Makan siang? Bagas melihat jam di pergelangan tangannya. Benda anti air itu telah menunjukkan pukul satu siang. Sudah sekitar dua jam Bagas cuap-cuap sendirian di makam mantan istrinya. Sudah tersenyum, kesal, dan berkisah panjang lebar seperti orang gila. "Zuhur, sudah?" tanya Windi lagi. Gadis di sisinya memang menakjubkan. Harusnya Bagas dicerca pertanyaan, tapi Windi malah mendahulukan hal penting yang Bagas butuhkan. Perutnya kini lapar. Bagas juga menggeleng, karena hujan azan terhalang masuk ke telinganya. "Kamu perlu berteduh." "Anda juga." Bagas tersenyum. Haru, suka cita. "Aku baik-baik saja." "Saya tidak,” balasnya datar. Bagas menyadari jika ia sudah menghilang dua hari dari sisi sang istri. Lelaki itu sempat menggaruk tengkuknya yang basah. "Nanti akan kujelaskan

