Menemui Roger

1063 Words
Rey telah membulatkan tekadnya untuk menemui Roger yang merupakan ayah Alinka. Hari ini, sejak tadi pagi dia menginjakkan kakinya di kota New York, Amerika Serikat. Pria tampan itu tidak perlu mengkhawatirkan tempat tinggal, karena dia mempunyai persinggahan di setiap negara, termasuk New York. Hari mulai sore, Rey bergegas untuk melakukan ritual mandi agar tubuhnya bersih. "Aku penasaran, apa yang akan terjadi nanti?" gumam Rey disertai kekehan. Rey segera bergegas menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dia menikmati setiap air yang mengalir membasahi tubuhnya. Itu sangat nikmat dan menyegarkan. Tak membutuhkan waktu lama, kini Rey telah selesai mandi dan bersiap memakai stelan jas mahal yang terkesan formal. Reg menyisir rambutnya di hadapan cermin seraya tersenyum misterius. "Jika aku tidak mendapatkanmu dengan cara halus, maka cara keji pun akan aku lakukan, Princess Alinka," ujar Rey dengan tatapan tajam. Setelah benar-benar siap, Rey langsung turun dari kamarnya menuju lantai bawah. Di sana sudah ada satu orang pria yang menunggu dirinya. Itu adalah Demian. "Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Demian. Rey mengangguk. "Tentu saja, ayo!" Demian mengangguk hormat, dia mempersilakan Rey untuk berjalan di depan, sementara dia mengekor di belakang. Mereka menuju halaman tempat mobilnya terparkir. "Lokasinya memerlukan waktu dua jam dari sini, Tuan," ujar Demian memberitahukan. Demian membukakan pintu untuk Rey, setelahnya dia masuk ke dalam mobil. Rey berdeham sebagai tanggapannya. Kemungkinan mereka akan tiba di saat waktu mulai berganti malam. "Cepat jalan!" perintah Rey. "Baik, Tuan," jawab Demian dengan ramah. Mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan rumah mewah tersebut. Rey kini terdiam menatap ke depan. Dalam hatinya, dia tak sabar untuk mengetahui apa yang akan terjadi ketika dia menemui Roger. *** "Sepertinya kau sedang sibuk, Princess," ujar Bryan yang menemui Alinka di ruang kerjanya. "Seperti yang kau lihat," jawab Alinka ketus. "Skip tidak ramah, aku beri bintang satu," timpal Bryan dramatis. "Kau seperti netizen yang mengomentari aplikasi ojek online saja," cibir Alinka. "Ternyata kau tahu juga apa yang sedang viral." Bryan mencibir balik. Bryan menarik kursi, lalu duduk di sebelah Alinka, melihat apa yang dikerjakan oleh wanita tersebut. Mereka itu sebenarnya bersahabat dan sudah menganggap sebagai saudara satu sama lain. "Bagaimana dengan Rey, masih menghubungimu?" tanya Bryan. "Iya, masih suka menghubungiku dengan sikap randomnya itu," jawab Alinka. "Sepertinya, kau juga tertarik padanya bukan?" Perkataan Bryan membuat Alinka menoleh ke hadapannya. "Aku tidak tahu, Bryan. Di saat bersama dia atau mendapatkan kabarnya aku kesal, sebal, tapi ada perasaan yang aneh di hatiku," ujar Alinka. Tanpa mereka ketahui, bahwa pintu ruang kerja Alinka sudah terbuka sejak tadi, dan Alexander tengah mendengarkan percakapan mereka juga. Niatnya, akan memanggil mereka untuk makan malam. Namun, topik yang dibahas lumayan menarik, dia lebih baik menguping terlebih dahulu. "Itu tandanya kau juga mempunyai perasaan pada Rey," timpal Bryan. "Itu tidak mungkin, baru beberapa hari saja aku mengenalnya. Apa aku semudah itu dalam jatuh cinta?" "Jika orangnya membuatmu nyaman dalam sikapnya yang meski aneh, kenapa tidak mudah?" Bukan Bryan yang berbicara, melainkan Alexander. Refleks Bryan dan Alinka menoleh ke arahnya dengan sedikit kaget. Sementara Alexander menampakkan ekspresi tak berdosanya. "Apa kau menguping, Xander?" tanya Alinka. "Ah, tidak," jawab Alexander mengelak cepat. "Lalu?" Alinka menatap Alexander tajam. "Hanya ikut mendengarkan. Aku ke sini untuk mengajak kalian makan malam. Ayo!" Alexander memaksa Alinka dan Bryan untuk berdiri. Mereka pun segera bergegas menuju meja makan untuk menyantap makan malamnya. *** "Benar ini kediaman Mr. Roger Rolando?" tanya Rey pada penjaga keamanan di mansion tersebut. "Benar, Tuan. Apa tuan sudah mempunyai janji dengan Mr. Roger?" Penjaga keamanan tersebut bertanya balik. "Sudah, katakan kalau Rey Wilson sudah datang," jawab Rey. "Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar." Penjaga keamanan itu segera bergegas masuk ke dalam mansion untuk memberitahukan kedatangan Rey pada atasannya. Sementara para penjaga keamanan yang lain masih terpaku di tempatnya. Mereka menatap Rey dengan takjub, karena pria itu lebih tampan aslinya daripada di media. Mereka mengetahui Rey sering hilir mudik di media, seperti televisi dan acara online-nya. "Tuan Roger menunggu Anda di dalam, Tuan. Mari saya antar!" Rey mengangguk. Dia dan Demian kini mengekor di belakang penjaga keamanan tersebut. Mereka masuk ke dalam mansion, Demian dipersilakan untuk menunggu di ruang tamu. Sementara Rey dibawa ke salah satu ruangan yang memiliki warna pintu berbeda daripada yang lain. "Tuan Roger ada di dalam, silakan masuk, Tuan," ujar penjaga keamanan tersebut. "Terima kasih," sahut Rey. "Sama-sama, saya izin pamit, Tuan." Rey mengangguk cepat. Kini, dia menarik napas panjang, lalu membuka pintu tersebut. Tampak seorang pria duduk di kursi membelakangi pintu. Rey tersenyum melihatnya. "Selamat malam, Mr. Roger," sapa Rey. "Selamat malam, Mr. Rey. Silakan duduk!" Roger mempersilakan Rey duduk tanpa menatapnya. Rey duduk di kursi berhadapan langsung dengan Roger. Pria paruh baya itu menatap Rey secara lamat, dia seperti mengenali wajah yang sama persis dengan Rey. Kini, mereka tampak basa-basi terlebih dahulu, hingga pada intinya. "Jadi, apa yang menjadi tujuanmu kemari anak muda?" tanya Roger. "Aku datang kemari ingin membicarakan tentang lamaran," ujar Rey. "Lamaran?" Roger mengangkat alisnya sebelah. "Ya, aku ingin melamar putrimu, Alinka Grethania Rolando," ujar Rey mantap. Roger menatap Rey dalam. Pria paruh baya itu benar-benar mengagumi keberanian Rey. Selama ini, tidak ada yang berani datang padanya untuk menyatakan hal tersebut. Rata-rata, orang yang mendekati Alinka akan kabur ketika mendengar betapa seramnya Roger. "Kau berani sekali menemuiku. Apa yang akan kau jamin jika bersama anakku?" tanya Roger. "Tentu saja aku berani, Mr. Karena, aku tidak ingin bermain-main dalam hubungan. Aku menginginkan hubungan yang serius. Tentang jaminan, tentunya jika harta, aku tahu bahwa kau sebagai ayahnya kaya raya, begitupun dengan Alinka. Maka aku takkan hanya menciptakan kebahagiaan melalui harta atau pun tahta, tetapi tentang kebahagiaan hati, yang akan selalu ada di samping hidupnya." Rey berbicara panjang lebar membuat Roger takjub. "Bagaimana jika aku tidak merestui putriku dilamar olehmu?" tanya Roger. Rey menarik napasnya pelan, lalu berkata. "Sepertinya, itu tidak akan terjadi jika melihat dari responmu padaku, Mr." "Sombong sekali," cibir Royland. Perbincangan pun terus berlanjut hingga pada akhirnya, Roger menyetujui jikalau Rey yang akan melamar Alinka. Terlihat dari keberanian Rey menemuinya, Roger tahu bahwa anak muda di hadapannya tengah sungguh-sungguh. Rey mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Alinka lalu memencet tombol video call. Tak berapa lama menunggu, akhirnya video call tersebut terjawab. Menampakkan wanita cantik idamannya. "Hai, Princess! Coba tebak, aku berada di mana?" tanya Rey. Alinka mengerutkan dahinya. Tatkala Rey memperlihatkan ruangan, Alinka seperti mengenalnya. Tebakannya benar, ketika Rey mengarahkan kamera pada Roger—sang ayah. "Hai, Sayang," sapa Roger. "Rey, kau sedang apa bersama papahku, hah?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD