sambil memandang Dokter Randi yang datang dan duduk dihadapannya.
"Biar aku aja yang bikinin."
Reyhan pun mengangguk dan mematikan sambungan telfonnya. Dia menerima beberapa obat untuk Riyana, dan seketika Reyhan mengemyit bingung saat menyadari bahwa obat yang diberikan Dokter Randi sangat banyak dan berbeda dari biasanya. "Ini obat apa dosa, banyak banget. Dulu kayanya Lo ngasi obat ngga segini banyaknya, ngga ada juga obat yang modelan gini." Celetuk Reyhan.
Dokter Randi nampak menghembuskan nafas kasar beberapa kali, dia melepaskan Stetoskop yang melilit dilehernya kemudian berkata. "Kondisi Riyana emang sama sih kaya biasanya kalo Lo dateng kesini, dia demam kama sering nangis."
Reyhan terdiam dan menyimak.
"Tapi sekarang ada yang beda, Mulai sekarang, Riyana divonis mengidap penyakit Asma."
Reyhan merasa jantungnya berdetak lebih cepat, bersama dengan nafas yang tertahan, dia menoleh kearah Riyana yang masih terbaring diatas Brankar. Reyhan lalu kembali menatap Dokter Randi yang sudah membawa sebuah inhaler ditanganya.
"Lo harus pastiin alat ini selalu dibawa sama Riyana, dan juga beberapa obat yang gue kasi tadi. Jangan biarin dia nangis lagi, info selengkapnya udah gue tulis disini." Dokter Randi memberikan Reyhan secarik kertas bersama Inhaler.
Reyhan masih terdiam, sulit untuk membuka suara dan bingung harus bereaksi seperti apa. Sehabis menaruh uang dimeja, lelaki itu berjalan menghampiri Riyana dan menggendong gadis itu untuk segera dibawa pulang.
Selama berjalan menuju mobil, Reyhan terus bertanya pada dirinya sendiri. Apa ini kesalahannya? Apa Reyhan gagal membuat Riyana bahagia sampai adik perempuannya ini terkena Asma kama terlalu sering menangis dalam jangka waktu yang lama Bukankah Reyhan juga sering menangis sendirian, lantas mengapa dirinya masih dibiarkan sehat?
Harusnya gue bisa mastiin Riyana ngga akan pernah nangis. Batin Reyhan, dia menurunkan tubuh Riyana dari gendongannya dan membawa gadis itu masuk kedalam mobil.
Riyana menyadari raut wajah Reyhan yang berubah setelah mereka keluar dari ruangan Dokter Randi tadi, sambil menepuk pelan dadanya yang terasa sakit, gadis itu menoleh kearah Reyhan yang sedang memakai Safetybelt. "Kak, Riyana baik-baik aja kan?" Tanyanya.
Reyhan tersenyum lalu memberikan obat yang diberikan Dokter Randi kepada Riyana. "Mulai sekarang, jangan nangis terus ya. Rajin-rajin minum obat, dan selalu bawa alat ini kemanapun kamu pergi."
Riyana menerima sekantung obat, dia memandang penuh tanya saat mengambil Inhaler dari tangan Reyhan. Gadis itu kemudian bertanya. "Inhaler? Aku gapapa kan, kak?"
Tangan Reyhan terangkat untuk mengusap rambut Riyana, lelaki itu mencium kening adiknya sesaat, barulah menjawab. "Kamu punya penyakit Asma, mulai sekarang janji ya sama kakak, Riyana ngga boleh nangis lagi."
Riyana menatap Inhaler itu dengan pandangan tak percaya, pantas saja belakangan ini dia sering merasa sesak ketika menangis ataupun saat berhadapan dengan debu dan polusi, dan sekarang Riyana tau penyebabnya karna dia mengidap Asma.
"Lucu banget, jadi Riyana harus bawa ini kemanapun ya, kak?"
Reyhan mengangguk. "Kamu harus bersyukur sama Tuhan, karna ada saatnya dimana Tuhan memberikan hamba-nya penyakit demi kebaikan hamba-nya itu sendiri, jadi jangan pemah merasa sedih saat kamu mendapatkan penyakit."
"Seperti sekarang contohnya. Tuhan ngga mau kamu selalu nangis, jadi dia menaruh penyakit ditubuh kamu biar kamu bisa mengendalikan diri buat berhenti menangis terlalu sering dan terlalu lama."
Riyana tersenyum tulus, hatinya yang sempat menolak kenyataan kini menjadi lebih menerima segalanya. Benar kata Reyhan, tidak selamanya penyakit adalah sebuah kutukan, namun penyakit diturunkan karna Tuhan tidak mau melihat para pemujanya terlalu merasa sedih, seperti Riyana contohnya..
Reyhan pun melajukan mobilnya, pergi meninggalkan tempat kerja Dokter Randi dengan senyuman yang masih setia menghiasi wajahnya. Reyhan pun juga sudah menyadari, bahwa ini bukanlah kesalahannya, melainkan cara Tuhan untuk membantu Riyana agar berhenti larut dalam kesedihannya.
Saat sampai dirumah, Riyan langsung datang dan membuka gerbang. Lelaki itu langsung membuka pintu mobil dan membawa Riyana masuk kedalam rumah, sedangkan Reyhan akan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Riyan mengantar Riyana sampai dikamamya, membantu gadis itu membuka seragam sekolahnya dan memberikan sepasang Piyama agar segera dipakai. "Badan kamu panas banget, kenapa tiba-tiba gini sakitnya?" Tanya Riyan sembari membuka sepatu Riyana.
"Ya mana aku tau, Kak. Kalo sakitnya bilang mau mampir, kan Riyana bisa buat persiapan dulu, lah ini datengnya ngga bilang-bilang." Jawab Riyana, dia menolak untuk memakai Piyama sebab tubuhnya terasa panas dan berkeringat.
Karna Riyana memilih untuk memakai Thanktop dan juga Hotpans saja, Riyan pun mengambil Piyama yang dia berikan tadi dan kembali disimpan dilemari. Lelaki itu lantas keluar dari kamar Riyana untuk mengambil Bubur yang telah ia buat tadi.
Riyana menarik selimut dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran diranjang. Gadis itu terdiam sambil menatap jendela kamarnya yang terbuka dan tersenyum saat semilir angin berhembus memasuki kamarnya. "Sebenamya apa rencanamu, Tuhan?" Gumam Riyana.
Pintu kamar terbuka, Reyhan masuk kemudian menaruh ransel Riyana dikursi belajar. Lelaki itu duduk disebelah adik perempuannya, lalu menggenggam tangan Riyana. "Kakak harus apa biar pusingnya hilang, hm?" Ujarnya,
Riyana menggeleng. "Cukup Kak Rey sama Kak Iyan ada dirumah aja, Riyana udah seneng."
Tak lama, Riyan datang membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan juga s**u vanilla. "Ayo makan dulu, habis minum obat langsung tidur ya." Kata Riyan.
Meskipun rasa menolak itu ada, namun Riyana memilih untuk makan saja. Gadis itu membuka mulutnya ketika Riyan hendak menyuapkan sesendok bubur padanya, sembari mengunyah Riyana bicara. "Kakak, aku kena Asma tau."
Riyan mengangguk. "Udah Kakak duga sih, tiap kamu nangis aja sering sesak gitu sampe mukul mukul dada."
"Aku udah masak buat Kak Rey, nanti kalo laper tinggal makan aja." Ujar Riyan kepada Reyhan yang duduk disebelahnya sambil bermain ponsel dan dibalas anggukan oleh lelaki itu.
Riyan pun kembali sibuk menyuapi Riyana sambil bercanda tawa, ketiganya seakan tak lelah berbagi kisah meskipun semesta sedang tidak berpihak kepada mereka. Sekuat apapun takdir akan menghancurkan hati mereka, tidak akan ada satupun yang tumbang jika ketiganya masih bersama, sama-sama menjadi tempat untuk pulang dan saling menyalurkan kekuatan lewat dekapan.
Asik mengobrol, mereka dikejutkan dengan suara ketukan yang berasal dari pintu kamar. Karna Riyan masih menyuapi Riyana, maka Reyhan pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu, hendak mengetahui siapa yang datang dan langsung masuk kedalam rumahnya.
Pintu kamar terbuka, menampakan seorang wanita cantik berambut sebahu yang berdiri menatap lurus kearah Reyhan sambil bersedekap d**a. Bunda, melangkah maju mendekati putra sulungnya lalu berujar. "Nanti malem ada pesta pemisahan, nenek mau kalian bertiga dateng."
Reyhan memicingkan matanya. "Perpisahan pun ada pestanya? Kita kan udah berpisah dari dulu, penting banget buat kita harus dateng?"
Bunda mau menjawab, tapi tertunda sebab Riyana tiba-tiba muncul dari belakang Reyhan dan bersuara, "Bunda? Kenapa berdiri disitu, ayo masuk." Kata Riyana.
Bunda menggeleng. "Saya disini untuk mengundang kalian, jika berniat untuk bergabung, silahkan datang ke Rumah Bratadikara jam 7 malam."
Riyana hendak mengejar Bunda yang berlalu pergi setelah berujar demikian , namun malah ditahan oleh Riyan yang berdiri disebelahnya. Dari depan pintu kamar Riyana, mereka hanya bisa memandang kepergian Bunda dengan hati yang berdenyut sakit, wanita itu tidak berniat untuk menoleh kebelakang, menatap ketiga anaknya yang berharap sorot mata penuh kasih sayang itu kembali terlihat.
Reyhan menutup pintu dan menarik Riyana untuk kembali berbaring pada ranjangnya, mengambil segelas air dan memberikanya pada gadis itu. Reyhan bergerak hendak mengambil obat, namun Riyana menahannya. "Kak, kita kesana ya?"
Reyhan menarik nafas dalam-dalam, pandangan lelaki itu sangat menusuk yang membuat Riyana tau, Reyhan tidak ingin mereka pergi ke rumah Bratadikara. Riyana menoleh saat Riyan memberikanya obat, gadis itu menerima obat tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Rey, aku pengen-
"Tidur sekarang, biar obatnya bisa bekerja." Reyhan memotong ucapan Riyana, lelaki itu bangkit dan menarik Riyan yang berdiri diujung Ranjang untuk mengikutinya pergi meninggalkan Riyana agar tertidur.
Tak sedikitpun Riyan melawan saat tanganya ditarik pergi oleh Reyhan, membuat Riyana yang melihatnya hanya bisa terdiam, padahal dia berharap Riyan bisa membantunya meyakinkan Reyhan agar mereka bisa pergi ke rumah Bratadikara, dan ikut bergabung dengan acara yang diadakan disana, namun sepertinya Riyan memihak Reyhan.
Suara isakan terdengar, membuat langkah Riyan berhenti begitupun dengan Reyhan yang hendak membuka pintu kamar. Keduanya berbalik secara kompak dan terkejut melihat Riyana yang sudah menangis sambil menutupi wajahnya menggunakan selimut, Riyan reflek menghampiri gadis itu sedangkan Reyhan masih terdiam pada posisinya.
"Kenapa nangis, hey?" Tanya Riyan. Dia mengusap air mata Riyana dan memeluknya sejenak, menampilkan senyum paling tulus yang dia punya dan mencium dahi Riyana yang terasa panas.
"Riyana salah ya, Kak?"
Riyan melirik Reyhan yang masih berdiri didekat pintu, kemudian menjawab. "Engga kok, kamu ngga salah apa-apa."
"Kalo Riyana ngga salah, Kak Rey ngga mungkin nolak permintaan aku buat pergi ke rumah nanti malem." Riyana merasa sakit dikepalanya semakin parah bersamaan dengan air matanya yang terus mengucur.
Reyhan terdiam, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, bagaimana saat ini dirinya harus bisa mengontrol diri agar tmembuat Riyana mengurangi kebiasaanya yang suka menangis.. Reyhan melangkah mendekati Riyana, duduk disebelah adik perempuannya itu dan berkata. "Tidur sekarang."
Riyana mengangguk dengan terpaksa, dengan air mata yang terus menetes, dia menarik selimutnya dan berbaring dengan perlahan. "Pergi, Kak. Riyana mau tidur." Ujar gadis itu.
Reyhan mengusap rambut Riyana dan tersenyum. "Tidur yang nyenyak, biar nanti kondisinya lebih baik dan kita berangkat sama-sama ke rumah."
Riyana menatap Reyhan tidak percaya, membuat Riyan yang melihatnya lantas tertawa. Sekuat apapun seorang Reyhan Bratadikara menahan diri, tetap saja dia tidak bisa untuk menolak permintaan Riyana, apalagi gadis itu sampai menangis tersedu-sedu.
"Jangan peluk-peluk, kalo Kak Rey sakit entar kita ngga bisa pergi. Udah ya, kalo kamu ngga tidur berati kita ngga pergi." Reyhan menahan Riyana yang hendak memeluknya, gadis itu mengangguk dengan senyum lebarnya kemudian mulai menutup mata.
Reyhan dan Riyan segera keluar dari kamar Riyana. Mereka berdua melangkah bersama menuju dapur untuk makan siang, Riyan pun tak kuasa menahan senyuman saat mendengar bahwa Reyhan setuju untuk pergi ke rumah, namun senyum itu perlahan hilang saat Reyhan kembali bersuara.
"Kakak takut, hinaan yang belum pernah didenger sama Riyana sekarang bakal dia denger dari Ayah dan Bunda, apalagi kondisinya sekarang dia punya Asma, tapi kakak ngga bisa juga biarin dia nangis lama karna ngga ijinin dia pergi."
.
.
.
.
Riyana menatap rumah besar yang ada dihadapannya. Sebuah lokasi yang menjadi saksi kebahagiaannya sekaligus rasa sakitnya selama ini, Riyana mengedarkan pandangannya saat itu. Rumah ini masih sama, dihiasi beragam bunga yang sangat Bunda sukai sejak dulu, kursi taman dengan satu ayunan didekat Bagasi masih berada disebelah Rumah.
Senyum Riyana terpatri melihatnya. Ayah, Riana pengen duduk di kursi Taman bareng Ayah kaya dulu lagi. batinnya berujar.
Riyan menggenggam tangan Riyana yang memang sudah dingin sedari tadi, Cowok itu juga menatap rumah besar yang dulu menjadi saksi masa kecilnya, masa-masa indah sebelum ada hinaan, Riyan berbalik dan menatap Kakaknya yang nampak ragu hendak memasuki rumah, Riyan pun reflek bicara. "Bersikap seolah-olah Rumah ini memang Rumah kita aja, Kak."
Reyhan mengangguk lalu memejamkan mata sejenak, dalam relung hatinya, dia berharap tidak ada hinaan dan cacian yang akan mereka dengar kembali. Reyhan pun menggiring kedua adiknya untuk memasuki rumah itu bersama-sama.
Tatapan aneh dari semua orang menyambut kedatangan Reyhan dan kedua adiknya malam itu. Semua orang menatap kearah mereka seakan mereka adalah orang yang tak diundang dan datang ke acara tersebut.
Riyana menatap Ayahnya yang terlihat berdiri diatas panggung, pakaiannya rapi dan formal, membuat pria itu nampak menawan. "Ayah, Riyana disini.." Bisik gadis itu.
"Selamat malam para tamu semuanya, acara akan segera dimulai jadi dimohon para tamu untuk duduk ditempat yang sudah disediakan." Ujar Ayah yang berbicara menggunakan mic.
Semua orang sudah duduk di kursi yang telah disediakan. Sedangkan Riyana dan kedua Kakaknya masih tetap berdiri di depan pintu. "Kakak, apa ngga ada kursi buat kita?" Tanya Riyana, membuat Reyhan menoleh.
Riyan tanpa sadar mengepalkan tanganya, apa ini tujuan mereka diundang? Hanya untuk dipermalukan? Lihatlah, seluruh tamu mendapatkan tempat duduk sedangkan mereka? Riyan yakin Ayahnya adalah sosok orang yang selalu menghitung bangku setiap kali ada pesta, apa mungkin ini semua sengaja?
Reyhan mengulas senyumnya untuk Riyana. Cowok itu berusaha terlihat baik-baik saja meskipun perasaannya sendiri sudah hancur berkeping-keping. 'Ngga apa-apa, kita berdiri aja." Ujar Reyhan, Riyana mengangguk dan berusaha menahan air matanya yang ingin menetes.
"Selamat Malam semuanya, saya Bara Bratadikara mengumumkan bahwa saya dengan Safira sudah berpisah dan kini saya sudah memiliki calon istri bernama Ratna dan calon putri saya yaitu Anggita." Ujar Ayah dengan bangga, Pria itu mengajak calon keluarga barunya untuk naik keatas panggung.
Riyana menatap pemandangan yang sangat menarik kali ini, dimana tepat dihadapanya manusia yang Riana sebut Ayah, telah menyakiti hatinya, dan tanpa peduli apapun Ayah memperkenalkan keluarga barunya tepat didepan Riyana. Dia bahkan dapat melihat tatapan Anggita yang begitu remeh padanya, Riyana tau, Anggita sedang memamerkan keluarga barunya. Senyum Riyana terukir, "Dapet Ayah bekas gue aja bangga." Gumamnya.
Setelahnya, Safira yang menaiki panggung bersama seorang Pria asing disampingnya. Tidak apa-apa, Riyana tau dia siapa. "Hay semuanya, saya Safira Prabudi juga mengumumkan bahwa saya sudah memiliki keluarga baru yaitu suami saya Bagas Prabudi, belum punya anak sih jadi mohon doanya." Ucap Safira, wanita itu bergelayut manja pada lengan suami barunya, membuat senyum Reyhan terbit.
Riyan berdecak sebal. "Kita disini cuma buat ngeliat mereka bahagia?"
"Bisa jadi." Sahut Reyhan sambil menghendikan bahu.
Riyana mencolek tangan Riyan. "Kakak, aku capek berdiri." Ujarnya.
Mendengar ucapan adiknya, sontak Riyan menoleh kesamping dan tersenyum. "Ya udah kita duduk dilantai aja. Sebentar, Kakak bersihin dulu. "Riyan segera membersihkan lantai dibawahnya menggunakan tangan, hingga tanpa sadar air matanya pun luruh dan membasahi lantai, melihat itu Riyan pun dengan cepat mengusap pipinya lalu membersihkan lantai. Riyan seolah tidak ingin siapapun tau bahwa dirinya sangat hancur kali ini.
Riyana tersenyum kecil, melihat Ayah dan Bunda kini bahagia dengan keluarganya masing-masing, bersikap seakan mereka tidak pernah mempunyai anak sebelumnya. Riyana menyandarkan kepalanya pada bahu Reyhan, sambil mengusap tangan Kakaknya yang sedari tadi mengepal, Riyana tau lelaki itu sedang menahan emosinya.
Riyan pun ikut bersandar pada Reyhan. Mereka duduk diatas lantai, dihadapan pintu, dan berada paling belakang dari seluruh tamu. Cukup, perlakuan ini sudah sangat cukup membuat mereka bertiga hancur.
Mendapat sandaran dari sang adik, membuat Reyhan sempat meluruhkan sedikit air mata, setidaknya hanya setetes saja, Reyhan tidak akan menangis karna orang tuanya lagi. Tangan Reyhan terangkat dan merangkul bahu kedua adiknya. Membuat Riyana sedikit merasa lebih tenang.
"Kita pasti bisa ngelewatin ini sama-sama, Kak." Ujar Riyan, berusaha menyemangati.
Seorang pria tua terlihat menaiki panggung, dia mengambil mic kemudian bicara. "Hallo, selamat malam. Saya Raditya Bratadikara, Ayahnya Bara. Keberadaan saya dini hanya ingin meminta sesuatu yang sederhana kepada kalian semua." Ujar Raditya, Kakek Riyana.
"Tolong agar kalian semua bisa melupakan fakta, bahwa saya sudah memiliki tiga cucu. Jika ada yang mengungkit hubungan saya dengan cucu saya, mari kita bertemu dipengadilan. Karna mulai saat ini, saya memutuskan hubungan dengan cucu saya." Lanjut Kakek.
Riyana menunduk, dan air matanya pun luruh perlahan. Dia benar-benar kehilangan sosok penting dalam hidupnya, kehilangan Ayah, Bunda, Kakek, dan juga Neneknya. Riyana merasa ada sesuatu yang menusuk dadanya, dan itu terasa perih. Gadis itu kemudian berbisik. "Kenapa sesakit ini, Tuhan?"
Riyan menahan tangan Reyhan ketika Cowok itu hendak beranjak dan berniat menghampiri Kakeknya. Sambil menggelengkan kepalanya, Riyan berbisik pelan "Jangan sekarang, Kak."
Riyan lalu menangkup wajah Riyana, cowok itu menatap mata adiknya begitu dalam. "Riyana kuat kan? Riyana kan udah janji sama Kakak, katanya kamu ngga akan pernah nangis karna ucapan keluarga kita. Udah, jangan nangis lagi, kamu tuh lagi sakit nanti sesak nafas." Ujar Riyan dan kembali memeluk Riyana.
Reyhan sudah tak tahan mendengar tangisan Riyana, saat itu juga dia langsung berdiri dan berteriak kepada seluruh keluarganya.."Maksud lo semua apa, sialan?!"
Sudah cukup, Reyhan sudah tidak kuat menahan diri kama keluarganya, persetan dengan kalimat anak tak bergua, Reyhan hanya tak terima melihat Riyana yang kini terisak disebelahnya. Dan itu semua disebabkan oleh keluarganya sendiri.
"Kurang ajar kamu!" Jawab Kakek, berdiri dari atas panggung dan menatap kearah Reyhan dengan nyalang.
Reyhan seakan tak peduli, dia menarik tangan Riyana hingga gadis itu berdiri. "KAKEK, LIAT! DULU KAKEK BILANG KALO SESAMA MANUSIA KITA NGGA BOLEH NYAKITIN PERASAAN ORANG LAIN, SEKARANG APA?! BUKAN CUMA NYAKITIN, KAKEK NGANCURIN PERASAAN CUCU KAKEK SENDIRI! Teriak Reyhan. Riana yang sudah menangis hanya mampu terdiam saat sang Kakak berusaha membela dirinya.
Untuk pertama kalinya, Riyan melangkah maju dan turut berteriak. "INI UNDANGAN KALIAN?! AYAH BUNDA, KAYA GINI ACARA YANG KALIAN SEBUT PESTA?!" Kemarahan yang Riyan pendam pun akhirnya terlihat, Riyana dan Reyhan terkejut menyaksikan hal itu.
Ayah berjalan mendekati ketiga anaknya yang berdiri didekat pintu, matanya begitu memancarkan kebencian. "Sedikitpun, saya tidak pernah mengharapkan kehadiran kalian."
"Ayah Bunda, sebenernya kita ini salah apa? Sebesar apa dosa kita sampe kalian semua berubah kaya gini? Kalian boleh hukum kita, seberat apapun hukumanya bakal kita jalanin." Riyana menarik nafas dalam-dalam. "Asal jangan kaya gini caranya." Lanjut Gadis itu, dia berusaha melawan tatapan Ayah dan Bunda yang sudah berdiri dihadapanya.
Reyhan menatap Bunda sejenak. "Kalo kita boleh milih, mending kita ga usah lahir dari pada hidup sama keluarga yang penuh hinaan kaya gini." Kata Reyhan membuat Bunda terdiam.
"Apa kalian ngga bisa nurunin ego kalian dan kembai kaya dulu lagi? Ini hukuman terlalu berat buat kita, Ayah Bunda." Riyan merasa matanya mulai berair, hendak menangis.
Riyana menangis sejadi-jadinya. Tidak pernah terlintas dipikiran Riyana bahwa keluarganya akan hancur seperti ini, sedikitpun dia tidak menginginkan hal buruk ini menimpa keluarganya. Riyana mengusap pipinya yang basah, Gadis itu kembali menatap Ayahnya, dan seketika matanya mendelik kaget saat melihat Ayah baru saja menampar Reyhan. Reyhan memegang pipinya yang terasa perih, tamparan dari Ayah membuat hatinya terasa remuk didalam. Detik itu juga, Riyan menampar kembali wajah Ayahnya. Semua orang terkejut menyaksikan hal tersebut, tapi Riyan sudah tidak peduli, amarah berhasil mengalahkan segalanya.
Riyan tertawa kecil. "Itu yg Kakak saya rasakan. Tuan Bara Bratadikara."
"Berani ya kamu sekarang!" Tangan Ayah terangkat dan bersiap untuk memukul Riyan. Riyana yang melihatnya, reflek mendekat dan melindungi sang Kakak dari hantaman Ayah.
Bug!
Pukulan Ayah berhasil mengenai wajah Riyana. Gadis itu memejamkan matanya menahan rasa sakit, bukan sakit pada wajahnya yang terkena pukulan, melainkan sakit pada hatinya yang terasa sudah mengeluarkan darah.
Riyana menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Rasa sakit ini tak sebanding dengan apa yang dirasakan pada relung hatinya. Riyana menatap wajah Ayah yang nampak sedikitpun tak merasa salah padanya. "Apa ini Ayah yang Riyana jadikan panutan?" Tanya gadis itu dengan nada bergetar.
"Terimakasih, Ayah. Disini, didalam sini, Ayah udah ngasi luka baru yang sama sekali belum aku obati." Ujar Riyana, dia menunjuk dadanya.
"RIYANA!" Teriak Reyhan. Laki laki itu mendekati adiknya dan mengusap darah yang mengalir pada sudut bibir Riyana.
Riyan menatap seluruh keluarganya secara bergantian, kemudian menggeleng penuh kecewa. "Riyan bener bener ngga nyangka. Ayah, sosok laki laki yang selalu Riyan banggakan ke semua orang sekarang berani main kasar sama anaknya sendiri. Haruskah kalian ngehina kita? Ngelukai kita? Kita darah daging kalian sendiri, hey! Kalian sadar kan?!" Setelah mengucapkan hal itu, Riyan menarik tangan kakaknya dan juga Riyana, membawa mereka pergi dari hadapan manusia yang kali ini berhasil menghancurkan perasaan bahkan dunianya sekaligus.