EPISODE 7

1230 Words
MENUTUPI   Ariana tampak gelisah seharian, sudah seminggu sejak Aisyah mendapat perawat baru dan entah bagaimana Wanita itu sepertinya banyak mengalami kemajuan. Hal itu tentu saja membuatnya tak enak makan dan tak enak tidur. Otaknya terus berpikir tentang menyingkirkan Aisyah untuk selama-lamanya. Ridwan menyadari itu, Ibunya sangat bertingkah aneh setelah mendengar kabar dari Bi Inah yang melapor pada Romo Besar bahwa Bibinya mengalami kemajuan yang pesat sejak dirawat oleh pegawai baru. Ia benar-benar harus berjaga-jaga, jangan sampai Ibunya kembali melakukan hal buruk lagi pada Bibinya. Heru terlihat sudah pergi ke perkebunan bersama Karto, Ariana pun segera keluar dari kamarnya menuju kamar Aisyah yang kini selalu saja terkunci dari dalam. Ia pun langsung menggedor-gedor dengan keras pintu itu tanpa basa-basi. Rinjani memutar anak kunci dan membuka tuas perlahan sambil menahan pintu dengan kedua kakinya agar tak terbuka terlalu lebar. Ia hanya membuka pintu itu selebar wajahnya saja. "Minggir kamu! Saya mau melihat kondisi Kakak saya!," perintah Ariana. "Maaf Nyonya Aria..., anda dilarang keras oleh Romo Besar untuk masuk ke dalam kamar Nyonya Ai...," balas Rinjani, datar. Ariana memperlihatkan wajah emosionalnya lagi di hadapan Rinjani, namun gadis itu tak bergeming sedikit pun. "Heh! Saya pemilik rumah ini, jadi saya berhak masuk ke kamar manapun yang saya inginkan! Kamu punya hak apa melarang-larang saya untuk masuk ke kamar Kakak saya sendiri?!!," tanya Ariana. "Sekali maaf Nyonya Aria, anda tidak diperkenankan masuk ke kamar Nyonya Ai. Itu adalah perintah langsung dari Romo Besar pada saya!," tegas Rinjani, dan segera menutup kembali pintu kamar itu sekaligus menguncinya. BRAKKK!!! BRAKKK!!! BRAKKK!!! "BUKA PINTUNYA!!! SAYA MAU MASUK!!!," teriak Ariana, murka. Rinjani mengusap dadanya dan beristighfar dalam hati. Ponselnya masih terus merekam apa yang dilakukan oleh Ariana sejak tadi. BRAKKK!!! BRAKKK!!! BRAKKK!!! "BUKA PINTUNYA PENGASUH s****n!!!." Aisyah yang ketakutan akan terjadi sesuatu pada Puterinya pun mulai menangis. Rinjani pun mendekat padanya. BRAKKK!!! BRAKKK!!! BRAKKK!!! "Bu..., Ibu jangan nangis, Ibu harus kuat, aku ada di sini sama Ibu. Ibu nggak boleh nyerah," bisik Rinjani di telinga Aisyah. Aisyah pun mengangguk, Rinjani pun memeluknya dengan lembut. "AWAS KAMU RINJANI..., AKU AKAN BUAT PERHITUNGAN DENGANMU!!!," ancam Ariana. Suara gedoran di pintu itu pun berhenti, langkah kaki Ariana terdengar menjauh dari kamar itu. Rinjani pun bernafas lega untuk sesaat, ia kembali melihat ponselnya dan mengirimkan rekaman itu pada Heru Barata - Kakeknya. Heru mendengarkan rekaman suara di ponselnya yang dikirim oleh Rinjani. Dadanya terasa mendidih luar biasa saat tahu bahwa Ariana kembali lagi melakukan hal kurang ajar pada Aisyah. Tanpa berlama-lama, ia meminta Karto untuk kembali pulang ke rumah. "ARIA!!! KELUAR DARI KAMARMU!!!," perintah Heru. Ariana pun keluar dari kamarnya dan menemui Heru yang sedang dalam keadaan marah besar. "Apalagi yang kamu lakukan hari ini pada Ai???," tanya Heru. "Kenapa??? Romo mau marah padaku hanya karena perawat s****n itu mengadu???," tantang Ariana. "Berani-beraninya kamu melawan Romo!!! Apa kamu sudah bosan menjadi anggota keluarga Barata??? Mau ditendang dari sini kamu???," bentak Heru. Ariana tersenyum sinis luar biasa di hadapan Heru untuk pertama kalinya. "Apa Romo lupa, tentang kelakuan Mbak Ai yang sudah membuat Ibu meninggal??? Apa Romo sudah lupa, bahwa kelakuan Mbak Ai sudah membuat keluarga kita berantakan??? Apa Romo mau membela Mbak Ai terus-menerus dan mengulang masa lalu keluarga kita???," tanya Ariana. Heru terdiam. Rinjani mendengarkan semua itu dengan jelas. Fitnah k**i itu ternyata berasal dari mulut Bibinya sendiri - Ariana - yang sungguh tidak ia duga sama sekali. Rinjani mulai menyusun rencana, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk membuka kedok s****n si pengkhianat dalam keluarga ini. 'Allah selalu tahu, mana yang hamba-Nya yang munafik dan mana hamba-Nya yang berserah diri.'   * * *   Adam begitu resah setengah mati saat mendengar kabar dari Bi Inah bahwa Ariana terus saja berusaha mencelakai Aisyah. Ia semakin gelisah luar biasa ketika tahu bahwa Rinjani melawan Wanita itu secara langsung, tanpa bantuan siapapun. Do'a tak henti-hentinya ia panjatkan kepada Allah agar terus menjaga Puteri dan Isterinya. Bibirnya tak berhenti bertasbih menyebut nama-Nya setiap saat. Namun entah mengapa, airmata tak juga berhenti mengalir di wajahnya. Sebuah tepukan lembut membuat dirinya berbalik dan menatap orang yang menepuk pundaknya. "Assalamu'alaikum Saudaraku," sapa Ustadz Hamid, sahabat karibnya. "Wa'alaikum salam Akh...," jawab Adam, lirih. "Ada apa Akh Adam? Kenapa saya perhatikan sejak beberapa hari yang lalu sepertinya Akh Adam begitu tidak tenang? Ada masalah apa?," tanyanya. "Saya merasa membuat keputusan terbodoh dalam hidup saya Akh..., setelah delapan tahun melarikan diri sekaligus membawa lari Puteri saya, entah mengapa saya malah kembali mengirimnya ke sana hanya untuk memenuhi janji yang saya buat pada Isteri saya," Adam akhirnya mengungkapkan bebannya. "Nak Rinjani kembali ke rumah mertua Akh Adam??? Untuk apa hal itu dia lakukan???." "Untuk menjemput Ibunya agar bisa kembali bersama dengan saya Akh." Adam benar-benar tak mampu lagi menahan tangisannya, tak peduli siapa yang melihat, tak peduli bagaimana penilaian orang lain, ia hanya ingin menangis. "Astaghfirullah hal 'adzhim..., apakah Akh sudah cerita semuanya pada Nak Rinjani sebelum dia kembali ke sana?," tanya Ustadz Hamid lagi. Adam menggelengkan kepalanya. "Saya hanya mengatakan bahwa ada pengkhianat berwujud keluarga di dalam rumah itu, dan saya hanya mengatakan bahwa dia tak bisa percaya pada siapapun di sana," jawab Adam. "Ya Allah Akh..., sekarang kita sudah tak punya pilihan lain. Kita harus membantu Nak Rinjani agar bisa keluar dari sana bersama Ibunya dengan selamat. Kita harus segera melakukannya," saran Ustadz Hamid. "Baiklah Akh Hamid..., saya akan pikirkan dulu bagaimana cara yang baik, saya tidak ingin gegabah, saya ingin Isteri dan Puteri saya selamat kali ini," balas Adam.   * * *   Rinjani mengendap-endap masuk ke kamar Ariana saat tengah malam. Wanita itu sudah tertidur pulas, dia bahkan tak akan mendengar sekalipun ada bom yang meledak di sampingnya. Ia membuka laci-laci yang ada di kamar itu dan mencari apapun yang disembunyikan oleh Wanita itu. Tak peduli bagaimanapun ia terlihat saat ini, yang ia inginkan hanyalah membersihkan nama baik Ibu dan Ayahnya, serta membebaskan mereka dari belenggu masa lalu yang k**i. Ketika sebuah lemari terbuka, Rinjani menemukan sebuah tumpukan kertas tua yang terikat menjadi satu. Ia pun bergegas meraih tumpukan itu dan menyembunyikan di balik hijabnya yang panjang. Ariana menggeliat di atas tempat tidurnya saat Rinjani belum berhasil keluar dari kamar itu. Kedua mata Wanita itu hampir terbuka dan Rinjani hampir terlihat olehnya, ketika sebuah genggaman tangan yang erat menariknya untuk bersembunyi di balik tirai yang gelap di sudut kamar itu. Ridwan memberikan tanda untuk tetap diam pada Rinjani. Pria itu mengintip dan melihat bahwa Ariana sudah kembali terlelap dalam tidurnya. Ia pun segera mengeluarkan Rinjani dari kamar itu dengan cepat. Saat mereka hampir tiba di kamar Aisyah, Ridwan mendorong Rinjani ke dinding dan menatapnya tajam. Rinjani membalas tatapan Sepupunya itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Kalau kamu cari mati, harusnya kamu nggak perlu kembali lagi ke sini! Bunuh diri saja di tempat lain! Karena di sini kamu hanya akan terjebak dalam penderitaan tanpa kematian, sekalipun kamu mengemis untuk di bunuh!," tegas Ridwan, setengah berbisik. Rinjani menatap lebih tajam lagi. "Kamu mengintimidasi orang yang salah! Kalau kamu pikir aku akan ketakutan dengan ancamanmu itu, maka kamu adalah orang paling picik yang pernah aku temui! Ibumu itu Iblis..., jadi jangan coba-coba melindungi dia, atau aku akan membuatmu ikut menyesal bersamanya! Allah tidak tidur, dan Allah akan selalu memberikan balasan yang setimpal bagi orang-orang tercela seperti Ibumu!," balas Rinjani. Ridwan terdiam di tempatnya, Rinjani pun masuk kembali ke kamar Aisyah dan mengunci pintunya dari dalam. 'Aku tak berusaha melindungi Ibuku..., aku hanya berusaha melindungimu dan Bibi Ai..., Allah lebih mengetahui itu.'   * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD