1. Gendis Dan Tangga Darurat

1054 Words
"Kamu nangis, Mbak?” tanya Gama ketika tanpa sengaja dia memergoki seorang staff administrasi duduk di salah satu anak tangga darurat kantor mereka. Perempuan yang Gama tau bernama Gendis, buru-buru mengusap matanya yang sembab dan memerah. Gegas beranjak berdiri dari duduknya. “Oh, enggak kok.” Mana mungkin mau mengakui secara jujur bahwa dia memang baru saja menangis. Lebih tepatnya menangisi pria yang selama ini begitu dia cintai. Gama hanya mengangguk tanpa ekspresi. Setelahnya lelaki itu melewati samping tubuh wanita itu begitu saja. Gendis mengembuskan napas lega, menatap punggung Gama yang menjauh dari pandangan matanya. Kembali wanita itu terduduk dengan lesu. Gara-gara Gama, dia harus menghentikan tangisan yang dapat meringankan segala beban yang menghimpit dadaa. Hati Gendis begitu hancur, akan tetapi perempuan itu enggan menangis lagi. Sudah nanggung karena air mata yang tadi mengalir deras, mendadak berhenti lajunya hanya sebab Gama. Bolehkah Gendis berterima kasih pada pemuda itu sebab kedatangan Gama yang tak terduga, secara otomatis menghapus tangisan yang sebenarnya tak ada guna. Namun, dengan menangis setidaknya Gendis dapat membuang sedikit rasa sakit hati pada suaminya. Setelah dirasa hatinya jauh lebih tenang dari sebelumnya, Gendis meninggalkan tangga darurat. Masuk ke dalam toilet untuk mencuci muka dan membenahi riasan wajahnya, sebelum ia pergi ke kantin untuk mengisi perut yang kosong karena belum makan siang. Waktu istirahat tinggal setengah jam lagi. Jadi Gendis harus buru-buru mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. “Elu dari mana aja, Dis?” tanya Gea yang mendapati sahabat sekaligus rekan kerjanya, baru memasuki kantin ketika jam istirahat hanya tersisa beberapa menit saja. “Dari toilet. Perut gue mules,” bohong Gendis. Mana mungkin dia bercerita pada Gea jika tadi baru saja nangis bombay di tangga darurat. “Ya udah sih buruan sana ambil makanan. Keburu habis jam istirahat kita.” Gendis menyeret kakinya menuju meja prasmanan. Di perusahaan ini memang para karyawan mendapatkan jatah makan siang. Sistem istirahat yang dibagi menjadi dua bagian. Untuk karyawan bagian produksi, diberikan waktu istirahat lebih awal. Baru setelahnya adalah karyawan di bagian staff seperti Gendis ini misalnya, yang memiliki waktu istirahat selama satu jam. Meski dia tak ada nafsu makan, Gendis tetap harus mengisi perutnya agar dia dapat konsentrasi bekerja. Setengah hari ini saja otaknya hanya dipenuhi seputar Gita dan Gilang hingga ia tidak ada semangat menjalani aktifitasnya. Yang lebih parahnya lagi ketika Gendis merasakan sesak di dalam d**a akibat ucapan Gita yang masih juga terngiang-ngiang di telinganya hingga tanpa sadar langkah kakinya menuju tangga darurat dan di sana lah Gendis menumpahkan seluruh kesedihannya agar tak ada orang lain yang mendekat. Sayangnya, tadi dia harus dipergoki secara tidak sengaja oleh Gama. Gama Evan adalah seorang pemuda yang usianya dibawah Gendis dua atau tiga tahun mungkin. Bekerja di kantor ini sebagai staff biasa sepertinya. Bahkan Gama juga berada di satu divisi yang sama dengannya dan juga Gea. Jika dikatakan hubungan mereka dekat, tidak juga. Gama terlalu pendiam dan jarang bergaul dengan rekan kerjanya. Hidupnya terlalu misterius. Sebenarnya Gama memiliki wajah yang tampan. Dan sebagai seorang berondong, Gama juga kerap mendapat godaan dari para wanita. Sayangnya, pemuda itu jarang menimpali. Begitu Gendis berbalik badan hendak kembali ke meja Gea setelah berhasil mengisi piringnya dengan makanan, tatapan matanya tanpa sengaja tertuju pada sosok pemuda yang baru saja singgah di kepala. Siapa lagi jika bukan Gama. Pemuda itu juga sempat menatapnya meski hanya sekilas karena setelahnya Gama memilih membuang muka. Menunduk menekuri kembali makanannya. Gendis mendengus kasar, lalu menyeret langkah kakinya menghampiri Gea. “Buruan makannya, Dis. Waktu istirahat kita lima belas menit lagi.” Gea dengan tidak tahu dirinya kembali mengingatkan. Bahkan wanita itu berkata tanpa harus repot-repot mengalihkan perhatian dari ponsel di tangan. Gea sendiri sudah selesai dengan sesi makan siangnya sehingga wanita itu bebas bermain ponsel menunggu waktu istirahatnya selesai. “Iya, iya. Bawel banget, sih!” Tak ada sahutan dari Gea. Baru juga Gendis menyuap satu sendok makanan ke dalam mulut, ponsel di dalam saku celananya berdenting menandakan sebuah notifikasi pesan ia terima. Gendis meletakkan sendok di atas piring, lalu merogoh saku celana. Meraih ponsel dan membuka aplikasi pesan. Helaan napas berat terdengar di telinga Gea. Perempuan berambut sebahu itu mendongak. Menatap Gendis dengan kernyitan di dahi. “Ada apa?” tanyanya selalu saja ingin tahu akan segala hal yang terjadi pada sahabatnya itu. “Nggak pa-pa. Mas Gilang pamit mau ke luar kota,” jawab Gendis tidak bersemangat. Wanita itu sudah meletakkan ponsel di atas meja tanpa berniat membalas pesan dari suaminya. “Lagi?” tanya Gea dan Gendis menganggukkan kepalanya. “Bukannya dua hari lalu suamimu itu baru pulang dari luar kota? Ini sudah mau pergi lagi.” “Ya gitu lah.” Gea mencondongkan tubuh lebih mendekat pada Gendis. Perempuan itu berbisik lirih agar tak ada orang lain yang mendengar. “Dis, elu nggak curiga gitu tahu suamimu sering pergi ke luar kota?” Gendis mengedikkan bahunya. “Curiga kenapa memangnya?” “Ya siapa tahu saja sebenarnya Mas Gilang enggak pergi ke luar kota beneran.” “Terus elu kira dia pergi ke mana?” tanya Gendis sok polos. Sebenarnya Gendis sudah memiliki ketakutan yang sama dengan apa yang baru saja Gea ucapkan. Plak! Satu pukulan ringan mendarat di lengan Gendis membuat si empunya meringis kesakitan. Meski pukulan itu pelan, tetap saja meninggalkan rasa panas di lengan. “Gea! Elu ngapain pakai pukul-pukul segala. Sakit tau!” “Ya elunya jangan polos-polos amat jadi wanita. Masak gitu aja nggak ngerti juga.” “Selingkuh maksud lu?” tebak Gendis begitu saja. Kepala Gea mengangguk-angguk membenarkan. “Ya itu maksudnya. Maaf, bukan gue mau sok ikut campur masalah elu atau nuduh Mas Gilang yang bukan-bukan. Tapi gue curiga, Dis, jika Mas Gilang ada sesuatu di luaran sana. Mana ada sih suami yang lebih senang pergi ke luar kota daripada di rumah sama bininya. Atau setidaknya kalau pergi ke luar kota, minimal elunya diajak sesekali.” “Minggu lalu kan gue juga baru saja diajak Family Gathering, Ge.” “Iya, tapi elu di sana hanya satu hari. Setelahnya Mas Gilang mulangin elu dan dianya balik pergi lagi. Apa sedikit pun elu nggak ada rasa curiga pada suamimu, Dis?” Gendis menghela napas panjang. Makin tidak nafsu saja menghabiskan makanannya. Ingatannya kembali terlempar akan kejadian beberapa hari lalu pada saat Gilang mengajaknya menghadiri Family Gathering yang diadakan oleh kantor tempat suaminya itu bekerja. Pengakuan dari seorang wanita yang membuat Gendis kepikiran hingga hidupnya jadi awut-awutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD