Dalam perjalanan ke kebun Bu Tarni, di sepanjang jalan banyak orang yang menatapku aneh. Mereka seperti ingin bertanya tapi terlihat sungkan. Terlihat ibu-ibu yang sedang bergerombol di teras rumah Lek Legiyah berbisik-bisik sambil menatapku.
Aku meraba tubuhku sendiri. Aku rasa tak ada yang berbeda dengan penampilanku.
“Lihat, bu. Orang itu seperti orang gila,” ucap anak kecil yang dipangku ibunya. Ibu anak itu langsung membekap mulut anak perempuan tersebut agar tidak meneruskan ucapannya.
Tiba di tikungan jalan. Aku berkaca pada rumah Pak RT. Rumah itu adalah rumah yang paling bagus di banding dengan rumah sekitarnya. Rumah dengan bahan bangunan full jati tersebut memiliki ruangan yang menonjol di tepinya. Ruangan itulah yang jendelanya terbuat dari kaca hingga dari kejauhan tampak bayangan orang yang lewat di depan rumah. Sedangkan di tepi yang lain terdapat gazebo ukiran khas jepara sangat kontras dengan desain rumah milik Pak RT tersebut yang berbentuk Joglo.
Sambil berjalan aku menatap tubuhku sendiri dari pantulan cermin jendela rumah Pak RT tersebut. Aku rasa tidak ada yang aneh pada penampilanku sore ini, tapi kenapa anak kecil tadi mengatakan aku mirip orang gila?
Sampai di ujung jalan desa aku berpas-pasan dengan Bu Karti yang lagi menggendong anaknya. Setumpuk rambanan daun rembayung berada di antingnya, terlihat agak layu. Mungkin karena saat rambannya di waktu panas matahari masih menyengat. Itulah kenapa aku lebih suka memetik sayuran di pagi hari meski untuk dimasak di sore hari. Karena memetik sayuran di pagi hari hasil petikannya terlihat sangat segar.
“Vikaaa ...,” sapaku kepada anak Bu Karti. Anak itu meringkuk di gendongan sambil menghisap ibu jari.
“Dalem (Dalem berasal dari bahasa jawa yang artinya apa) Lek Surti,” jawab Bu Karti memberi contoh anaknya yang sedang belajar bicara.
Tiba-tiba anak berusia dua tahun itu mejerit-jerit ketakutan sambil menunjuk ke arahku. Aku dan Bu Karti jadi panik.
Aku dekati anak itu, barangkali dia berhenti menangis bila aku ajak bergurai. Tapi justru tangisannya semakin menjadi.
Aku letakkan anting dan sabitku, kemudian ku coba meraih Vika. Anak itu biasanya sering minta aku gendong bila kebetulan aku sedang ada acara pengajian dengan ibunya, tapi kembali lagi justru balita dua tahun tersebut semakin berteriak kencang.
“Sepertinya Vika itu takut sama kamu, kenapa, ya?” ucap Bu Karti masih dalam usaha menenangkan anaknya.
Aku hanya terbengong dengan apa yang terjadi. Tidak biasanya anak itu rewel bila berdekatan denganku. Benar saja, saat aku pergi menjauh, Vika menghentikan tangisnya.
Kenapa bisa seperti itu? Apa yang terjadi?
Sampai di perkebunan, langkah kaki kupercepat. Sore ini aku terlambat lagi, mudah-mudahan bayaranku tidak dipotong lagi.
“Mandor ya datangnya belakangan,” sindir Imah saat aku sampai di kebun.
“Enak banget. Kita yang kerja, kelihatan hasilnya, dia terima bayaran sama,” timpal Ijah.
“Itu namanya korupsi waktu.”
Kata-kata mereka berdua sebenarnya sangat melukaiku, tapi bagaimana lagi selain diam saja karena tidak ada gunanya menjawab ocehan mereka.
“Ternyata bukan hanya pejabat negara saja yang korupsi, Buruh tani juga ada yang korupsi,” ucap Imah diperkeras.
Entah apa maksud dari ucapan yang diperkeras itu, padahal aku bukan orang yang tuli kalau hanya sekedar mendengarkan apa yang mereka omongkan. Toh mereka juga sedang bekerja tepat di sebelahku.
“Biarkan saja, dia juga doyan kok uang korupsi. Kalau aku mah, najis,” ucap Ijah. Lagi.
Takkk!
“Aduhhh ...,” teriak ijah.
Perempuan seusiaku itu memegangi kepalanya.
“Kenapa?” tanya Imah yang berada di guludan sebelahnya. Aku yang mendengar bunyi benturan tadi, diam saja. Sepertinya ada seseorang yang sengaja melempar kepalanya dengan tanah. Mungkin ada orang yang geregetan mendengar ucapan Ijah yang memperkeras suaranya tadi. Seperti orang yang punya mulut sendiri saja.
Tidak menjawab pertanyaan Imah, Ijah berdiri. Tiba-tiba dia mendatangiku.
“Kamu, kan? Yang melempar kepalaku dengan tanah? Habis itu pura-pura tidak melihat.”
“Astaugfirulloh Ijah. Ini fitnah,” ucapku tidak menyangka Ijah akan melayangkan tuduhan kepadaku yang sedari tadi diam saja membersihkan rumput.
“Kalau bukan kamu siapa lagi? Kalau Imah tidak mungkin,” ucapnya.
Sebenarnya apa yang dikatakan Ijah masuk akal. Sejak tadi dia berbicara dengan Imah, tidak mungkin Imah yang melempar tanah ke kepalanya. Tapi siapa? Sedangkan aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan walaupun yang mereka bicarakan adalah aku. Aku sudah cukup sakit hati dengan perkataan mereka dan tidak ingin menambah lagi beban di hatiku dengan mendengarkan atau pun meladeni ocehan mereka.
“Bu Tarni datang,” ucap Imah lirih. Seketika raut wajah tegang Ijah berubah. Dia kembali ke tempatnya semula, dan mulai serius mencabuti rumput.
Mungkin karena terlalu asyik berbicara, hasil kerja Imah dan Ijah tidak tampak. Hasil kerjaanku terlihat lebih memuaskan. Sore ini memang aku serius bekerja. Dengan cepat rumput-rumput yang baru tumbuh aku cabut, sedangkan yang sudah ulet aku pangkas pakai sabit. Selain itu aku masih kesal dengan sikap Imah dan Ijah sehingga aku melampiaskan kekesalanku kepada tanaman pengganggu tersebut. Lumayan berpegaruh juga bila posisi marah dipakai untuk kerja membunuh tanaman pengganggu. Sangat terlihat hasilnya, asalkan yang dicabut bukan jagungnya.
Bu Tarni mendekat dengan anting dilengannya. Imah dan Ijah mempercepat pekerjaannya agar bisa melampauiku, dalam hati hanya tertawa melihat akal-akalan mereka. Kalau begini siapa yang dikatakan korupsi? Benar kata orang bila kita menunjuk seseorang, cuma satu jari saja yang mengarah ke orang itu sedangkan jari yang lain mengarah kepada diri sendiri. Begitulah yang dilakukan oleh Imah dan Ijah. Mereka melontarkan tuduhan sedangkan diri mereka sendiri tidak lebih baik dari yang mereka tuduh.
“Istirahat dulu,” ucap Bu Tarni sambil meletakkan barang bawaannya di gubuk.
Seperti biasa kami tidak langsung istirahat. Kami harus menyelesaikan guludan yang sedang kita siyangi sampai ke ujung. Bu Tarni berjalan memutar untuk melihat-lihat hasil kerja kami sebelumnya. Wanita berusia lima puluh tahun itu sangat teliti. Kalau ada rumput yang tertinggal satu biji saja walaupun kecil, dia pasti akan mengulang mencabutnya. Itu kadang yang membuat pekerjanya merasa tidak nyaman.
“Istirahat sulu!” Bu Tarni mengulang perintahnya saat tahu kalau kami sudah berada di ujung.
Aku mencuci kaki dan tangan pada air yang terdapat di parit. Air parit memang tampak keruh, tapi lumayan bila digunakan untuk membersihkan kaki dan tangan yang terkena lumpur.
Setelah aku rasa bersih, aku langsung ikut bergabung dengan Imah dan Ijah yag sudah terlebih dulu berada di gubuk.
Aku heran dengan kedua perempuan itu. Mereka sangat jorok sekali. Bahkan mereka tidak mencuci tangan atau kaki terlebih dahulu saat makan.
Aku hanya geleng-geleng sendiri sambil membilas tanganku dengan air minum yang aku bawa dari rumah. Setelah merasa tubuhku bersih, aku pun mengambil makanan dan duduk dengan mereka.
Sesaat setelah aku duduk dan mengambil jatah jajanan dan es cendol, Ijah sengaja menyelonjorkan kakinya di depanku sementara punggungnya di sandarkan pada tiang gubuk.
Aku mulai berpindah tempat dudukku. Jijik sekali bila makan dengan pemandangan kaki yang penuh dengan lumpur di depan mata.
Saat aku merubah posisi dudukku gantian Imah yang menggeser tempat duduknya dan menyelonjorkan kakinya di depanku seperti apa yang dilakukan Ijah.
Gubuk ini sangat sempit. Ketika ada dua orang menyelonjorkan kaki, tentunya orang lain tidak akan mendapat tempat yang luas untuk istirahat. Aku tidak jadi memakan jatah jajanku.
Sebenarnya tidak apa-apa kalau kaki mereka di taruh di hadapanku, sebagai seorang buruh tani tentunya kita sudah terbiasa makan dalam keadaan apa pun. Tapi entahlah, kanapa kali ini aku merasa mual dengan kelakuan mereka yang seperti sengaja menyajikan kakinya yang kotor di hadapanku yang hendak ikut makan.
Makanan ekstra yang berupa dua buah gorengan dan dua buah kue basah itu aku taruh kembali di antingnya Bu Tarni. Aku hanya mengambil es cendolnya saja untuk aku minum nanti saat melanjutkan menyiangi tanaman.
“Jajannya kok masih,” tanya Bu Tarni. Kali ini wajahnya sumringah, tidak seseram tadi pagi. Mungkin karena hasil kerjaanku sudah terlihat hasilnya, dia jadi suka.
“Nggak tahu, Bu. Makanannya dikembalikan Surti. Nggak enak kali,” ucap Ijah. Sekali lagi, aku hanya mengelus d**a mendengar ocehannya.
“Kenapa Sur?” tanya Bu Tarni.
“Nggak apa-apa, Bu, lagi nggak ingin makan,” jawabku.
“Beneran. Aku mau pulang, nih,” tanyanya memastikan.
“Iya, Bu. Benar,” ucapku meski sebenarnya aku ingin membawa makanan itu pulang, tapi karena hatiku tidak menentu jadi aku mengikhlaskannya.
Bu Tarni pun beranjak pergi, tapi sesaat kemudian dia balik lagi.
“Ada apa, Bu,” tanya Imah dan Ijah.
“Ini buat kalian saja,” ucap Bu Tarni sambil memberikan jajanan jatahku kepada Imah dan Ijah.
Tanpa mengucapkan terima kasih meraka langsung menerimanya dan membaginya berdua secara adil. Gorengan satu, dan kue basah satu.
Bu Tarni pun pergi. Dari kejauhan kulihat dia memetik labu kuning yang masih muda. Labu Kuning muda biasa dipakai untuk membuat sayur kunci bersama sayur bayam. Biasanya hasil rambanan itu ia gunakan untuk jatah makan kami para buruh tani saat sarapan. Tentunya dengan lauk yang menurut ukuranku sudah kelihatan wah ....
Aku beranjak untuk melanjutkan pekerjaanku menyiangi rumput. Dengan berjalan pelan aku menggigit es cendol saat keluar dari gubuk. Es cendol ini rasanya sangat enak sekali. Memang cocok bila diminum di sore hari saat matahari masih terasa panas.
Tiba di tempatku semula tiba-tiba kehebohan terjadi. Imah dan Ijah tiba-tiba menjerit histeris.
“Hantu ....”
“Hantu ....”
Mereka berdua lari terbirit-b***t entah apa yang mereka lihat.
Menyadari sudah tidak ada temannya sama sekali, dengan jantung yang berdetak kencang dan keringat yang bercucuran, aku mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi sehingga Imah dan Ijah berlari ketakutan seperti orang yang kesurupan.