“Fa,” Panggilan itu bagai mimpi buruk. Tak seharusnya Christian mengucap itu di ambang pintu rumah duka. Ia menangkap atensi banyak orang termasuk putri mendiang sendiri. Kita tak bisa mengekspektasikan respon yang bai—kau tahu. Farisma yang masih overwhelmed di situasi ini tak bereaksi. Mata merah yang dilingkari kantung hitam itu menatap mantan calon suaminya. Mantan calon suami. Kalimat itu sangat tak sedap diucapkan. Chris berdiri di ambang pintu dengan peluh di seluruh tubuh. Sebenarnya ia sempat mengendarai Audi kemari. Namun kemacetan ibu kota membuatnya memilih untuk menepi dan keluar dari mobil. Sambil menyerapah tak jelas, pria keturunan Tionghoa ini berlari ke pangkalan ojek. Ia kenakan helm, marah-marah tak jelas pada pengemudi sambil menyuruhnya cepat. “Saya bayar tiga

