Serapat apa pun kita menyembunyikan kenyataan dari seorang yang kita cintai, suatu saat waktu akan membuka tabir rahasia yang tersimpan. Bagai tersambar petir, saat Citra melihat anak perempuannya memegang sepucuk amplop surat yang berisi vonis akan penyakit yang selama ini dirahasiakan olehnya, dengan alasan atas nama cintanya kepada anak perempuan semata wayangnya. “Jangan, jangan dibuka Arumi!” Citra segera masuk ke dalam rumahnya dan hendak mengambil amplop tersebut. Tapi, terlambat. Arumi sudah membuka amplop tersebut dan membaca beberapa baris paragraf terpenting dalam surat tersebut yang berupa tabel bertuliskan hasil diagnosa. Tangan Arumi bergetar, ia bingung dengan isi hasil diagnosa yang bertuliskan ‘Parkinson’ dengan huruf tercetak miring dan ditebalkan. Sejenak Citra yang

