Part 10 Sweet Preparing

1281 Words
Akhirnya keputusan Finalnya adalah Kim dan Raga akan tinggal bersama di sebuah Apartemen milik Raga. Kim yang memang tinggal sendirian di Indonesia, cukup mudah mendapatkan izin dari kedua orangtuanya yang berada di Amerika. Bahkan, dia nggak meminta izin secara terang-terangan. Dia hanya bilang akan tinggal di apartemen mendekati tempat kuliah. Tanpa bilang kalau akan tinggal bersama seorang laki-laki. Meski sebenernya kalo pun orangtuanya tau, mereka nggak akan masalah mengingat pemikiran orangtuanya yang tergolong modern di luar sana. Tapi Kim lagi males aja harus menceritakannya secara detil nanti. Raga membantu Kim berkemas, membawa sebagian pakaian dan barang-barangnya yang paling penting. Tak lupa, Kim juga membawa serta kucing kesayangannya, Molly. Molly adalah kucing betina berjenis Persia peaknose, berwarna putih dengan mata berwarna biru. Molly sangat nurut, setiap malam dia selalu tidur bersama Kim. Kalau Kim nggak pulang, biasanya Molly akan menunggu di depan pintu rumah sampai Kim pulang. Jika selama ini Molly turut dijaga oleh para pembantu di rumah Kim, kali ini Kim akan merawatnya bersama Raga. "Udah semua?" Tanya Raga. Kim memutari matanya ke sekitar kamar. Dia harus memastikan lagi nggak ada yang ketinggalan karena capek kalau harus bolak balik lagi. "Kayaknya nggak ada," jawabnya setelah yakin. "Yok," Raga membawakan barang-barang Kim. Sementara Kim menggendong kucingnya. Mereka juga dibantu para pembantu yang sejak tadi bersedih karena majikannya itu nggak akan tinggal di sana lagi. Kim termasuk majikan yang sangat baik hati. Nggak manja. Nggak pernah merintah-merintah. Malahan, Kim suka ngerjain semua sendiri. Ambil minum ataupun makan. Kim nggak suka dilayani. Semua pembantu dijadikannya sebagai teman ngobrol. Mereka sering bergadang di malam hari untuk menonton sebuah film. Itulah sebabnya para pembantu di sana merasa sangat kehilangan. "Kim, kita mampir dulu ke toko Hardware ya. Kita harus beli perlengkapan dapur." Kim mengangguk. Dia sejak tadi mengajak Molly bicara, soalnya kucing itu terlihat tegang sepanjang perjalanan. Belum lagi melihat orang baru seperti Raga, Molly seakan menjaga jarak. Mobil sampai di sebuah toko besar yang menyediakan semua peralatan rumah tangga. "Molly gimana?" Tanya Kim. "Tinggal aja, AC nya nggak usah dimatiin biar dia nggak pengap," Raga menyarankan. Akan repot memang kalau mereka belanja membawa kucing dan belum tentu juga diizinkan masuk. Kim memasukkan Molly ke dalam tas khusus kucing agar kucing tersebut merasa hangat dan nggak terlalu takut. "Sebentar ya Mol, cuma sebentar," bisik Kim sambil mengelus kepala Molly. Raga menggandeng Kim masuk ke dalam toko. Mata mereka langsung berputar mencari sesuatu. "Bawa ini Kim," ujar Raga sambil mendorong kereta belanjaan. Masih dengan bergandengan mereka terlihat sweet banget. "Di sana ada Microwave?" Tanya Kim. Raga menggeleng nggak yakin. "Nggak ada apapun kayaknya," jawabnya. "Jadi kita harus beli semuanya gitu?" Raga terkekeh. "Kompor sih ada." Kim mencubit pinggang Raga. Membuat cowok itu menggeliat geli. "Meski kamu cowok dan nggak tinggal di sana. Kamu juga harus perhatiin dapur, Ga." "Mana aku tau kalo akhirnya aku bakal tinggal sama cewek," Raga menggoda Kim. Kim jadi teringat sesuatu. "Oh iya, Ga. Setau aku kamu kan tinggal di rumah sama orangtua ya. Emang mereka nggak nanyain kenapa tiba-tiba kamu mau tinggal di apartemen?" "Bukan cuma aku. Tapi kita," ralat Raga. "Mereka tau kita tinggal bersama?" Mata Kim melebar. "Mama tau. Papa belum." "Terus?" "Orangtua aku nggak kolot, Kim. Kata Mama aku harus nikahin kamu kalo nanti kamu hamil." Wajah Kim langsung memanas. "Apa sih," dia buru-buru mengalihkan wajahnya. Berbelanja perabotan rumah terlihat begitu menyenangkan. Kim itu dewasa banget di waktu tertentu. Dia tau semua jenis peralatan memasak. Dia juga nggak terlalu banyak milih. "Pengantin baru ya, Mas, Mbak? Keliatan masih mesra," kata seorang Ibu-Ibu yang sepertinya memang memperhatikan Kim dan Raga sejak tadi. "Eh... Itu," "Iya, Buk. Baru menikah kemaren," Potong Raga. Dia terkekeh saat Kim memelototinya. "Wah pantes masih anget. Resep liatnya," kata Ibu-Ibu itu lagi. "Duluan ya," pamitnya. Raga dan Kim mengangguk. "Kok bohong sih!" Sergah Kim. "Jadi aku harus bilang kita tinggal serumah tapi nggak ada ikatan sah gitu?" Raga bener. Mereka belum menikah dan akan tinggal satu apartemen. "Apa nggak masalah, Ga?" "Kamu jangan remehin apartemen aku. Kita bakal nyaman di sana." Lalu Raga menatap Kim dengan mata memicing, "atau kamu mau kita nikah?" Pancingnya. "Raga ih!" Kim mencubit pinggang Raga. "Jangan macem-macem." Raga tertawa. Dia harus berusaha keras di kemudian hari jika ingin menikahi Kim. Soalnya cewek itu nggak punya ya pemikiran menikah muda. Belum lagi, Kim ini modern thinking, tinggal bersama tanpa status menikah baginya hal yang biasa. Teman-teman sepekerjaannya juga banyak yang kayak begitu. "Udah semua, yok!" Ajak Kim menyudahi aktivitas berbelanja mereka. "Raga mendorong kereta belanjaan yang berisi barang-barang kecil kebutuhan Kim di dapur. Untuk barang-barang besar hanya dibuatkan nota dan diantar ke lokasi karena yang mereka beli sangatlah banyak. *** Sudah beberapa hari ini Kim mengajak Raga menata ulang apartemen yang hanya dijadikan basecamp oleh Raga tersebut. Dia mengganti wallpapernya menjadi lebih cerah. Mengganti karpet di lantai dengan yang lebih empuk. Pajangan di sana juga diturunin dan diganti dengan foto mereka berdua. "Kita kayak pasangan muda beneran Kim," celetuk Raga. Kim nggak menanggapi. Dia lagi fokus mengatur ulang dapur. Sampai dia menjerit saat tangan Raga mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke kamar. Kim dibaringkan ke kasur dan Raga naik ke atas tubuhnya. "Raga kita belum selesai," Kim mengingatkan. "Lanjutin nanti. Beberapa hari ini kamu nyuekin aku. Nggak sadar?" "Aku bukan nyuekin. Ini memang lagi repot," ralat Kim. "Bodo," Raga melumat bibir Kim. Beberapa hari tinggal di apartemen mereka nggak sempet ngapa-ngapain karena Kim sibuk dengan semua perubahan di dalam situ. Belum lagi Zeta selalu saja mengganggu dengan alasan membantu mereka. Kim memiringkan wajahnya melepas ciuman. Nafasnya hampir saja hilang berikut nyawanya. "Kamu kalau ciuman bikin aku nggak bisa nafas," rutuknya. Raga tertawa. Dia kembali mencium Kim, di leher. Ditekannya tubuh Kim lebih dalam untuk menyalurkan hasratnya itu. Leher putih Kim kembali berjejak merah, sangat banyak. Ingatkan Kim untuk memakai pakaian berleher tinggi nanti. "Emmhhh Raga," Kim ingin menolak saat Raga menciumi area sensitifnya di bawah sana. Tapi cowok itu malah semakin membuatnya gila dengan permainan lidahnya itu. Raga menyudahinya karena tau Kim sudah sangat basah. Dia membuka celananya dan memasukkan miliknya langsung ke dalam milik Kim. Kim mendesah tertahan merasakan hentakan demi hentakan tubuh Raga. Sekujur tubuhnya berkeringat. Raga belum puas dengan ledakan pertama. Dia membalik tubuh Kim tengkurap dan memasukkan kembali miliknya dengan posisi seperti itu. Membuat Kim kembali menegang dan mendesah lebih keras. Tubuh keduanya terhempas lelah di kasur setelah beberapa kali meledak. Raga memeluk Kim, menciumi leher cewek itu. "Ga," panggil Kim di sela-sela rasa geli yang karena endusah Raga di lehernya. "Hmm," Raga mengangkat wajahnya menatap Kim. "Malem ini aku mau ke club'. Ada temen aku yang ulang tahun." "Temen kuliah?" "Bukan. Temen di kerjaan." "Cewek atau cowok?" "Cowok." "Oh," Raga mengangguk. Dia nggak banyak bicara lagi. Hanya tersenyum dan berbaring di samping Kim. "Kamu mau temenin aku?" Tanya Kim, memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Raga kembali. "Pasti," jawab Raga. Kim naik ke atas tubuh Raga. Dia tiduran dengan posisi tengkurap di tubuh cowok itu. Balas menciumi leher Raga namun nggak meninggalkan bekas. Raga mengabadikan moment itu melalui Kamera. Dia membagikannya ke i********: dan langsung menuai pro and kontra di kalangan para followers-nya. She always likes this position Begitulah caption yang Raga tuliskan. Tanpa sepengetahuan Kim karena cewek itu tengah tertidur pulas sekarang. Aldi: Gila gue jadi First Coment Aldi: Sungguh terlalu... Zeta: Kalian berdua ini -___- Aldi: Pengen yang? @Zeta Zeta: Bosen. Dika: Seketika saya gagal fokus Zeta: Minum Aldi: Bosen?????? Aldi: Pengen ya Dik? Garinda: Anjirrrrr Ibu Peri: Ingat dosa, Nak... Zeta: Ibu peri pengen juga? Aldi: Ngakak Band: Cari mati Mario: Hajar terus Pak Ketu! Oscar: Perang udehhhh Aldi: Nyawa raga banyak Bang. .... Raga mematikan ponselnya dan memilih untuk tidur bersama Kim. Dengan Kim tetap tertidur di atas tubuhnya, Raga merasa sangat nyaman. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD