10 | Beautiful Girl

1247 Words
Bahkan cantikmu, mampu membuatku menenggelamkan semua kelabu. -Raqa Abimanyu Dinata- ••• Raqa mengedar pandang ke seluruh koridor, terutama jalan menuju taman belakang sekolah. Untung sepi, jadi dia tidak harus sembunyi-sembunyi demi cewek bernama Nabilla ini. "Kakak kok kayak ketakutan gitu? Takut sama guru tadi ya? Hih, badan aja yang gede," cibir Nabilla. Raqa melotot tidak terima. "Gue nggak takut sama siapa pun. Terutama sama Bapak tua tadi!" Nabilla menggidikan bahu acuh, matanya mengamati dengan seksama buku gambarnya. Membolak-balik, dan menahan napas terkejut ketika menemukan noda pada gambarnya. "Tuh, kan, Kakak sih, coba nih liat! Buku gambar aku jadi kotor, gimana mau ngebersihinnya." Raqa mendengus keras. Ia tidak habis pikir pada sikap manja dan berlebihan Nabilla. Lagi pula, itu hanya buku gambar. Toh, robek saja kalau sudah rusak. "Mau gue bantu bersihin?" tanya Raqa. Anggukan pasti lantas dari Nabilla. "Bersihinnya pake apa?" tanya Nabilla polos. "Pake upil gue mau?" "Ih jorok!" Raqa tertawa puas hingga matanya tinggal segaris, tanpa sadar tangannya mengacak gemas rambut Nabilla, namun jangan sangka, Raqa mengakhiri acakan gemas itu dengan jambakan lumayan kasar pada ujung rambutnya. "Aduh, sakit! Kak Raqa kenapa aku dijambak?" sungut Nabilla membenarkan ujung rambutnya yang dijambak Raqa. "Lagian, siapa yang suruh lo cari masalah sama gue? Bocah manja!" "Aku enggak cari masalah, kakak duluan, kan tadi yang nabrak. Kok jadi nyalahin aku?" Nabilla menabok lengan Raqa berkali-kali, bahkan tanpa henti sampai mereka tiba di taman belakang sekolah. "Bisa berhenti nggak mukulin gue? Kita udah sampe, cepetan gambar sana! Dasar bocah, kayak anak TK aja masih ngegambar." Nabilla mengerucutkan bibir. "Nggak mau! Kakak bersihin dulu buku gambar aku." "Tuh, argh. Siniin buku gambar lu," pasrah Raqa. Nabilla pun menyerahkan buku gambarnya. Raqa menatap buku itu geram. Tiba-tiba ide jahilnya muncul. Hahaha. Raqa akan buat Nabilla lebih menderita dari sebelumnya. Lihat apa yang bakal gue lakuin sama buku gambar lu, cewek Manja, batin Raqa. "Malah ketawa, cepet bersihin dong kak. Biar aku bisa gambar nih." Raqa berdecak sebal. "Iya-iya. Tapi lo harus tutup mata." Nabilla mengernyit bingung. "Tutup mata? Emang kakak mau ngapain?" "Mau cium lu sampai nggak bisa napas," jawab Raqa seadanya. Nabilla langsung mundur beberapa langkah seraya membekap mulutnya. Melihat ekspresi Nabilla yang ingin menangis, Raqa buru-buru berkata, "Ya mau gue bersihin buku gambar lo lah. Cepet tutup mata." Nabilla mengelus d**a lega, meski sempat gugup dibuatnya Nabilla akhirnya menganggukan kepala. Cewek itu kemudian menutup mata, setelah memastikan Nabilla tidak curiga, Raqa maju beberapa langkah hingga jarak mereka terpaut dekat. Raqa membungkuk, sampai tatapan mereka sejajar, Raqa menatap setiap lekuk wajah Nabilla. Satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan, bahwa Nabilla itu cantik. Tapi sayang, menyebalkan. "Kakak udah belum?" tanya Nabilla. Setelah sepuluh detik berlalu. "Belum. Jangan buka sebelum gue suruh." Nabilla menggangguk lagi, Raqa tersenyum kecut, tak lama terdengar sobekan kertas. Bersamaan dengan itu juga, Raqa bersuara ups! Lantas Nabila membuka matanya. "Sorry," ujar Raqa malas. Bibir Nabilla manyun, persis seperti anak bayi yang ingin menangis. Cewek itu menahan air mata melihat satu halaman bukunya terbagi menjadi dua. "Kok disobek? Katanya mau ngebersihin. Huwaaa. Bundaaa gambaran aku disobek kak Raqa, Bunnn. Kak Raqa jahat!" Nabilla mencak-mencak, dia menghentakkan kaki sambil menangis. "Gue nggak pernah ngomong gue baik." Raqa masih tidak peduli pada tangis Nabilla. Cowok itu membuang sobekan buku gambarnya di bak sampah terdekat. "Kakak jahat! Bunda, hiks. Kakak ih kenapa buku aku dirobek? Itu gambarnya susah tau! Aku begadang bikinnya, hiks. Pokoknya gambar lagi. Aku nggak mau tau!" "Gue males." "Yaudah nangisnya dikencengin. Haaa." Nabilla menangis sekencang mungkin seraya menutup mata. Raqa meringis sambil menutup telinga, suara cempreng milik Nabilla membuat kupingnya sakit. "Aduhh. Diem! Sakit telinga gue bocah!" "Haaa." Nabilla justru mengencangkan tangisnya. "Haduh. Berisik!" Raqa mengacak rambutya frustasi, tidak punya pilihan, ia akhirnya mendekati Nabilla dan memeluk cewek itu. "Cup, cup, cup." Raqa menepuk puncak kepala Nabilla, menenangkan. "Aku bukan bayi," sungut Nabilla dalam dekapan Raqa. "Kalau lu bukan bayi udah berhenti nangis atau gue cium lu sampai nggak bisa napas, mau?" Dalam diam Nabilla menggeleng, tangisnya perlahan berhenti, tapi degup jantungnya malah tidak bisa diajak kompromi. Cewek itu diam-diam tersenyum, merasakan pelukan hangat dan parfum cowok itu yang terlalu harum. Raqa lekas mengurai pelukannya. "Keenakan lu gue peluk?" Nabilla nyengir singkat. "Hihi.Kakak tunggu di sini, jangan kemana-kemana. Aku gambarnya bentaran aja," ujar Nabilla, mengambil kembali buku gambarnya dari tangan Raqa. Raqa pun mengangguki saja, mereka duduk di tepian taman beralaskan rumput. Angin sejuk sangat menghangatkan suasana. Tapi tidak untuk Raqa, dia mendengus berkali-kali takut nyamuk menggigitinya. Sedangkan Nabilla, dia tersenyum menatap jejeran bunga sesekali mengetukkan pensil ke dagu. Cewek itu nampak antusias, tangannya cekatan menggambar tiap lekuk kelopak bunga di sana membentuk sketsa. Raqa cukup pintar dalam membedakan situasi ini, jelas, jika sedari tadi ia salah fokus menatap ke arah Nabilla. Cowok gila mana yang tidak bisa membedakan mana cewek cantik mana cewek jelek. Apalagi tubuh Nabilla pendek dan mungil, membuat siapa saja gemas dan ingin mengurungnya ke dalam pelukan. Mengingat kesehariannya menghabiskan waktu di club malam, meminum alkohol dengan jumlah banyak lalu pulang dengan keadaan mabuk berat. "Kakak kenapa liatin aku kayak gitu?" Nabilla memiringkan kepala. Raqa yang sedari tadi melamun tersadar, ia memalingkan wajah salah tingkah. "Gue nggak ngeliatin lu. Cepet gambar sana! Biar cepat pulang." "Pulangnya bareng aku, kan?" "Nggak!" "Mau dong. Kalo nggak aku nangis aja, ha-emm." "Iya-iya. Lu pulang bareng gue! Puas?!" ucap Raqa seraya membekap mulut Nabilla. Apalagi, kalau bukan respon cewek berambut sebahu itu tersenyum lebar. Kapan gue bisa lepas dari nih bocah manja? Kapan? Batin Raqa. -Raquilla- "Kak?" "Apaan?" "Minjem ponsel boleh nggak? Aku mau ngabarin Bunda kalau aku pulangnya sama Kakak." "Kenapa nggak pulang sama Bunda lu aja, t***l!" geram Raqa. Mereka sudah berada dalam mobil cowok itu, ditemani lagu Then There's You milik Charlie puth mengalun dengan volume sedang. Nabilla meninju pelan lengan Raqa. "Baterai aku habis, mana bisa nelpon Bunda ih. Kalau bisa pun, aku dari tadi minta jemput sama Bunda. Bukan bareng Kakak tau." Raqa menaikkan alis terkejut, pasalnya, ia mengira Nabilla sengaja mengajaknya pulang bareng. Tapi ternyata, baterai ponsel cewek itu habis. Raqa berdehem singkat, sedikit merasa geer, tepat ketika lampu jalan berwarna merah Raqa mengeluarkan ponselnya dari saku. "Nih." "Horee." "Jangan lama-lama, pulsanya abis, lu yang ganti." Nabilla tertawa menampilkan gigi putihnya yang berderet rapi. "Siapa yang mau make pulsa Kakak?" "Terus lu mau ngapain?" "Mau chat Bundalah." "Sama aja, b**o. Gue beli kuotanya pake pulsa." "Hah? Bukannya beli kuota pake duit?" Nabilla tercengang. Raqa mengusap wajah frustasi, keinginan mengarungi Nabilla lalu menendangnya jauh hingga nyangkut di pluto semakin tinggi. Raqa akhirnya diam tidak menjawab, memilih fokus menyetir karena lampu sudah berganti hijau. Perjalan pun diselimuti hening, keduanya sama-sama diam, Nabilla menikmati lagu yang diputar di mobil Raqa sedangkan cowok itu fokus pada aktivitas menyetirnya. Namun, siapa tau jika Nabilla dari tadi mengamati wajah ganteng milik Raqa. Pikirannya pun mulai berkelana kalau mereka adalah dua tokoh utama dalam novel remaja. Senyum Nabilla pun terbit tanpa di duga. -Raquilla- "Sampe, cepetan turun!" ucap Raqa ketika mobilnya berhenti tepat di depan rumah mewah berpagar hitam. Cowok itu sempat dibuat terkagum karena desain rumah Nabilla yang begitu memanjakkan mata. Mulai dari halaman luas yang dipadukan taman berbagai bunga, dekorasi antik di bagian pintu serta corak berwarna putih seolah memancarkan cahaya. "Iya nih, aku turun. Btw, makasih Kak ponselnya. Hehe." Raqa hanya memutar kedua bola malas, dia menutup pintu mobil dengan setengah membanting. Nabilla tersenyum lebar, dia senang sudah memasukkan nomornya ke ponsel Raqa dan menghapal nomor cowok itu. Hahaha. -Raquilla-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD