Kening Rakyan mengernit tebal saat melihat keberadaan Mahendra di ruangannya. Siapa yang memebrikan izin laki-laki itu masuk ke ruangannya? Ada urusan apa ia datang menemuinya? Sama sekali tak menunjukkan sikap baik terhadap tamunya, Rakyan tetap duduk di kursinya. Mahendra duduk di sofa. Raut wajah Mahendra terlihat begitu serius. “Ada urusan apa lo ke sini? Kalau nggak ada yang penting, silakan keluar! Pekerjaan gue banyak dan nggak ada waktu untuk berurusan dengan orang seperti lo.” “Tolong tenang dulu. Gue datang ke sini untuk menyampaikan satu hal,” ucap Mahendra. Rakyan semakin dibuat bingung. “Kalau lo nggak keberatan, kita bisa ngobrol baik-baik di sini.” Mahendra menepuk sofa di hadapannya. “Gue akan kasih tau lo sesuatu.” “Tentang apa?” sahut Rakyan. “Kalau itu nggak menguntu

