BAB 3 Istri Yang Dibuang Ternyata Kaya Raya

1676 Words
Rebecca POV Meski pikiran pertamaku adalah langsung menuju bandara dan keluar dari kota ini secepat mungkin, tapi kondisi pikiranku yang buruk justru mendorongku ke arah yang berbeda. Jadi, aku meminta sopir taksi untuk membawaku ke sebuah hotel bintang lima yang bagus untuk menyegarkan diri. Masih terasa sulit dipercaya bahwa Rowland akan menceraikanku dengan cara seperti ini. Aku berani bersumpah bahwa kupikir dia adalah suami paling setia di dunia. Selama kami menikah, dia menghujaniku dengan begitu banyak cinta, dan meskipun aku menikahinya dengan identitas sebagai seorang wanita yang sebelumnya adalah pembantunya, dia tidak pernah memperlakukanku seperti orang rendahan. Karena itu, untuk sesaat, aku yakin bahwa aku telah menemukan kebahagiaan yang kucari selama ini, apalagi karena Rowland tidak pernah tahu apa pun tentang aku selain namaku. Jadi kupikir dia mencintaiku dengan tulus, bukan karena siapa diriku. Namun, faktanya. Kini kebahagiaanku telah habis masanya. Aku tidak dapat menahan diri untuk berpikir tentang kenyataan bahwa aku sangat tidak beruntung dalam hal cinta. Aku mulai menerka-nerka bahwa mungkin cinta dan pernikahan tidak diciptakan untukku, meskipun aku sangat menyukai gagasan tentang memiliki keluarga yang harmonis. Tumbuh besar dengan melihat kasih sayang yang dibagikan orang tuaku, selalu membuatku ingin memiliki kasih sayang dengan keluarga kecilku sendiri. Orang tuaku, mereka adalah pasangan paling serasi yang pernah aku lihat sampai pada akhirny mereka meninggal dalam kecelakaan helikopter sepuluh tahun lalu, meninggalkanku sendirian tanpa saudara kandung, yang ada di sekelilingku hanya saudara-saudara yang lebih suka menghakimiku daripada mendukungku. Sungguh menyedihkan bagaimana hatiku hancur setiap kali aku mencoba mencintai seseorang dan mengharapkan sikap yang sama, dan, plis, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ukuran tubuhku. Saat ini berat badanku 50kg, tetapi berat badanku tidak terpengaruh karena tinggiku 160 cm, dan aku salah satu orang paling aktif, aku tidak pernah bisa diam, aku selalu bergerak ke sana kemari mencari aktivitas. Aku tahu, kegagalanku dalam hal cinta bukan tentang sikapku atau tentang penampilanku, tetapi tentang keputusan-keputusan yang telah aku buat dan hal-hal yang aku rela hadapi, semuanya karena keputusasaanku untuk dicintai dan diinginkan oleh seseorang. Selama ini aku terlalu berharap lebih pada orang-orang di sekitarku, bahwa kupikir mereka akan mencintai dan menyayangiku jika aku begitu mencintai dan menyayangi mereka. Tapi, kini tidak lagi. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku telah memutuskan untuk mulai hidup untuk diriku sendiri, mencintai diriku sendiri, dan berfokus menjadi orang yang lebih baik untuk anakku yang belum lahir. Lucu sekali bagaimana Rowland berpikir dia bisa menghiburku dengan uang setelah mempermainkan hatiku, andai saja dia tahu bahwa aku memiliki harta yang bahkan lebih dari setengah saham perusahaannya. Aku tidak seperti pembantu gelandangan yang bangkrut itu, dia pikir dia sudah menikahi wanita miskin, tidak, aku kaya, bahkan mungkin lebih kaya darinya. Ketika orang tuaku meninggal, mereka meninggalkan warisan padaku, yaitu seluruh kekayaan mereka yang jumlahnya miliaran dolar, dari asuransi jiwa dan berbagai investasi mereka yang tersebar di seluruh dunia. Orang tuaku memimpin pasar real estat sebelum kematian tragis mereka, dan setelah mereka meninggal, aku memutuskan untuk memperkerjakan beberapa orang agar ada yang mengepalai perusahaan dan melapor kembali kepadaku. Kebanyakan orang tidak mengenalku karena aku menghabiskan sebagian besar hidupku di sekolah asrama dan ketika aku pulang dari sekolah menengah, aku langsung dikirim ke universitas di negara lain. Orang tuaku selalu takut kehilanganku, terutama setelah adik laki-lakiku meninggal di usia lima tahun. Jadi, mereka meluangkan waktu dan uang ekstra untuk memastikan kalau aku tidak diliput oleh media. Pada dasarnya, aku tidak terbiasa dengan sorotan, sejak dulu aku tidak senang menjadi pusat perhatian banyak orang, aku selalu menghindar dari apa pun yang bisa membuatku tampil di media massa. Itulah sebabnya tak seorang pun tahu wajahku, tetapi semua orang akan familier dengan namamu, Rebecca Poetry Admaja. Bahkan Rowland tidak dapat mendapatkan informasi apa pun ketika dia penasaran siapa investor yang telah membantunya ketika aku meminta akuntanku untuk membeli banyak saham perusahaan Rowland ketika ia sedang kesulitan. Aku yakin tidak terlintas di benaknya bahwa pembantu kecilnya yang tak berdaya dan berubah menjadi istrinya ternyata memiliki nama yang sama dengan investor terbesar di perusahaannya, atau kalaupun dia tahu, memang seberapa besar kemungkinannya? Selama lima tahun pernikahan kami, dia tidak pernah tahu bahwa aku adalah seorang pewaris kaya raya yang menyamar sebagai pembantu. “Kita sudah sampai, Nyonya,” kata sopir taksi itu saat mobil yang dia kendarai berhenti di tempat parkir sebuah hotel bintang lima. Aku segera turun dari taksi sambil membawa koper dan tasku, kemudian tak lupa aku membayar taksi itu, setelahnya aku langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar. Untungnya aku mendapat kamar suite di lantai enam dan tidak butuh waktu lama untuk menunggu barang-barangku dibawa ke kamar. Helaan napas berembus dari bibirku begitu aku ditinggal sendirian oleh pelayan hotel. Sejujurnya kemewahan kamar itu tidak memberiku kenyamanan sebanyak yang kukira. Inilah kali pertama aku sendirian dalam lima tahun, dan rasanya sakit mengetahui semua pengorbananku hancur di depan mataku. Begitu aku merasa tenang, aku mengangkat telepon untuk menghubungi penasihat keuanganku dan menanyakan beberapa hal mengenai investasiku saat ini dan bagaimana kinerja perusahaan. Namun dia meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi ada seseorang dari perusahaan Rowland yang berusaha mencoba mencari identitasku. Menurutku itu agak aneh. Aku katakan kepadanya bahwa dia harus mencari tahu siapa orang ini dan apa yang mereka inginkan. Setelah itu, aku menelepon bibiku untuk memberi tahu bahwa aku akan pulang dalam satu atau dua hari kedepan. Meskipun aku tahu jika meneleponnya pasti dia akan mengajukan banyak pertanyaan, karena itu aku segera mengakhiri panggilan sebelum dia memulainya. Setelah selesai menelepon, aku memesan makanan, menyadari bahwa ada kehidupan yang tumbuh di dalam diriku, itu membuatku harus lebih hati-hati dalam memilih makanan yang akan aku nikmati. Namun, ketika makanan pesananku tiba, aku tidak dapat memakan makanan tersebut karena aku merasa jijik dengan baunya dan bahkan aku langsung berlari ke kamar mandi untuk muntah. Astaga, aku harus memanggil layanan kamar untuk datang mengambil makanan ini sebelum aku mual lagi. Setelah masalah makanan selesai. Aku tiba-tiba menyadari bahwa aku menjadi sangat kedinginan, karena itu aku segera mematikan AC. Lalu, aku kembali sadar bahwa kini aku merasa lemas dan juga lelah, jadi aku langsung tidur karena aku merasa perlu istirahat. Lagi pula, aku juga butuh merehatkan kepalaku agar aku bisa berpikir jernih kembali, karena setelah ini aku perlu memikirkan tindakanku selanjutnya. * Tak terasa tanpa sadar aku terbangun ketika langit mulai menjelang sore hari. Saat bangun, aku langsung merasa lemah, lapar, dan sedikit demam. Bosan sendirian di kamar, dan karena hari sudah mulai gelap, aku memutuskan untuk pergi ke restoran untuk mencoba makan sesuatu. Sebelum pergi, aku mandi terlebih dulu, kemudian aku mengenakan gaun bermotif bunga-bunga dan menata rambutku menjadi sanggul yang sedikit berantakan. Restoran yang aku tuju berada di lantai dua, dan dalam hitungan menit, aku sudah duduk sembari menunggu pesanan jus jeruk segar. Tapi. Saat aku sedang duduk tenang, belum sampai tiga menit, aku melihat Rowland masuk lewat pintu sambil mendorong kursi roda Catherine yang tampak berpakaian mewah, mereka masuk ke dalam restoran yang sama denganku. Kalau saja aku tidak menyeruput jus yang ada di mejaku, mungkin aku akan mengira jus itu dicampur alkohol atau semacamnya. Karena ini terlalu pahit dan mengejutkan. Kupikir Catherine sedang sakit parah, tapi kenapa dia bisa dengan santainya ada di sini, seolah dia sehat tanpa ada penyakit apa pun. Aku mendadak bertanya-tanya. Aku memperhatikan mereka saat ditawari tempat duduk tepat di sebelah tempatku duduk, dan Rowland-lah yang pertama kali mengenaliku. “Rebecca?” panggilnya seolah mencoba memastikan bahwa aku adalah orang yang dikenalnya. "Rowland," jawabku, lirih. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya. “Seharusnya aku yang bertanya begitu, kukira ibu bayimu sedang sakit dan sekarat, itulah sebabnya kamu menerimanya kembali,” ujarku, pura-pura menatap heran. "Berani sekali, apa urusanmu kalau aku sakit atau tidak? Rowland hanya memberitahumu karena dia tidak ingin menyakiti perasaanmu, dan aku bukan satu-satunya yang menginginkan hal-hal baik dalam hidup ini, kamu merayunya saat kalian berdua menikah, dan aku masih tidak mengerti bagaimana kamu bisa mampu berada di tempat seperti ini hanya dalam waktu dua puluh empat jam setelah dia menceraikanmu," kata Catherine dengan nada mengejek. “Pasti menyakitkan bagimu mengetahui tidak semua orang p*****r sepertimu,” kataku. Dia mengangkat tangannya, berniat memukulku, tetapi dihentikan oleh Rowland. Kemudian, Rowland menatap ke arahku. “Rebecca, apa yang kamu lakukan di sini? Aku tahu kamu belum menerima uang dari cek kosong yang kuberikan padamu, jadi bagaimana kamu bisa tinggal di tempat ini? Jangan bilang kamu selingkuh? K3ukira selama ini kamu mencintaiku,” cakap Rowland sambil menatapku dengan pandangan menghakimi. “Ups. Sepertinya aku bukan satu-satunya p*****r di ruangan ini,” kata Catherine sambil terkikik. "Cukup, Catherine.” Rowland memarahi pacarnya sementara tatapannya terpaku pada tatapanku. "Rebecca, apakah seorang pria membawamu ke sini? Apakah kamu ditiduri oleh seorang pria? Apa itu sebabnya kamu tidak menerima apa pun yang aku tawarkan? Sudah berapa lama kamu tidur dengannya?" tanyanya, beruntun. Beraninya dia menuduhku atas sesuatu yang padahal dia sendiri yang melakukannya? Sejujurnya, aku hampir kehilangan ketenanganku ketika aku mendengar suara serak manis dari belakangku “Halo sayang, maaf membuatmu menunggu. Apakah orang-orang ini mengganggumu?” kata lelaki yang belum kulihat wajahnya itu. Ketika menoleh untuk melihat siapa dia, mulutku sedikit terbuka karena terkejut. Sebastian Klein, CEO Alphas Luxury Automobile. “Jadi, dialah alasanmu cepat melupakanku?” tanya Rowland, suaranya dipenuhi kecemburuan yang membuatku bingung. Aku belum pernah seterkejut ini sepanjang hidupku, terutama karena ini adalah pertama kalinya aku bertemu Sebastian secara langsung. “Maaf jika Anda tidak keberatan, sebenarnya Anda mengganggu makan malam kami,” kata Sebastian kepada Rowland. "Kamu sebaiknya tidak ikut campur dalam hal ini karena aku sedang bicara dengan istriku," kata Rowland. “Mantan istrimu, kamu sudah menceraikannya jadi dia milikku sekarang,” kata Sebastian tegas kepadanya. Rowland menatapku seolah menungguku mengatakan sesuatu, tetapi aku mengabaikannya sambil mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi padaku. Aku merasa semakin lemah setiap detiknya, dan bahkan ketika aku melihat Rowland berjalan pergi bersama Catherine, aku tetap tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian semuanya mulai berputar dan pandanganku menjadi kabur, aku hampir tidak bisa membuka mataku. “Rebecca, kamu baik-baik saja?” Kudengar suara Sebastian memanggil. Sekalipun aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa aku tidak sadarkan diri, aku tidak bisa mengatakan apa pun karena perlahan-lahan aku mulai kehilangan kesadaranku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD