Raga mengumpat sejadi-jadinya di dalam hati. Dia harus menahan diri untuk untuk nggak membuat Kim babak belur akibat kebanyakan ML. Cewek itu selalu saja menggodanya dengan pakaian-pakaian minim yang dipakainya.
Kim malah dengan santainya melewatinya dan langsung ditahan oleh Raga. "Mau kemana?" Tanya Raga.
"Berenang," jawab Kim.
"Bajunya terlalu kebuka, Kim," Raga memperingatkan. "Itu kolam renang umum. Banyak cowoknya," ujarnya lagi.
Kim meneliti apa yang dipakainya. Dia memakai pakaian yang pas untuk berenang. Setelan bikini. Bahkan bagian bawahnya dia tutupi dengan rok. Menurutnya nggak terlalu sexy.
Raga mengerti Kim seorang model. Memakai pakaian seperti sekarang pasti sudah biasa bagi cewek itu. Tapi entah kenapa Raga nggak suka aja melihatnya. Tubuh Kim akan jadi santapan lezat cowok-cowok yang melihatnya.
"Bisa ganti nggak? Demi aku..." Minta Raga setengah memohon. Dia nggak menggunakan paksaan, berharap Kim mengerti. "Pakek yang lebih ketutup."
"Oke," Kim masuk lagi ke dalam rumah. Dia masuk ke kamar dan membongkar isi tas nya. Untunglah karena tau akan ada Photoshoot, Kim membawa banyak bekal pakaian. Dia sempat meminta Raga mampir ke rumahnya malam sebelum mereka berangkat ke puncak.
Kim menemukan pakaian yang sesuai keinginan Raga. Celana renang pendek. Atasan tanpa lengan sebatas setengah perut. Tapi dadanya tertutup, nggak menyembul keluar seperti tadi.
Setuju dengan apa yang dipakai oleh Kim, Raga langsung menggandeng cewek itu ke kolam renang umum yang ada di sekitar Villa mereka. Entah kenapa Kim ingin berenang di sana. Padahal di Villa ada kolam renang pribadi yang jauh lebih bersih. Raga terpaksa harus menuruti kemauan cewek itu, menghindari mood Kim yang suka jelek kalo dilarang-larang.
"Aku nyuruh Aldi sama Zeta nyusul ke sini. Nggak papa kan?" Raga salah urutannya. Dia udah duluan nyuruh dua orang itu datang dan sudah dalam perjalanan. Eh... Baru bilang ke Kim sekarang.
"Nggak papa. Malah enak rame-rame," jawab Kim. Dia lebih dulu masuk ke kolam renang.
Raga bukannya nggak tau, banyak mata yang menatap ke arah Kim. Cewek cantik itu memang selalu berhasil membuat para cowok terpesona.
Menghindari pikiran kotor cowok saat melihat Kim, Raga ikut nyebur ke air dan mendekati Kim. Mereka berpelukan di sana. Mengabaikan tatapan orang tentang kemesraan yang mereka tunjukkan.
"Nggak dingin?" Tanya Raga. Dia saja rasanya menggigil. Gila aja puncak dinginnya kelewatan. Kalo bukan karena Kim, Raga lebih milih tidur di bawah selimut jam segini.
"Kalo kamu dingin naik aja. Aku sendirian nggak papa," suruh Kim. Dia tertawa melihat bibir Raga yang memucat dan sedikit bergetar.
"Ngebiarin kamu sendirian di sini? Lebih baik aku mati kedinginan."
Kim makin tertawa. Raga itu posessive nya nanggung. Nggak terlalu nampak tapi suka ditunjukin juga.
"Udah yok ah naik. Nanti kamu sakit lagi," ajak Raga.
"Sini aku bikin nggak dingin," Kim memeluk leher Raga. Dia membenamkan bibirnya ke lekukan leher cowok itu. Meniupnya agar terasa hangat.
Bukannya hangat, Raga justru makin menggigil. Menggigil oleh hasrat lain yang bangkit di tubuhnya. Sebelum membuat keributan dengan menuntaskan nafsunya di tempat umum, dia harus segera menghentikan cewek itu.
***
Malamnya, Raga dan Kim menghabiskan waktu dengan menonton film box office terbaru. Mereka duduk di sofa dengan Kim membelakangi Raga berpelukan. Mereka memakai satu selimut untuk menutupi rasa dingin.
Berbagai posisi mereka coba ketika bosan dan pegal. Mulai dari berbaring telentang. Tengkurap. Miring. Raga di pangkuan Kim dan sebaliknya. Hingga posisi terakhir sangat membuat mereka betah berlama-lama, yaitu Kim tengkurap dan Raga ikut tengkurap di atas tubuhnya.
Sepasang manusia ini sangat suka selfie, jadi jangan heran kalo di setiap moment mereka selalu mengabadikannya lewat kamera. Apapun dan dimana pun.
"TADAAAAA!" Suara cempreng Zeta membahana bersamaan dengan masuknya cewek itu ke kamar Raga. "Eh buseeeeet," dia terkejut melihat Raga dan Kim bermesraan di atas sofa.
Raga nggak terlalu terganggu, dia langsung turun dari badan Kim. Begitu pun sebaliknya Kim yang langsung duduk dan menyambut Zeta.
"Enak ya kalian di sini dingin-dingin," sindir Aldi. Dia kerepotan membawa koper Zeta seakan mereka akan berlibur lama.
"Cepet banget Lo pada nyampe. Ngebut banget?" Tanya Raga.
"Iya dong. Gue gitu yang bawa mobil," sahut Aldi bangga.
"Bawa mobil kayak kesetanan. Ngeri gue," Zeta bergidik.
"Nggak lebih setan Raga, Beib. Kamu nggak tau aja kalo Raga udah bawa mobil," beritahu Aldi.
"Kim, girls time yuk!" Ajak Zeta. "Banyak yang mau gue tanyain dan mereka nggak boleh denger."
Kim mengangguk. Dia mengajak Zeta ke kamar yang dulu pernah dia tempati. Meninggalkan dua cowok itu berduaan.
Sepeninggal Kim dan Zeta, wajah Aldi langsung berubah serius. Tanpa Kim ketahui, kedatangan Aldi dan Zeta ini bukan karena mereka ingin berlibur. Melainkan membicarakan sesuatu yang penting. Harusnya hanya Aldi dan Dika yang dateng, tapi takut Kim curiga maka Zeta harus menggantikan Dika.
"Gimana?" Tanya Raga langsung.
"Seperti dugaan kita, Marco tau hubungan Lo sama Kim. Dia udah ngirim orang buat cari tau kemana Kim waktu dia nggak pulang malam itu. Dan Lo tau? Marco bahkan punya rekaman video ML kalian."
Raga langsung menegang. Ada kemarahan di wajahnya. Kepalan tangannya begitu kuat hingga jari-jari itu memutih. "Itu artinya Kim dalam bahaya."
"Yap. Gue yakin Marco lagi ngerencanain sesuatu sekarang. Lo harus lebih hati-hati, Ga."
"Gue lebih khawatir ke Kim," Raga menatap serius pada Aldi.
"Tenang aja. Gue sama Dika udah bayar orang buat jagain Kim 24 jam tanpa harus muncul di hadapan Kim. Gue rasa untuk sementara masih aman."
"Marco bisa ngelakuin apa aja, Di. Gue nggak bisa tinggal diem."
"Nggak mungkin elo yang jagain dia 24 jam kan?"
Mendengar itu, Raga seakan menemukan ide. Dia yakin ide itu akan lebih bisa mengamankan Kim dari Marco.
***