Sister

957 Words
Happy Reading "Salma, uda bilang Mami kalau mau nginep disini?" tanyaku ketika sedang membaca sebuah artikel berita online sambil duduk berselonjor di sofa ruang tamu. "udah mbak" jawab Salma yang masih fokus dengan permainan PS yang sengaja kubelikan untuknya ketika sedang ke rumahku. Namira Salma, adik perempuanku sekaligus menjadi adik satu satunya yang kumiliki. Masih berstatus sebagai siswa kelas dua SMA dengan tinggi hampir sejajar denganku. Adikku suka berambut panjang dan dibiarkan terurai, sedangkan aku paling anti rambut dengan panjang melebihi pundak. Terkadang aku bingung dengan tingkah adik perempuanku, tampilanannya feminim tapi kelakuannya sebelas dua belas sama anak cowok seumurannya. She's Salma, my little sister. "yaudah, mbak mau tidur dulu. Kamu jangan malem malem tidurnya" "Hhmmm" jawabnya "ohya, nanti tidur di kamarnya mbak aja" kataku mengingatkan. "kenapa? Tumben boleh satu kamar sama mbak?" tanya Salma dengan fokus kearah LCD tv "besok ada mbak Laras mau nginep disini. Tadi pagi kamar sebelah barusan dibersihin. Kalau kamu tidur kan suka enggak aturan" "nyindir aku banget nih" "ngebantah terus nih bocah, pokoknya gak boleh tidur di kamar sebelah titik" "Iya Nyonya" Setelah memperingatkan Salma kemudian beranjak dari sofa menuju kamar tidur. Mbak laras adalah pacarnya Mas Ilham, mereka berpacaran sejak kuliah hingga sekarang. Lamanya naudzubillah, kalau ditotal sudah lebih dari cukup buat kredit rumah. Karena umur kakaku sudah mencapai kepala tiga dan ia berencana menikah tahun ini. Ketika baru merebahkan tubuh di kasur, terdengar ponselku berbunyi tanda panggilan masuk 'Kanjeng Mami Calling' "Hallo Mi?" sapaku "Salma masih disitu Na?" kebiasaan Mamiku selalu to the poin "Iya Mi, kan mau nginep disini" "mau nginep kok gak bilang? Tadi izinnya cuma main ke rumah kamu bentar" Tuh kan, aku dikibulin Salma untuk sekian kalinya. "yaudah sih Mi, Salma nginepnya juga sama aku. Itu anaknya lagi main PS, besok Nana anterin pulang sekalian main ke rumah mumpung weekend" "kasih tau adikmu itu, sama Hapenya kalau gak dipakai kembaliin sama Mami aja" "Kenapa sama Hapenya Salma?" "dari tadi Mami kirim pesan cuma dibaca gak dibales, giliran ditelepon malah gak aktif" "Iya Mi, nanti Nana bilangin sama Salma. Kalau Hapenya gak dipakai mending dibuat tukar tambah peralatan memasak buat ngisi dapurnya Mami" "kamu ini dibilangin serius malah ngajak bercanda" "Nana serius Mi, beneran" "yaudah, tau gitu Mami tidur dari pada nungguin Salma gak pulang pulang" "Iya, Happy Honey moon sama Papi ya..." "nih anak suka godain orang tuanya ya" pungkas Mami dan kujawab dengan kekehan. Setelah menutup telepon kemudian beranjak menemui Salma, tuh anak harus dikasih warning karena udah bohongin mbaknya Keesokan Paginya "Salma bangun" kataku dengan menggoyangkan tubuh jangkung adikku yang masih tertidur pulas. "ngantuk mbak" jawabnya dengan suara parau "tidur jam berapa sih? Udah dibilangin jangan kelewat malem tidurnya" "bangun gak?" "aduh mbak, di rumah ada Mami, disini ada mbak... Sekali kali mau bangun agak siangan ih" jawabnya malas dan membuatku tidak tega "yaudah, kamu sholat dulu" "hhhmmm" Sabtu pagiku diawali dengan membersihkan rumah dan merapikan barang karena aku cukup perfeksionis dalam kebersihan. Rumahku didesain dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu sedangkan ruang makan jadi satu dengan dapur yang bersebelahan dengan sebuah taman kecil di belakang sekaligus menjadi tempat laundry. Tau sendiri kan kalau perumahan tipe 45 memiliki area yang menempel persis dengan cluster disamping maupun dibelakangnya. Pertama memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci kemudian lanjut memasak. Setelahnya membersihkan rumah mulai dari menyapu, mengepel dan merapikan barang yang sedikit berantakan karena ulah adikku yang begadang movie maraton. Membersihkan area luar rumah yang terdapat taman yang tidak seberapa luas. Untuk mobil aku menyerahkan pada car wash untuk membersihkannya. Semua selesai dalam waktu dua jam, dan cukup menguras tenagaku pagi ini. Jam menunjukkan pukul sembilan dan Salma masih tidur dengan pulasnya. "Salma, mbak mau mandi. Kalau kamu belum bangun sampai mbak selesai mandi, siap siap Mami jemput kamu" "jangan dong" katanya dengan sigap duduk  dengan wajah berantakan. Tck, ancamanku berhasil "mbak, habis ini jalan jalan ya?" rengek Salma ketika kami sedang sarapan. Menu sederhana berupa sayur pecel dengan ayam goreng dan mendoan. "jalan kemana?" tanyaku setelah menelan makananan. "ke Mall" jawab Salma singkat "semalam mbak udah janji sama Mami buat segera nganterin kamu pulang" "yah, mbak Nana gak asik ih" "mau beli apa sih? Biar mbak beliin nanti sore sekalian re-stok bahan makanan" "beliin lip tint yang lagi hits" "eh, ehhh... Sekarang main make up ya?" "temenku pada pakai itu semua mbak" "halah alasan doang, nanti malam minggu  mau kencan sama Kevin kan?" "hehehe... Mbak Nana paling ngerti" "Enak lho mbak punya pacar, coba-" "STOP! gak usah diterusin" Nih anak kalau gak distop pasti pembahasannya kemana mana. Sok sok'an banget yang punya pacar, apalagi Kevin pacarnya Salma sudah akrab banget sama Mami. Ya kali Mamanya Kevin temen arisannya Mami. Sampai detik ini pertanyaan horor 'Kapan Nikah?' belum pernah keluar dari ucapan Mami. Ya secara ada Mas Ilham yang belum nikah jadinya aku bisa santai, Papi malah gak pernah menyinggung masalah jodoh. Yang sering muncul pertanyaan horor itu ketika lagi berkumpul keluarga besar. Mas Ilham sih enak jarang ikut dengan alasan pekerjaan di luar kota, sedangkan aku gak bisa mengelak sama sekali. Agenda hari sabtu memang selalu disibukkan dengan bersih bersih dan belanja keperluan bahan makanan untuk stok satu minggu kedepan. Sedangkan untuk kebutuhan pribadiku masuk list belanja bulanan. Seperti itu setiap hariku yang sudah terjadwal dengan rapi. Jadi tidak salah kalau Salma memberi julukan Miss Perfectionis melekat kepadaku. Jam menunjukkan pukul enam sore. Rasanya badanku capek setelah mengantarkan Salma pulang kemudian berbincang dengan Mami dan makan siang disana. Ketika dalam perjalanan pulang berbelok ke salah satu super market untuk berbelanja. Dan kini beberapa kantong plastik yang berisi berbagai jenis bahan makanan berjejer di meja pantri untuk selanjutnya dirapikan. Setelah merapikan semuanya, kemudian beristirahat untuk besok bangun lebih pagi karena ada acara selama seharian penuh. . . . To be Continued Ayaya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD