Pintu kamar perawatan Ashana dibuka. Kedua orang tua serta kakak laki-lakinya masuk. Mereka mencari keberadaan Ashana di beberapa rumah sakit terdekat. “Dek!” panggil Minati pada anak perempuan satu-satunya. Ia terlihat begitu khawatir mendapati sang putri yang terbaring di atas ranjang. “Kamu nggak apa-apa kan, Dek?” Ashana mengangguk. Dilihatnya sang suami yang berniat untuk menyingkir. Wanita itu meraih tangan Rakyan dan menggeleng. “Jangan ke mana-mana, Bie. Di sini aja, ya. Pelase.” Rakyan mengikuti keinginann sang istri. Ashana tak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya di tangan Rakyan. Tak ada seorang pun anggota keluarganya yang mengajak laki-laki itu bicara. “Aku minta maaf, Shan,” ucap Akbar. “Aku sama sekali nggak bermaksud untuk melukai kamu.” “Sudah, Mas. Nggak apa-a

