Fakhrul mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Yuni terus saja mengetuk-ngetuk pintu itu namun tak.mendapatkan jawaban sama sekali dari putranya. Ia gelisah dan ketakutan, namun tak mampu berbuat apa-apa. Semua sudah terjadi, dan semua memang kesalahannya yang tidak melakukan tabayyun terlebih dahulu mengenai kebenaran tentang Gia. Al-Qur'an yang tengah dibaca oleh Fakhrul telah basah oleh tetesan airmata. Ia menekuri dirinya sendiri, memikirkan semua kesalahannya meskipun ia tak tahu yang mana perbuatannya yang salah selama ini. Tok..., tok..., tok...!!! "Arul..., Nak..., buka pintunya. Ini sudah tiga hari kamu terus berdiam diri di dalam. Kamu belum makan Nak, Ummi khawatir." Suara Yuni terdengar jelas di balik pintu kamarnya, namun Fakhrul tetap tak menjawab. Ia tak ingin mengatakan a

