CBL-4

1154 Words
"Hikss..." Raisa terus saja menangis dan disela tangisnya ia juga menyendokan nasi sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. "Hikss.. hikss.." Wanita muda yang sedang duduk di sisi ranjang dan berhadapan dengan Raisa, ia menatap Raisa dengan iba. "Nona sudahlah.. tidak usah menangis lagi." Ujar wanita itu kepada Raisa dengan lembut. Raisa masih sesegukan, walaupun air matanya sudah tidak terlihat lagi. "Ini minumnya, Nona." Ucap wanita muda itu seraya memberikan segelas air ketika melihat Raisa telah menghabiskan makanannya. Dengan terpaksa karena dirinya memang merasa haus, Raisa pun menerima air itu dan langsung ia minum. Setelah semuanya selesai, wanita muda itu membereskan sisa piring dan gelas bekas Raisa. Namun seketika aktivitasnya itu terhenti saat Raisa bertanya padanya. "Sebenarnya Andre itu kenapa? Dan kenapa aku ada di sini?" Wanita muda itu mulai menatap Raisa gelisah. "Aku mohon jawab pertanyaanku, aku lihat kau sangat takut dengan temanku itu. Ada apa? Kenapa?" Tanya Raisa memohon, berharap wanita muda yang ada di hadapannya mau menjawab pertanyaannya. "Ma-maaf, Nona, saya ... saya tidak bisa menjawab. Karena saya ..." "Kau takut padanya?" Sela Raisa, menebak. Karena mendengar semua orang disekitarnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia formal, mau tak mau Raisa pun harus ikut menggunakan bahasa yang sama. Wanita muda itu terdiam. "Kau tidak usah takut, Andre itu baik, kok. Aku mengenalnya dan aku adalah teman kuliahnya dahulu. Namamu siapa?" Seloroh Raisa, berusaha untuk membuat wanita yang dirasa seumuran dengannya merasa nyaman, tidak gelisah dan takut lagi. Wanita muda itu menatap Raisa sendu. Tidakkah gadis itu tahu bahwa saat ini Andre yang ia maksud tidak sebaik yang ia kira? Sekarang Andre adalah seorang mafia, bahkan namanya pun bukan Andre lagi, melainkan Andrew Lingdon Kendrick. "Ayolah! Percaya padaku semua akan ..." "Pergi dari kamar ini atau kau akan tahu akibatnya Melisa!!" Bentak Andrew, tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam kamar yang Raisa tempati. Dengan perasaan takut yang tinggi, tanpa mempedulikan Raisa lagi, wanit muda yang diketahui namanya Melisa itu pun langsung melegang pergi sambil membawa nampan berisi piring dan gelas bekas Raisa tadi. Melisa pergi begitu saja dan langsung menuruti perintah Tuannya tanpa melawan. Andrew menghela nafasnya berat setelah Melisa pergi dari kamarnya. Sedangkan Raisa menatap kepergian Melisa dengan sedih, tapi itu hanya sebentar karena sedetik kemudian ia terpelonjak kaget lantaran Andrew menutup pintu kamarnya dengan sangat kasar hingga menimbulkan bunyi yang keras. Drak!! Atensi Raisa beralih kepada Andrew yang saat ini sedang mendekat ke arahnya. Dengan perasaan takut yang mulai menyelimuti dirinya, Raisa bersingkut di atas ranjang untuk menjauh dari Andrew yang mendekatinya. Lalu tanpa perasaan Andrew langsung menarik tangan Raisa dan membawanya ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Merasa dalam bahaya, Raisa pun mulai memberontak bahkan ia kembali menangis akibat perbuatan kasar dari Andrew yang tidak pernah ia duga akan dilakukan oleh laki-laki itu padanya. "Lepas, Dre!! Kamu ini kenapa?" Jerit Raisa, sembari berusaha untuk terlepas dari cengkraman Andrew. Andrew tak menjawab, ia malah sibuk menyiapkan air ke dalam bathup sambil masih mencengkram erat lengan Raisa. "Lepas, Dre, ini sakit!! Kenapa kamu jadi sekasar ini sama aku??" Tangis Raisa tidak dapat dibendung lagi. Bahkan bahasa formal yang tadi ia gunakan sudah menguap dan berganti menjadi bahasa yang biasa ia gunakan ketika berinteraksi dengan Andrew seperti saat masih kuliah dahulu. "Jika kau menurut, aku tidak akan berbuat kasar!!" Bentak Andrew, tanpa hati. Mendengar bentakan Andrew, Raisa langsung memejamkan kedua matanya dengan air mata yang semakin deras keluar. Jangan lupakan tentang cadar dan pakaian Raisa yang masih tertutup sejak pertama kali masuk ke apartement Andrew. Tanpa Raisa ketahui, sekuat hati Andrew tengah terus berusaha untuk mengeraskan hatinya agar tidak luluh ketika melihat wanita yang masih ia cintai menangis. Sungguh, Andrew akan terus bersikap seperti ini kepada Raisa agar Raisa menurut padanya dan tidak berusaha untuk memberontak lagi seperti tadi. Yang Andrew inginkan hanya agar Raisa tetap selalu ada di sampingnya bagaimanapun keadaannya. Andrew tidak akan pernah melepaskan Raisa karena di luar sana ada bahaya yang mengancam nyawanya. "Diamlah, Raisa!!" Bentak Andrew, lagi. Raisa tak menjawab, hanya isakan tangis yang terdengar dari mulutnya. Andrew menghela nafasnya, lalu melepas cengkramannya pada lengan Raisa dan beralih mematikan kran yang sudah terisi penuh oleh air di dalam bathup. "Mandilah!! Apa kau akan terus berpakaian seperti ini hingga besok?" Kali ini suara Andrew tidak lagi membentak, namun masih terdengar dingin. Raisa masih sesegukan dan mulai menyusut air matanya di balik cadar yang masih ia kenakan. "Kau jahat, Dre!! Aku membencimu." Kata Raisa, kembali menggunakan bahasa formal dan tanpa ragu kalimat itu terucap dari bibirnya dengan nada bergetar. Terlihat jelas bahwa saat ini gadis itu sedang terluka lahir dan batinnya akibat perbuatan kasar Andrew. Beberapa saat Andrew terdiam setelah mendengar ucapan Raisa yang membuat hatinya berdenyut sakit dalam diam, meskipun ekspresi wajahnya yang masih dingin. Setelah beberapa saat keduanya terdiam, Andrew pun memutuskan untuk melegang pergi tanpa menghiraukan Raisa yang kembali terisak di dalam kamar mandi. "Kenapa harus seperti ini?" .......... "Masih belum ditemukan." Ucapan Zack ini langsung membuat Andrew menoleh ke arahnya. Sore ini kedua laki-laki itu sedang berada di ruang utama apartement Andrew untuk membahas soal pencarian Ibu Andrew yang masih belum ditemukan. "Jika ibuku mengganti identitasnya di negara ini, tapi untuk apa itu dia lakukan?" Tanya Andrew, berpikir keras. "Aku rasa ibumu sudah tahu bahwa Xander akan kembali menjadi seorang mafia seperti kita." Jawab Zack, menebak. Andrew terdiam. "Alasannya mungkin tidak tepat, tapi aku rasa Ibumu memang memiliki firasat ke sana bahkan sebelum kematian Ayahmu terjadi." Lanjut Zack. Andrew masih terdiam. "Apa kau yakin akan menikahi gadis bernama Raisa itu?" Tanya Zack, tiba-tiba beralih topik. Andrew langsung kembali menoleh Zack setelah lama menatap lantai sambil berpikir keras tentang Ibunya. "Kenapa kau terus bertanya tentang itu?" Bukan menjawab, Andrew malah balik bertanya kepada Zack dengan nada sinis. Zack menghela nafasnya berat. "Aku rasa gadis itu pasti akan menolak, apalagi jika melihat sikapmu padanya yang terbilang cukup kasar, aku jadi ragu kalau dia akan menerimamu." "Apapun alasannya, mau tidak mau Raisa harus tetap menikah denganku besok." Zack menatap Andrew tak percaya. "Apa? Apa.. kau.. Drew.. apa kau benar-benar sudah gila? Haruskah secepat itu?" "Aku rasa kau tahu bagaimana Xander, dia tidak akan mungkin diam tanpa melakukan apapun. Jika aku tidak segera menikahi Raisa, maka akan semakin sulit untukku melindunginya. Dia tidak akan betah hidup denganku yang notabennya adalah orang lain baginya." Jawab Andrew. Zack terdiam mendengar itu. "Setidaknya jika aku sudah menjadi suaminya, dia akan menurut padaku. Karena dalam agamaku suami adalah surga dan neraka bagi seorang istri. Jadi istri harus patuh kepada suami." Seloroh Andrew, membuat Zack menyeringai. "Ohh.. jadi kau ingin benar-benar menjalankan hak dan kewajiban sebagai suami-istri setelah kalian menikah nanti?" Tanya Zack, menggoda Andrew. Andrew langsung menatap Zack tajam karena sepupunya itu telah bertanya hal yang tidak penting menurutnya. "Berhentilah bercanda, Zack!! Kau membuang waktuku!!" Kata Andrew ketus, sembari beranjak dari duduknya dan melegang pergi menuju ruang kerjanya yang berada di apartement. Sementara Zack yang melihat itu, ia hanya bisa terkekeh tak percaya jika benar besok Andrew akan menikah dengan gadis bercadar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD