Doni tersenyum lebar kala nomor istrinya tertera di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang dia langsung mengangkatnya. Semua pekerjaan yang sedang dia lakukan ditinggalkan begitu saja karena ada hal yang lebih penting. “Halo, sayang. Tumben banget jam segini nelpon-nelpon... kangen ya?” tanyanya dengan nada menggoda. Punggungnya dia sandarkan dengan nyaman ke kursi kerjanya. “Apaan sih, Mas. Bukan itu tahu.” “Terus kenapa?” “Ini lho Mama bilang nelpon kamu tapi kok nggak diangkat-angkat. Sibuk banget ya sampe nggak bisa ngangkat telepon Mamanya sendiri?” Doni langsung terdiam. Dia tidak menyangka Mamanya akan bertindak sampai seperti ini karena tak kunjung mengangkat teleponnya. Ya, Doni memang sengaja melakukannya karena dia yakin Mamanya hanya ingin membahas Diana. Dia tidak mau peras

