Alasanku menyakitimu adalah keegoisan, bukan sekedar paksaan menahan kekhawatiran. Lalu, bagaimana jika simpatiku tergerak untuk membantumu?
-Raqa Abimanyu Dinata-
•••
"NABILLA!"
Juan, Ragil, dan Gheral bergegas menghampiri Nabilla. Namun Raqa, tetap diam saja seolah tidak terjadi apa-apa, cowok itu menghela napas lalu menepis lingkaran tangan Tamara dari lehernya.
"RAQA! BANTUIN WOY!" teriak Juan. Sementara Ragil dan Gheral berusaha membangunkan Nabilla dengan menepuk berkali-kali pipi cewek itu.
Raqa mendekat, bukan membantu tapi malah bersedekap. "Biarin aja, gue nggak peduli. Itu lo bedua mending minggir. Kita liat seberapa lama tuh bocah buat pura-pura."
"t*i aja lu Rak piring. Nabilla beneran pingsan oi!" kekeh Ragil.
Meski begitu, respon Raqa tetap sama, acuh, menggidikan bahu ketika Tamara kembali bergelayut di lengannya. Entah kenapa ia belum puas melihat Nabilla menderita. Bahkan, ia rela mengambil resiko soal ancaman Pak Gusti. Toh, beliau tidak ada di sini. Jadi, nikmati aja dulu sambil leha-leha ugha.
"Akhirnya lu sadar ya, Raq. Jadi ketua OSIS itu susah, bikin capek. Mending kita buat rencana malam ini," ujar Tamara. Raqa tidak merespon, malah fokus melihat ketiga temannya yang gelagapan membangunkan Nabilla.
Namun, sepertinya takdir senang sekali mempermainkan kesenangan Raqa. Suara deheman serak khas pria paruhbaya segera menepis jauh senyum kecutnya. Tergantikan oleh dua bola matanya yang hampir membulat keluar.
Raqa mendengus, ia menyadari jika Pak Gusti tengah menatapnya penuh ancaman di tepi aula. Rupanya, Arga tidak main-main. Raqa dibuat seperti tahanan yang harus diikuti kemana pun dia pergi.
Ketika Ragil hampir saja membopong Nabilla, Raqa bergerak maju setelah menepis kasar tangan Tamara. Hingga akhirnya, Raqa berhasil mendekati Ragil lalu merebut punggung cewek itu. Secara perlahan, menyelipkan tangannya di antara lipatan lutut dan tengkuk Nabilla.
"Biar gue yang bawa dia ke UKS, lu minggat aja sana!" ujar Raqa. Lantas saja ketiga temannya itu saling berpandangan, heran.
"Bentar," Juan menahan lengan Raqa. "Gue ragu, kenapa lo tiba-tiba mau?"
"Bukan urusan lo," ketus Raqa.
"Percaya aja dah nyet sama Raqa, palingan habis ini kumat lagi emosinya," ucap Ragil. "Kali ini, gue jamin Nabilla bakal mati sia-sia."
Raqa enggan menjawab, dia berjalan santai sambil menaruh badan Nabilla ke bahunya, persis seperti penculik yang sedang menangkap anak kecil. Sekarang fokusnya hanya dua, bagaimana cara keluar dari kurungan Arga dan memutus tali yang membuatnya terikat dengan Nabilla.
-Raquilla-
"Cath, cepet sediain kompres sama minyak kayu putih." Raqa bergegas merebahkan tubuh Nabilla ke brankar. Cowok itu terlihat cemas dengan kedua tangan yang mengapit tangan Nabilla. Menggeseknya berulang kali seolah memberi kehangatan di sana.
"Bentar-bentar, aduh ... gue lupa ini naruhnya dimana? Emang tuh anak kenapa lagi?"
"Gue bukan minta lo nanya."
Cathrine berdecak sesaat, lalu ketika menemukan minyak kayu putih ia langsung menyodorkannya pada Raqa.
"Nih."
"Lelet amat!"
"Iye tuh gue usahain, untung ketemu." Ada jeda sesaat, tepatnya ketika Chatrine sibuk menyiapkan kompres air dingin. "Udah-udah deh Raq, lu nyakitin anak orang. Kemaren Yura, sekarang mau siapa lagi?"
"Bacot! Gue nggak minta lo ngomong. Cepetan mana kompresnya?!"
Cathrine berdehem singkat, isyarat malas berdebat dengan Raqa. Selang waktu kemudian, Cathrine mendekat dengan mangkuk berisi air dingin dan handuk kecil. Menaruhnya di nakas samping brankar.
"Biar gue aja, lu pasti kasar. Geseran dikit."
Pipi Raqa berkedut kesal, ia bergeser sedikit memberi ruang untuk Cathrine mengompres Nabilla.
"Duh, kok badannya panas. Lu jemur apa lu panggang ini anak? Manis-manis gini dibikin item. Sana deh lu, Raq. Bentar lagi peserta disuruh ngumpul, kan?"
"Nggak!"
"Lho, kok?"
"Gue batalin aja."
"Seenak jidat lo, anjir. Bertanggung jawab dikit napa?"
"Males. Gue nggak pernah niat tuh jadi ketua OSIS," jawab Raqa seadanya.
"Setidaknya lo jalanin. Mereka diluar butuh lo."
"Tapi gue nggak butuh mereka."
"Raq," sela Cathrine. Ia menatap Raqa intens.
"Apalagi? Banyak bacot lu ah."
"Yura-"
"Jangan sebut nama Yura di depan gue! Lo lupa? Keluar sana!"
Cathrine terkesiap, dia menelan ludah kasar. Jika Raqa sudah marah besar Cathrine angkat tangan. Cewek itu akhirnya keluar setelah melempar handuk tadi ke muka Raqa.
"Kompres tuh Nabilla sampai sehat!"
Raqa bisa saja menjitak kepala Cathrine jika cewek berseragam sama dengannya itu tidak bergegas keluar. Raqa mendengus, dipijatnya pelan pangkal hidungnya. Cathrine sialan, ia hampir menangis ketika mengingat Yura. Cewek itu, entah dimana ia sekarang.
Raqa menggeleng cepat, berusaha mengeyahkan sekelebat bayangan Yura di kepalanya, Raqa mencelupkan handuk tadi ke dalam mangkuk yang sudah berisi air dingin. Lalu, menempelkannya ke dahi Nabilla.
"Lu juga bocah manja, siapa sih lu? Datang-datang langsung ngerecokin hidup gue?" tanya Raqa pada Nabilla, padahal cewek itu belum siuman.
"Enak aja gue disuruh ngobatin lu. Lu tau nggak? Gue nggak pernah kasian sama siapa pun, termasuk lu!" tanya Raqa lagi, kali ia seperti orang gila yang berbicara sendiri.
Mengusap wajah gusar, Raqa beranjak dari duduk, namun sebuah tangan menahan lengan seragamnya.
"Bundaa ... "
Panggilan itu membuat Raqa kembali menoleh. Keningnya mengerut.
"Bunda ... Nabilla takutt."
Bibir cewek itu gemetar, begitu juga tangannya, wajahnya pucat pasi, meski begitu Raqa bersikeras melepas tangan Nabilla yang mencengkram seragamnya kuat.
"Lepas nggak?!"
"Bundaaa."
"Gue bukan Bunda lu!"
Raqa semakin heran ketika Nabilla bergumam saat tidur, matanya terpejam, entah cewek itu pura-pura, tapi dari mimiknya Raqa yakin Nabilla sedang ketakutan.
Mendekati brankar, berusaha melepas cengkraman Nabilla dari seragamnya, Raqa justru mendapatkan pelukan tiba-tiba.
"BUNDAA... HAAA... BUNDA NABILLA DIHUKUM. BUNDA NABILLA TAKUTTT." Nabilla berujar takut, memeluk Raqa bahkan sebelum cowok itu duduk di tepi brankar. Masih berdiri, dengan tangan Nabilla melingkar di perutnya.
"Lo apaan sih?! Lepas nggak?!"
"Nggak mau! Haaa. Bunda jangan pergi. Nabilla takut dihukum lagi sama kakak ganteng itu. Huwaa, Bunda kok bau keringat, sih?"
Raqa terkekeh. "Nab, ini gue! Bukan Bunda lu!"
"Hah?"
Nabilla mendongak, memicing, setelah sadar itu Raqa, Nabilla bukannya melepas pelukannya namun malah memeluknya lagi.
"Ini gue t***l. Lo ngapain peluk-peluk? Lepas nggak!"
Nabilla menggeleng. "Nggak mau!"
"Gue cium mau lo?"
Nabilla mengangguk. "Mau."
"Lu gila yak!"
"Kakak ganteng sih. Harum lagi."
"Lu nggak, jelek, bau lagi."
Nabilla mengerucutkan bibir, dia bersedekap, mukanya ditekuk, ngambek. "Nabilla itu cantik tau. Ish."
Raqa memutar bola mata malas. "Mana ada cewek jelek ngaku jelek."
Bibir Nabilla makin manyun, seperti menahan tangis. Dan benar saja, tidak lama kemudian cewek itu menangis.
"Bundaaa Nabilla dikatain jelekkk. Hiks. Kak Raqa jahat. Bunda haaaaa-"
"Cengeng. Ngapa sih lu nangis-nangis. Kayak SD tau nggak?!"
"Nggak! Haaaaa."
"Eh, malah dikencengin. Diem!"
"Enggak. Mau. Pokoknya kak Raqa ambilin aku minum dulu, baru berhenti nangis."
Raqa mengernyit, enak saja dia disuruh seperti babu. Andai saja Nabilla bukan cewek, pasti babak belur dah.
"Manja. Ambil sendiri sana."
Nabilla menyeka air matanya. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam berdiri di ambang pintu, Nabilla tersenyum kecut, namun Raqa tidak menyadarinya, seketika ide brilian muncul.
"Deket kok tuh di belakang kak Raqa. Ada teko sama gelasnya sekalian. Tinggal tuang terus dikasih ke aku."
"Males."
"Masa gitu? Yaudah aku nangis aja lagi. Haa-emm." Tangis Nabilla terhenti, karena Raqa membekap mulutnya dengan tangan. Nabilla mengerjap, kaku, jantungnya dag dig dug tidak karuan.
"Iya-iya gue ambilin," pasrah Raqa. Nabilla tersenyum puas meski berderai air mata.
Namun baru saja berbalik, Raqa mendapati Pak Gusti tengah berdiri di ambang pintu seraya bersedekap. Oleh karenanya, Raqa mendengus keras dan menutup pintu UKS dengan tendangan.
Nabilla terkesiap. "Kak Raqa pelan-pelan bisa dong. Nendangnya nggak usah pake urat juga."
Tidak menjawab, Raqa kembali dengan segelas air putih di tangannya.
"Nggak usah bawel lu! Nih minum," ujarnya, Nabilla menerima seraya tersenyum.
"Makasih, hehe. Kak Raqa baik deh, tapi lebih baik lagi kalau nggak ngehukum aku kayak tadi. Kan gini jadinya," ucap Nabilla.
Entah mengapa kalimat Nabilla menarik perhatian Raqa untuk menatap cewek itu.
"Pertama, kak Raqa lempar muka aku pake proposal. Kedua, kak Raqa hukum aku nyabutin rumput. Ketiga, kak Raqa suruh aku berdiri di depan aula sampai pingsan." Ada jeda sejenak, Nabilla mengusap dagu, berpikir. "Keempat ... "
"Keempat, gue pastiin lo masuk rumah sakit."
Nabilla mendongak takut. "Hah? Haaaa nggak mauuuu. Kak Raqa jahat, entar aku bilangin sama Bunda."
Berbeda dari respon sebelumnya, ada gelitik kecil dalam diri Raqa yang justru membuatnya tertawa. Entah itu senyum manis Nabilla atau rengekannya, yang pasti Raqa harus menahan geli jika bersama cewek ini.
"Kok ketawa, sih?" tanya Nabilla, menghentikkan rengekannya.
Raqa masih memegangi perut untuk menahan tawanya. "Lo lucu."
Saat Raqa meredakan tawa, cowok itu menangkap rona merah di pipi Nabilla. Cewek itu menunduk.
"Bukan lo yang lucu, tapi gigi lo."
Bersamaan setelah itu Nabilla ngambek, kepalanya di tekuk lagi. "Apa coba yang lucu dari gigi aku?"
"Gigi lo ... kayak kelinci. Hahaha."
Setelah itu hanya tawa Raqa yang memecah hening, sementara Nabilla berulang kali menabok lengan Raqa.
-Raquilla-