She Was A Girl with A Dream

1291 Words

Adrien sempat depresi. Bertahun-tahun lalu—saat namanya masih Farisma. Janinnya baru saja gugur, ia batal menikah, orangtuanya meninggal. Dunianya seolah terbalik. Gadis itu bergelung dan menangis di kamar berhari-hari. Tak berangkat kuliah, tak sanggup bahkan untuk berdiri dan menggosok gigi. Ia beberapa hari melewatkan makan. Sama sekali tak menghiraukan panggilan sahabat-sahabatnya yang mencoba menolong. Kalau saat itu kalian lihat wajah Adrien, mungkin kalian akan merinding. Pipinya tirus sekali. Lingkaran matanya menebal. Bibirnya pucat seperti orang mati. Yang berenang di otaknya cuma rasa bersalah. Ia merasa gagal menjadi manusia. Tak pantas meneruskan hidup. Menangisi jabang bayinya, menangisi mendiang orangtuanya, menangisi hidupnya; berulang-ulang sambil berteriak di bawah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD