EPISODE 1

916 Words
Delapan Tahun Kemudian   Seorang gadis remaja masuk ke sebuah rumah sederhana setelah menyimpan sepedanya. Di sana, seorang Pria paruh baya sudah menantinya dengan senyum bahagia. "Assalamu'alaikum Pak...," gadis itu mencium tangan Pria paruh baya tersebut. "Wa'alaikum salam Nak..., bagaimana Sekolahmu hari ini?," tanya Adam - Pria paruh baya tersebut. "Alhamdulillah Pak, lancar dan menyenangkan. Hari ini aku belajar Matematika, Bahasa Arab dan Al-Qur'an Hadits. Untuk Muroja'ah, aku sudah menambah hafalan lima ayat dari Surat Maryam, yaitu ayat enam belas sampai ayat dua puluh," jawab Rinjani, penuh dengan semangat membara khas anak remaja. Pria itu tersenyum melihat Puterinya begitu bersemangat dalam belajar, terutama dalam menghafalkan Al-Qur'an. Ia tak pernah menyangka bahwa Puterinya sangat bersungguh-sungguh ketika bernazar dua bulan yang lalu. "Pak..., Insya Allah aku mau menghafalkan Al-Qur'an. Aku mau membuat Ibu bangga padaku saat kami bertemu suatu hari nanti." Kata-kata yang sudah jelas takkan pernah hilang dari ingatan Pria itu. Sebagai seorang Ayah, ia benar-benar merasa sangat beruntung karena memiliki Puteri yang sangat pengertian dan penurut seperti Rinjani. "Pak..., Pak...? Bapak melamun?," tanya Rinjani, khawatir. Adam tersenyum ke arah Puterinya dengan lembut. "Tidak Nak..., Bapak tidak melamun. Ayo..., makan dulu jangan sampai kamu masuk angin karena lapar," ajaknya. Rinjani pun mengangguk patuh, mereka berdua pun segera menuju ke belakang rumah. 'Maafkan Bapak Nak..., maaf karena tak pernah memberitahumu tentang apa yang sebenarnya terjadi.'   * * *   Aisyah menatap jendela dengan pandangan yang mengabur. Sudah bertahun-tahun sejak Rindu tak ada lagi dipelukannya, ia masih saja tak mampu untuk bangun sendiri dari tempat tidurnya. Kelumpuhan itu membuatnya menderita, di tambah lagi dengan k*******n yang dilakukan oleh Ayah kandungnya sendiri, membuat dirinya semakin tak berdaya. Senja mulai datang, warna merah lembayung di langit selalu menjadi satu-satunya panorama terindah milik Allah yang bisa ia nikmati. Ia teringat segalanya, tentang Suaminya, tentang Pria yang begitu dicintainya, dan tentang Rindu..., Puteri semata wayangnya. Kreekkk! Suara daun pintu yang terbuka membuat Aisyah mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar itu. Bi Inah - pembantu yang bekerja untuk mengurus Aisyah - tersenyum saat melihat Aisyah yang terjaga. "Ayo..., Mbak Ai makan dulu ya..., Bibi sudah masak makanan kesukaan Mbak Ai," ujar Bi Inah. Aisyah kembali menitikkan airmatanya. "Ri..., Rin..., du...," balas Aisyah, terbata-bata. Bi Inah mengusap kepala Aisyah yang selalu terbalut hijab dengan lembut, ia mendekat dan berbisik ditelinga Wanita itu. "Rindu sudah aman bersama Mas Adam..., nanti suatu hari mereka akan menjemput Mbak Ai...," Bi Inah meyakinkan. Aisyah pun mengangguk pelan. Bi Inah tersenyum lalu mulai menyuapinya perlahan-lahan. 'Allah itu Maha Adil, Insya Allah, saya akan tetap menjagamu sampai bahagia menjemputmu dari sini.'   * * *   Bi Inah menutup pintu kamar Aisyah setelah selesai menyuapinya. Saat ia berbalik dan hendak ke dapur untuk menyimpan piring, tatapannya bertemu dengan sesosok pemuda berbadan tegap, berparas tampan. Pemuda itu tersenyum pada Bi Inah seraya mendekat. Ia melihat-lihat situasi disekelilingnya sesaat. "Bagaimana keadaan Bibi Ai?," tanyanya, berbisik. "Den Ridwan tenang saja, Mbak Ai kondisinya mulai membaik. Den Ridwan harus hati-hati kalau mau menanyakan tentang hal ini..., nanti Romo Besar marah," jawab Bi Inah, yang ikut berbisik. Ridwan tersenyum lega. "Bi Inah tenang saja, saya tahu kalau harus berhati-hati. Tapi Bi Inah juga jangan lupa untuk terus memberikan obat yang saya berikan, saya mau Bibi Ai cepat sembuh dan bisa pergi dari sini," balas Ridwan. Bi Inah menganggukan kepalanya lalu segera berjalan menuju ke dapur agar tak ada yang curiga pada mereka berdua. Ridwan pun segera keluar menuju halaman melalui pintu samping. Heru Barata - Pria yang terkenal akan kekejamannya - sedang menikmati angin sore dengan secangkir teh jahe yang tersaji di meja depan rumah megah itu. Ia duduk di dampingi oleh Ariana Barata - Ibu dari Ridwan Barata yang juga Adik kandung Aisyah Barata. "Romo sangat bangga dengan apa yang sudah kamu capai dalam bisnis keluarga kita," puji Heru. Ariana tersenyum sinis. "Baguslah kalau akhirnya Romo bangga padaku," balas Ariana. "Kenapa kamu bicara seperti itu?," tanya Heru, merasa heran. "Yah..., karena seingatku sejak dulu Romo hanya bangga pada Mbak Ai. Jadi..., baguslah kalau akhirnya Romo sadar bahwa aku yang lebih pantas untuk dibanggakan dalam keluarga ini daripada Mbak Ai yang selalu sok suci dan sok agamis itu...," jawabnya, dengan nada yang bertambah sinis. Heru meneguk teh jahenya perlahan, lalu tersenyum mengejek. "Siapa bilang Romo sudah tidak bangga pada Ai? Romo tetap lebih membanggakan Ai daripada kamu jika berada di hadapan banyak orang. Karena Ai..., lebih memiliki derajat yang tinggi daripada kamu di mata orang lain," balas Heru. Ariana menggeram hebat, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kekesalannya akan apa yang dikatakan oleh Heru membuat darahnya mendidih luar biasa. Ridwan muncul di halaman depan namun dia berniat untuk menghindari kumpul keluarga sore itu. "Ridwan!," panggil Heru, yang ternyata melihat sosoknya. Ridwan mendesah dalam hati, usahanya untuk menghindar tak berhasil. Ia pun berbalik dan tersenyum ke arah Heru dan Ibunya. "Ada apa Romo?," tanyanya. "Kemarilah..., duduk bersama Romo," perintah Heru. Ridwan mendekat, ia mengamati wajah Ibunya yang sepertinya sedang menahan amarah. Heru menepuk-nepuk punggung Ridwan dengan tegas. "Kalau Ibumu berhasil menjalankan bisnis keluarga, maka suatu saat nanti kamu akan mewariskan bisnis tersebut, karena kamu adalah Cucu Laki-laki di Keluarga Barata," tambah Heru seraya tertawa bangga. Ariana membanting cangkirnya ke atas meja dan pergi meninggalkan halaman rumah itu dengan kemarahan yang semakin meledak dalam dirinya. Ridwan tak mengatakan apapun, ia hanya mampu beristighfar dalam hati dan berdo'a agar dijauhkan dari keburukan yang selalu menjadi simbol di dalam rumah Keluarga Barata. 'Ya Allah..., perkenankanlah hamba-Mu ini agar bisa berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan orang-orang yang dizhalimi. Amiin.'   * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD