Bab 1:Senja Kala Itu

1002 Words
“Ola mau dijemput, Nak? Sepertinya mendung kali ini cukup gelap.” Suara khas lelaki paruh baya yang selalu terdengar penuh kekhawatiran itu mengalun dari sambungan telepon di genggaman Viola. Gadis itu baru saja melangkah keluar dari perpustakaan kecil di taman kota Surabaya, sementara langit di atas sana mulai dipenuhi gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah. Angin sore berembus pelan, membawa aroma hujan yang sebentar lagi akan turun membasahi bumi. “Viola bawa payung, Pak,” jawab Viola lembut. Suaranya setenang air sungai di desa kecil, “nanti kalau hujan, Viola tinggal pakai payung. Kalau deras, ya Viola berteduh dulu.” “Haduh, nduuk...” Ayahnya terdengar menghela napas. “Pa’e khawatir kamu kehujanan sebelum sampai rumah. Apa perlu bapak suruh—” “Viola pasti sampai rumah sebelum hujan, Pak,” potong Viola cepat, meski nada bicaranya tetap halus. “Izin Viola tutup teleponnya ya. Assalamu’alaikum.” Tanpa memberi kesempatan ayahnya melanjutkan kalimat, Viola buru-buru mematikan sambungan telepon itu. Beberapa detik setelahnya, langkahnya melambat. Rasa bersalah datang seperti gerimis pertama yang jatuh diam-diam di bahu. Ia menunduk kecil, jemarinya menggenggam ponsel erat. “Maafin Viola ya, Pak..” gumamnya lirih pada diri sendiri. “Viola nggak sopan lagi. Motong pembicaraan.” Ia tahu ayahnya hanya khawatir, dan akan selalu begitu. Namun akhir-akhir ini, setiap perhatian kecil dari kedua orang tuanya terasa seperti jalan panjang yang diam-diam sedang diarahkan menuju satu tujuan yang belum siap Viola datangi, yaitu pernikahan. Viola mengembuskan napas perlahan, lalu kembali melangkah menyusuri trotoar taman kota yang mulai lengang. Pukul tiga sore tadi ia berpamitan pergi membeli beberapa keperluan pribadi di swalayan yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Namun karena terlalu asyik berkeliling melihat berbagai printilan lucu, kemudian deretan pita warna-warni yang menggantung manis di etalase toko kecil sebelah swalayan, dan mampir ke perpustakaan dan terlena oleh aroma buku baru disana, ia sampai lupa waktu. Langit sudah berubah jingga redup ketika akhirnya ia melirik jam kecil di pergelangan tangannya. “Ya Allah…” Viola mengeluh saat dirasa tetasan air hujan menetes satu per satu di atas hijab yang ia kenakan. Viola mempercepat langkahnya sedikit. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang ingin segera pulang sebelum hujan turun makin deras. Beberapa pedagang kaki lima sibuk menutupi dagangan mereka dengan terpal. Angin pun kini bertiup lebih dingin, memainkan ujung hijab krem milik Viola hingga berayun pelan di bahunya. Dan benar saja, tetesan air jatuh makin deras, hingga dalam hitungan detik langit seolah runtuh bersama hujan yang mendadak turun tanpa aba-aba. “Ya ampun…” Viola buru-buru membuka payungnya. Namun angin sore yang cukup kencang membuat beberapa tempias hujan tetap membasahi ujung gamisnya. Gadis itu mempercepat langkah sambil sesekali menahan hijabnya yang berkibar tertiup angin. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, mencari tempat berteduh, sampai kemudian ia melihat sebuah halte tua di seberang jalan. Catnya mulai memudar. Bangkunya tampak lapuk dimakan usia. Atap sengnya bahkan mengeluarkan bunyi berisik setiap kali hujan menghantam permukaannya. Namun di tengah hujan sederas itu, tempat tersebut terlihat seperti satu-satunya perlindungan yang Tuhan sediakan sore ini. Viola segera berlari kecil menuju halte itu. Napasnya sedikit memburu ketika akhirnya ia sampai di sana. Namun langkahnya terhenti sesaat, karena ternyata ia tidak sendirian. Seorang lelaki duduk di ujung bangku halte, dengan kemeja yang sedikit basah di bagian bahu dan rambut hitam yang tampak lembap. Sebuah tas laptop diletakkan di sampingnya, sementara jemarinya sibuk membetulkan jam tangan yang ia gunakan. Lelaki itu lalu mendongak pelan, dan untuk pertama kalinya mata mereka bertemu di bawah langit senja yang basah. *** Viola langsung memutus kontak mata dengan lelaki asing di halte itu lalu berniat pergi mencari tempat berteduh yang lain. Namun sebuah suara yang lembut menahan langkahnya, "Maaf, mbak. Hujannya lebat. Duduk saja disini. Saya akan berdiri di ujung sana kalau mbak merasa tidak nyaman" Viola menoleh, menatap lelaki itu dengan ekspresi sulit ditebak, "Anda akan basah jika berdiri disitu. Tidak apa apa saya duduk di ujung sini saja", ucapnya kemudian. Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Mereka sama-sama diam, menyaksikan ribuan tetes hujan berlomba turun membasahi jalanan kota. Lampu-lampu kendaraan mulai memantul di aspal yang basah, menciptakan warna-warni samar yang bergerak seperti lukisan cat air. Viola melipat payung yang tak sempat ia pakai tadi. Hijab yang ia kenakan tampak sedikit lembap terkena tempias hujan. Ia merapikan ujung hijabnya diam-diam, lalu duduk dengan tangan terlipat di atas tas belanja kecil miliknya. Sementara di ujung bangku sana, lelaki itu menatap lurus ke depan. Entah kenapa, Viola merasa lelaki itu tampak lelah. Tatapannya seperti seseorang yang terlalu sering pulang petang bersama pikirannya sendiri. Sesekali lelaki itu batuk kecil, lalu merogoh saku kemejanya untuk mengambil saputangan. Gerakannya lambat. Wajahnya sedikit pucat diterpa cahaya langit sore yang mulai meredup. Viola menunduk kecil. Harusnya ia tidak memperhatikan orang asing sedetail ini. Atap halte tiba-tiba berbunyi lebih keras ketika angin membawa hujan turun semakin deras. Tempias air mulai masuk hingga membasahi lantai halte. “Sepertinya hujannya akan lama,” gumam lelaki itu akhirnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. Viola mengangguk kecil. “Iya…” Hening lagi. Namun kali ini tidak secanggung sebelumnya. Di kejauhan, suara azan magrib mulai terdengar samar dari masjid kecil di ujung jalan. Mengalun lembut bersama aroma hujan dan udara dingin senja kala itu. Kemudian lelaki tanpa identitas itu menoleh sedikit. “Mbak mau pulang ke arah mana?” tanyanya hati-hati, seolah takut pertanyaannya terdengar terlalu lancang. Viola terdiam sepersekian detik sebelum menjawab. “Ke arah Jalan Melati.” “Lumayan jauh juga kalau jalan kaki.” “Iya,”Viola tersenyum tipis,“Tapi biasanya ada angkot lewat.” Lelaki itu mengangguk paham. Setelahnya ia kembali diam. Namun diam-diam, pandangannya sempat jatuh pada plastik belanja di samping Viola yang hampir roboh terkena angin. Dengan refleks, ia bangkit untuk menahan plastik itu sebelum isinya berjatuhan. “Oh, maaf…”, lelaki itu berucap karena jari mereka nyaris bersentuhan. “Tidak apa-apa dan... terima kasih” sahut Viola cepat. Viola tertegun setelahnya. Namun hujan yang mulai mereda disusul dan disusul dengan getaran pada ponsel Viola mengembalikan kesadarannya. “Halo, Assalamualaikum.” ... “Eh, siapa, Pak??!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD