BAB 20. Kenapa Loe pukul Demas?

1181 Words
Kekacauan terjadi saat Arumi baru saja masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah yang dijadwalkan hari ini. Semua mahasiswa yang ada di kelas tersebut sebagian besar mengolok-ngolok Arumi. Bahkan terdengar beberapa kali ada suara-suara yang melecehkan Arumi. Semua bagaikan air bah yang datang secara mendadak, hingga membuat Arumi tidak dapat mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat ini kepada dirinya. Seketika Arumi terkena serangan panik. Untung saja ada si kembar yang tidak sengaja lewat di depan kelasnya Arumi, mereka melihat bagaimana sebagian besar mahasiswa yang digalangkan oleh Bunga mencaci maki Arumi dengan tidak pantas. “Ini gila, Valen,” ucap Velan. “Benar-benar keterlaluan!” desis Valen Kedua langsung menerobos kerumunan teman-temannya yang berada di depan pintu kelas dan secara bersamaan berteriak untuk menghentikan pembullian ini. “DIAM KALIAN SEMUA!” Semua mahasiswa seketika berhenti berbicara dan menoleh ke arah si kembar. Valen berinisyatif untuk menarik Arumi dan menenangkan Arumi. “Ayo, kita pergi dari sini. Ikuti kita yah, Rum,” ucap Valen. Arumi masih bingung, tubuhnya bergetar hebat, pikirannya yang dilanda setres berat membuat pembulu darah di otak kecil seketika menyempit dengan meningkatnya aktifitas setres. Ia membisu dan hanya sadar jika Valen adalah tempat yang aman untuk dirinya saat ini. “Loe, keterlaluan, Bunga! Perbuatan loe ini, benar-benar biadab! Loe, nggak manusiawi. Dan kalian semua! Apa itu yang dilakukan oleh para mahasiswa universitas unggulan di Jakarta?! Membulli temannya?! Apa kalian tidak pernah diajarkan abad oleh keluarga kalian massing-masing?! Gw bakal minta Velan untuk menuntut kalian semua sebagai salah satu mahasiswa hukum tingkat akhir di kampus ini.” Velan mengancam semuanya termasuk Bunga yang kini seketika ikut bungkam. “Pengecut kalian semua!” dengus Valen dan langsung membawa Arumi menuju ke kantin bersama-sama dengan Velan. Seharusnya pertengkaran yang kemarin terjadi tidak boleh disebar luaskan, semua saksi yang berada di lokasi kejadian kemarin sudah dipanggil oleh Rektor dan Pak Bono. Mereka mencocokan keterangan yang diambil sebelumnya dari Devara. “Sebenarnya ada apa, Vel?” tanya Arumi. “Apa benar, kemarin Devara berkelahi dengan Demas? Apa karena itu kemarin Om Soni datang jemput gw?” Arumi kembali bertanya dan mencocokkan kejanggalan yang terjadi dari kemarin. Apalagi sejak kemarin Devara memang tidak bertemu dengan Arumi lagi. “Gw dan abang gw, Valen. Kita berdua nggak bisa cerita, Rum. Maaf yah, yang jelas. Saran gw, loe nggak usah mikirin omongan Bunga. Loe kan, tau sendiri selama ini Bunga itu iri banget sama loe.” Velan lalu memberikan segelas teh hangat untuk Arumi. “Benar apa yang dibilang Velan, Loe nggak usah mikirin masalah yang nggak ada hubungannya sama loe, Rum. Itu hanya caranya Bunga aja untuk ngejatuhin loe. Tetap semangat, okay?” Valen berusaha menghibur dan menutupi apa yang terjadi kemarin. Siapa saja akan hancur jika mengetahui dirinya dijadikan sebuah objek ajang taruhan. Penyesalan si kembar yang pernah berpartisipasi dalam taruhan tersebut menjadi alasan kuat, keduanya untuk menutupi apa yang terjadi kemarin. Arumi menghela nafas dengan panjang, ia memejamkan matanya sejenak dan kembali tersenyum menatap wajah kedua pria berwajah identik di hadapannya. “Thanks yah, Guys. Kalau aja tadi kalian nggak ada, gw pasti uda pingsan gara-gara kena serangan panik.” “Ya udah, nanti selama di kelas. Loe duduk aja dekat gw yah, Rum. Gw bakal ngejaga loe sampai Devara datang seperti biasanya.” Arumi menerima tawaran Velan dengan mengangguk pelan. *** “Ma, Devara pergi dulu yah, Ma.” Devara buru-buru hendak menjemput Arumi, walau pun ini belum jam kuliahnya tapi sejak tadi malam Devara sudah memutuskan untuk berangkat ke kampus lebih pagi demi menjaga Arumi seharian. Bahkan Devara sempat meminta Pak Bono untuk memberikannya tugas ekstra dengan alasan mau menjaga Arumi sampai acara kelulusan nanti. Pak Bono yang sudah mengetahui kondisi kesehatan Arumi akhirnya memberikan kelonggaran khusus untuk mahasiswa teladannya yang satu ini. “Hati-hati, Nak,” sahut Vina kepada anaknya. Devara lantas menyeberang dan melihat ada Citra yang tengah mengatur barang dagangannya. “Pagi, Tante. Devara ijin mau jemput Arumi, Te.” “Oalah, Dev. Rumi ttadi jam empat pagi sudah ke pasar induk sama Om Heri, mereka lagi milih kacang kedelai buat rumah produksi. Arumi pasti sekarang ada di kampus,” terang Citra. “Makasi, Te. Devara pamit yah, Te.” Devara lalu kembali berlari ke rumahnya dan mengambil mobilnya. “Loh, ndak jadi naik anguktan umum, Den?” tanya Pak Tono. “Nggak, Pak. Urgent. Berangkat dulu yah, Pak.” Devara langsung mengambil kunci mobilnya yang tergantung di pos satpam dan segera mengeluarkan mobil pribadinya dari garasi serta mengendarai dengan cepat menuju ke kampus. “Please Tuhan, semoga di kampus Arumi baik-baik saja.” Firasat Devara sedang tidak baik-baik saja saat ini. Devara mengendarai kendaraan dengan terburu-buru. Begitu sampai di parkiran, Devara lalu berlari menuju ke kelas Arumi. Terlihat beberapa rombongan anak keluar dari kelas. Ada beberapa percakapan yang mengatakan jika Arumi mengadu domba Devara dan Demas dan akhirnya membuat Bunga tidak terima karena idolanya sampai hampir terkena surat peringatan dari kampus. “Apa kalian bilang?” Devara langsung mencegat salah satu penggosip yang baru saja lewat di hadapannya. “Eh, Dev. Jangan tanya sama gw, tuh Bunga masih kelasnya Arumi. Loe tanya aja sama dia langsung,” ucap salah satu anak perempuan yang tangannya dicengkeram kuat oleh Devara. Devara lalu menghempaskan tangan mahasiswa itu dan masuk ke dalam kelas Arumi dengan emosi yang memuncak. “Bunga! Loe apain Arumi, hah?!” bentak Devara. Bunga seketika terkejut dan tergagap sangking gugupnya. “Apaan sih, Dev. Loe nggak usah bentak-bentak gitu juga kali. Bisa kan ngomong baik-baik.” Bunga masih berusaha menguasai dirinya walaupun dadanya saat ini sedang bergemuruh hebat karena takut dengan Devara. Apalagi jika diingat kembali bagaimana Devara menghantam Demas dengan membabi buta, seketika Bunga bergidik ngeri. “Gw peringati kalian semua! Sekali lagi kalian berani ganggu Arumi. Gw, bakal buat perhitungan dengan kalian semua, tanpa perduli loe laki atau perempuan.” Devara mengancam semuanya dengan serius. Ia lalu mencari Arumi, berlari kesana kemari. Pikirannya sempat kalut, Devara yakin ada sesuatu yang buruk yang baru saja terjadi. Saat Devara melempar pandangannya ke arah kantin, tanpa sengaja ia melihat Arumi bersama dengan si kembar. Hatinya seketika membaik. “Syukurlah, yah Tuhan.” Devara lalu kembali berlari dan memeluk Arumi dari belakang tanpa sadar. “Loe, nggak apa-apa kan, Rum?” tanya Devara masih memeluk Arumi dari belakang tanpa memperdulikan ada si kembar di hadapannya. Mata Arumi lalu tertuju pada jemari Devara yang terlihat memar dan terdapat beberapa luka-luka di sekujur tulang jemarinya. Kini Arumi yakin, apa yang dikatakan oleh Bunga bukanlah bualan belaka. Ada masalah besar yang terjadi kemarin sampai Om Soni datang ke kampus. “Kita tinggalin kalian berdua yah.” Valen berinisyatif untuk berpamitan kepada Devara dan Arumi. “Thanks yah Val, Vel,” ucap Devara seketika sadar dan duduk disamping Arumi. “Sama-sama, bye, Rum. Gw tunggu di kelas ya,” ucap Velan. “See you, Velan,” jawab Arumi. “Loe, nggak apa-apa, Rum?” tanya Devara, ia terlihat sangat mengkhawatirkan Arumi. “Dev, kenapa loe pukul Demas? Ada masalah sebenarnya kemarin?” tanya Arumi. Devara tetap bungkam tidak berani menjawab pokok permasalahan yang terjadi kemarin. “Dev, jawab gw. Kenapa loe pukul Demas?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD