Ashana masih mengintip dari balik tirai. Laki-laki itu masih duduk terpekur di atas aspal. Langit semakin gelap, pertanda sebentar lagi hujan akan segera turun. Beberapa halilintar pun sudah mulai saling bersahutan. Ashana tak bsia menampik kalau ia memang sangat mengkhawatirkan suaminya. Ingin rasanya ia menghampiri Rakyan. Namun, keinginan itu harus dikubur dalam-dalam mengingat betapa kejam pengkhianatan yang sudah dilakukan Rakyan padanya. Gerakan-gerakan dari dalam perutnya membuatnya merasa bahagia dan sedih secara bersamaa. Kedua anaknya sedang berusaha menunjukan kalau mereka dalam keadaan sehat. Mungkin mereka juga menyadari keberadaan sang Papa di dekat mereka. “Mama minta maaf, ya. Mama dan Papa sudah nggak bisa bersama lagi.” “Kamu nggak usah pikirkan soal dia,” ucap Hendra

