Usai menjemput Icha sore itu aku mampir sebentar ke sebuah rumah makan membeli beberapa bungkus makanan untuk orang-orang di rumah. Tak apalah sekali-kali biar mereka sadar wanita seperti apa yang sering mereka anggap sampah di rumah mereka ini. Saat menginjakkan kaki di halaman rumah, masih belum kulihat juga mobil mas Bram di sana. Refleks kuambil ponsel dari dalam tasku. Pesan terakhirku padanya pun ternyata masih checklist satu. Berarti ponsel mas Bram belum aktif sampai saat ini. Kemana sebenarnya suamiku itu? "Bawa apa kamu?" tanya ibu mertua saat melihatku meletakkan plastik belanjaanku di atas meja makan. "Nasi Padang. Makan aja kalau ibu dan anak-anak ibu lapar," kataku cuek sambil berlalu meninggalkan ruang makan. "Tumben," celetuk ibu masih bisa kudengar meskipun aku suda

