LIMA

1069 Words
"Bima? Lo ngapain di sini?" Aku menghampiri Bima yang masih berdiri di depan lobi. "Baru pulang?" Bima malah balik menanyaiku. "Iya, tadi motor Aji sempet mogok, jadi pulangnya agak telat. Lo sendiri udahan nganterin cewek lo pulang?" "Hmm." Bima bergumam. "Cuma mampir makan bentar, terus langsung pulang." "Kenapa lo malah pulang ke sini?" Aku sengaja memancingnya. "Gak apa-apa, bosen aja di apartemen sendirian. Gue kira lo udah sampe daritadi, ternyata malah baru sampe." "Mau masuk dulu? Minum teh, kopi?" Aku menawarinya mampir seperti biasa. Dari dulu apartemenku memang sering dijadikan basecamp tongkrongan anak-anak kantor. Bima juga sering mampir ke apartemenku kalau sedang bosan. "Boleh deh, niatnya mau ngajak clubbing, tapi lo 'kan baru nyampe, masa udah pergi lagi." Aku dan Bima berjalan menuju unit apartemenku. Kemudian seperti di rumahnya sendiri Bima langsung ambruk di sofa kemudian menyetel televisi. "Capek banget gue! Bosen dengerin keluhan dia mulu. Tau sih, dia capek kerja, tapi emang gue enggak kerja juga?" "Emang kalian kenapa lagi? Berantem?" Aku bertanya sambil mencari-cari cangkir kopi di rak dapur. "Gak tau, deh! Katanya lagi kesel sama fotografernya. Dia ngeluh katanya fotografernya terlalu ini lah, terlalu itu lah. Emang dasar dianya aja yang keras kepala dan susah diatur." "Ya lo seharusnya sebagai cowoknya nasehatin dia lah, Bim. Kan, elo yang harusnya nunjukin dan ngarahin dia. Lo aja kayaknya gak pernah berani jujur bilang ke dia, cuma ngedumel depan gue." "Panjang urusannya kalo debat sama dia, Mel. Lo tau sendiri sifatnya gimana. Keras kepala, batu, gak mau kalah." "Tapi lo cinta sama dia." Aku menghampiri Bima sembari membawa secangkir kopi. "Lo cinta, tapi selalu ngeluh sama sifatnya. Lo cinta, tapi gak pernah mau negur sifat dia. Lo cinta, tapi lo diem aja." "Percuma Mel—" "Gak ada yang percuma di dunia ini Bim. Emang gak mudah ngerubah seseorang jadi apa yang kita mau, tapi setidaknya dengan lo ngomongin itu ke dia, lo berusaha ngebangun sesuatu yang positif di diri dia. Semua itu cuma perlu komunikasi sih Bim." Aku berlagak seperti pakar cinta, padahal aku sendiri saja masih kesusahan mengkomunikasikan perasaanku pada Bima. "Andai cewek gue punya pemikiran kayak lo ya, Mel, gue pasti gak bakal sepusing ini." Aku tersenyum sarkas. "Sayangnya lo gak akan pernah nemuin gue di diri orang lain Bim." "Iya Mel, gue tau." "Udah nih, minum kopinya, keburu dingin." Aku menyerahkan secangkir kopi kepada Bima. "Kok lo bikin kopi, sih? Besok gue kan harus bangun pagi." "Ya lo gak bilang mau minum apa." "Lo gak nanya, njir!" "Ya lo dateng langsung ngomel-ngomel, mana sempet gue nanya mau minum apa. Kalo lo mau yang lain, bikin aja sendiri! Capek gue." "Dih, jelek banget ngambeknya Mel!" "Bodo amat!" Aku menghempaskan diri di sofa, tepat di samping Bima, mengambil remot dan bantal kemudian mengusir Bima untuk enyah dari sofaku. "Lo udah makan? Mau sekalian gue pesenin makan, gak?" Bima bertanya sesaat setelah pria itu berpindah ke kitchen bar. Pria itu sedang berkutat dengan ponselnya, sepertinya sedang memilih makanan di aplikasi delivery online. "Gue udah makan tadi." "Sama Aji?" "Sama siapa lagi emangnya?" "Ditraktir makan apa lo sama anak baru?" "Kepo lo" "Gak kepo, cuma pengin tau aja." Aku memutar bola mata malas. "Sama aja Bim!" Aku memperbaiki posisi, "tadi makan nasi goreng di warung abang-abang pinggir jalan." "Romantis banget sih, Mel. Udah kayak adegan picisan di FTV." Bima sengaja meledekku. Aku sebenarnya tidak suka dengan ledekan Bima. Ucapannya itu semakin menunjukkan kalau dia seolah tidak ada rasa padaku, minimal seharusnya dia kesal atau cemburu. Atau memang sebenarnya Bima tidak pernah ada rasa padaku? Hanya aku yang kebaperan? "Bagus deh, biar makin deket." Aku menjawab asal. "Emangnya lo berniat deket sama Aji?" Aku terkejut ketika tiba-tiba Bima sudah berada di belakangku. "Ya ... kenapa enggak? Dia kan temen kantor kita, gak ada salahnya kalo gue mencoba deket, kan? Emangnya kenapa kalo gue mau mencoba deket sama Aji?" Bima diam sebentar, kemudian menjawab. "Gak kenapa-kenapa, sih." Bima mengangkat kepalaku dari atas bantal, menyuruh aku duduk yang kuturuti dengan sebal. Pria itu mengganggu posisi terenakku. "Sofa ini masih luas Bim, lo kalo mau duduk, bisa nyari tempat lain." Bima tersenyum jahil. Ternyata pria itu sengaja membuatku kesal. "Gue maunya duduk disini, kenapa?" Aku menepuk bantal sofa ke wajahnya. "Rese lu!" Bima tiba-tiba menyodorkan ponselnya ke arahku, membuatku menatap bingung ke arah benda pipih persegi itu. "Apa?" tanyaku padanya "Pilihin gue makan, gue bingung." "Lo yang mau makan, kenapa jadi gue yang repot!" Walaupun sambil misuh-misuh, aku tetap menerima ponsel Bima dan membantunya memesankan makanan. "Karena cuma lo yang paham selera gue. Apapun makanan yang lo beli, gue pasti suka." Aku tak menghiraukan kata-kata Bima. Lebih dari empat bulan dekat dengan Bima membuatku tahu apa makanan yang disukai cowok itu. Tanpa perlu bertanya, aku bisa dengan cepat memesankan makanan untuknya, dan Bima tidak pernah protes dengan makanan yang aku pesankan. Dia selalu suka karena semua makanan yang kupesankan adalah seleranya. Lebih gampangnya, selera makanku dan Bima sama, jadi aku dengan mudah memahami pria itu. Dalam banyak hal, Bima dan aku memiliki banyak kecocokan. Itulah yang membuat kami dekat. "Mel." "Hm." "Rasanya aneh denger lo bilang mau mencoba deket sama cowok selain gue, Mel." Kepalaku otomatis tertoleh ke arah Bima. Jariku yang daritadi sibuk menggulir layar ponsel Bima terhenti. Pria itu berbicara sambil menatap lurus ke depan, sama sekali tak menatap wajahku. "Maksud lo?" "Tadi lo bilang mau mencoba lebih deket sama Aji dan entah kenapa gue merasa terganggu dengan kata-kata itu." Pria itu tiba-tiba menoleh. Matanya tepat menatap iris mataku. "Rasanya kayak sesuatu ditarik paksa keluar dari genggaman gue. Jujur gue takut, Mel." Ada jeda sejenak sebelum Bima kembali melanjutkan ucapannya. "Gue takut keberadaan Aji mengancam kedekatan kita selama ini. Gue takut posisi gue digantikan sama Aji. Gue takut kehilangan lo Mel." Aku tertegun. Tidak bisa berkata-kata. Rasanya lidahku kelu untuk sekedar menjawab ucapan Bima. Seharusnya aku yang merasakan ketakutan itu, aku yang takut Bima menarik diri dariku, dan kembali ke pelukan pacarnya. Namun, mendengar Bima sama merasa takutnya denganku, membuat aku punya harapan baru. Pria itu punya rasa yang sama denganku, masih ada celah perasaanku dibalas olehnya. Saat keheningan terjadi di antara kami. Notifikasi dari ponsel Bima berdering, membuatku lebih dulu memutuskan tatapan mata kami. Aku membaca notifikasi pesan yang masuk dari ponsel Bima. "Dari cewek lo." Aku menyodorkan ponselnya pada Bina Bima menerima ponselnya dari tanganku. "Minta sleepcall," lanjutku. Aku memutuskan untuk beranjak dari sofa, meninggalkan Bima yang kini sibuk menanggapi telepon dari pacarnya. Rasanya menyakitkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD